Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
177 Seperti Kakak Beradik Kandung


"Tolong bujuk Dhea untuk mau bertemu dengan ibunya."


"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa."


Pria itu mengangguk. Setelah pria yang bernama Danar itu pergi, mereka bertiga menghela nafas. Arya langsung masuk ke ruangan yang ada di sebelahnya.


"Bagaimana menurut kalian?"


"Ya kita harus bertemu dulu dengan bu Wati itu."


...💦💦💦...


Dhea menyuapi ibu panti. Kondisi ibu masih belum membaik, masih harus dirawat di rumah sakit. Tensinya sangat rendah. Anak panti yang lain memotong buah untuk ibu, juga untuk Dhea.


"Kalian istirahatlah, ibu baik-baik saja."


"Jangan khawatirkan kami, ibu yang seharusnya istirahat agar cepat sembuh dan berkumpul lagi dengan kami di rumah."


"Maafkan ibu, ya, yang sudah menyusahkan kalian semua."


"Ini ini bicara apa, sih? Seharusnya kami yang berterima kasih, karena sudah merawat kami sejak kecil. Semua itu tidak mudah, Bu. Tidak ada ibu satu hari saja, kami sudah merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Apalagi saat mengurus adik-adik. Ternyata tidak mudah apa yang ibu kerjakan. Bukan hanya sehari dua hari, tapi bertahun-tahun ibu membesarkan kami semua. Tidak pernah kami mendengar ibu mengeluh."


Siapa pun yang mendengarnya, pasti akan merasa terharu. Ya, hanya orang tertentu saja yang sanggup seperti ini. Membesarkan banyak anak yang bukan anak kandungnya sendiri. Membesarkan satu dua orang anak kandung saja, kadang ada saja ujiannya.


"Ibu adalah panutan kami. Jadi cepat sembuh. Kami masih membutuhkan ibu. Membutuhkan kasih sayang dan perhatian ibu."


"Terima kasih ya, anak-anak ibu. Kalian semua anak-anak yang baik."


Dokter Bram terenyuh mendengarkan di balik pintu.


Semoga kita bisa bertemu lagi, anak papa. Dan untuk kamu yang sudah ada di sisi-Nya, papa akan selalu mendoakan kamu.


"Ya ampun, kalian berdua mengagetkan saja!"


Bram menggelengkan kepalanya saat melihat ketiga anak laki-laki itu.


"Ya kenapa papa berdiri di depan?"


"Sudahlah!"


Mereka berempat masuk, dan pura-pura tidak mendengar apa yang tadi dibicarakan oleh Dhea dan yang lainnya.


"Aku bawa banyak buah."


"Makasih banyak, Nak Vean."


"Jangan makasih, Bu. Saya juga anak ibu."


"Masalahnya, ibu mau gak, anggap kamu anak?" tanya Juna.


Ibu tertawa.


Ibu senang, Arya dan Dhea bisa mengenal orang-orang baik seperti mereka. Ibu juga berdoa semoga adik-adik kalian bisa hidup bahagia. Kalian semua anak-anak baik yang kurang beruntung.


Ibu menatap Dhea. Ada perasaan sedih saat melihat anak perempuan itu. Hidup Dhea yang berat, tapi sangat mandiri dan berhati baik.


Ibu doakan, semoga kamu bisa bertemu dengan keluarga kandung kamu. Kamu anak yang baik, Dhea.


Ibu lalu menatap Arya. Dia juga sangat menyayangi Arya. Menatap keduanya, ibu merasa Dhea dan Arya itu justru seperti kakak beradik kandung sungguhan. Dia yang membesarkan keduanya, jadi sangat tahu betul bagaimana Dhea dan Arya.


Ya Tuhan, tolong pertemukan keduanya dengan keluarga kandung mereka. Dan semoga saja aku bisa melihat kebahagiaan mereka.


"Ibu jangan banyak pikiran, ya," ucap dokter Bram yang melihat pandangan mata yang menerawang itu. Seperti banyak pikiran.


"Saya sudah meminta orang untuk membantu di panti. Jadi jangan mengkhawatirkan anak-anak."


"Terima kasih banyak, Dokter Bram. Dokter sudah banyak membantu anak-anak di panti."


"Tidak masalah, Bu. Saya juga memiliki anak."