Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
131 Ayo Bersama (Revisi)


"Bu, Bu, tadi Dhea ke sini?"


"Dhea? Memangnya Dhea sudah kembali?"


"Tadi kami bertemu di rumah sakit. Dia bersama Arya."


"Arya? Jadi Arya Sidah bertemu dengan Dhea?"


"Ibu juga kenal dengan Arya? Arya itu siapanya Dhea?"


"Kakaknya Dhea, yang dulu sering ke sini mengunjungi Dhea."


Kakak?


Vean menghela nafas. Dia bari ingat kalau Dahlia pernah beberapa kali menyebut nama Arya. Bahkan dulu juga Dhea pernah menyebut nama pria itu.


Apa jadinya kalau Dhea tahu bahwa Arya telah mendonorkan ginjalnya padaku? Apa dia akan membenciku? Apa dia akan menjauh dariku?


Vean jadi ketakutan sendiri. Rasa cemas yang berlebihan membuat pria itu tidak berani, bahkan takut untuk bertemu dengan Dhea.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Vean melihat kedekatan Qya dengan Arya, dan bagi Vean, gadis itu seperti menghindari dirinya.


Vean merasa cemas saat Juna mengatakan Dhea ada di rumah sakit, padahal baru tadi malam dia mengantar gadis itu ke kosannya yang baru.


Melihat bagaimana khawatirnya Arya saat Dhea masuk ke rumah sakit. Bahkan pria itu tidak masuk kerja hanya demi menunggui Dhea di sana, membuat Vean cemburu.


Dulu, hanya ada aku di matamu.


Hanya ada aku di hatimu.


Apa sekarang semua telah berubah?


Apa kini semuanya tak sama lagi?


Dan sekali lagi, kamu menghilang ....


Meninggalkan luka yang semakin menganga lebar.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Dhea, sekarang aku sedang berada di Swiss. Entah kenapa, sejak datang ke sini, aku selalu teringat akan dirimu.


Aku rindu ....


Vean menangis di dalam kamar hotelnya. Menepuk-nepuk dadanya yang terasa mengganjal.


Aku bertahan demi kamu, tapi semua terasa hampa.


Sejak berada di sini, aku selalu ingin makan coklat. Sudahkah kamu makan coklat hari ini?


Di salah satu kafe ....


Sayang, aku merasa seolah aku melihat dirimu. Seolah aku mendengar suaramu. Seolah kita sedang bersama saat ini. Aku rindu kamu. Sangat rindu ....


Vean memang selalu merasa melihat Dhea, dan seolah mendengar suara Dhea yang tidak jauh darinya. Bahkan, merasakan aroma gadis itu.


Apa jadinya aku tanpa kamu? Kapan kita akan melihat langit yang sama lagi? Kapan rasa rindu ini tertawarkan?


Selama beberapa hari ada di sini, semakin Vean merasa tak tenang. Rasa gelisah yang menyesakkan hati.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Sekali lagi kamu kembali, dengan tiba-tiba. Seperti dulu.


Apa kamu tahu? Selama beberapa tahun ini, tidak ada yang berubah.


Tidak, banyak yang telah berubah.


Aku tak sama lagi ....


Aku tak sepercaya diri dulu, untuk memiliki dirimu.


Aku hanya orang cacat yang hidup atas belas kasihan seorang pendonor.


Tanpa ginjal dari orang lain, apa aku akan bertahan hidup?


Dari sekian banyak orang, kenapa harus dia? Kenapa harus Arya yang mendonorkan ginjalnya padaku?


Vean melihat Dhea, yang datang ke acara ulang tahun salah satu anak petinggi di rumah sakit.


Wajah yang terlihat pucat, namun terlihat sangat cantik.


Kamu seperti bidadari ... yang rapuh.


Apa kamu sekarang sudah menjadi seorang dokter?


Ya, kamu seorang dokter, dan aku pasiennya. Tapi bukan sakit fisik yang membuat hidupku hancur, tapi rasa kesepian dan hampa.


Kamu malaikat tak bersayap ku ....


Wajah yang semakin terlihat dewasa itu, semakin menggetarkan hati Vean.


Dalam hatinya, Vean mendumel kesal saat Dhea tidak mau menatap dirinya.


Dia pasti tahu kalau aku ini penyakitan.


Rasa tidak percaya diri itu semakin besar.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Vean memeluk tubuh Dhea dalam dekapannya. Melihat wajah yang pucat, yang terpejam rapat.


Tubuh yang terasa nyata di tangannya. Digendongnya tubuh itu, dan dimasukkan ke dalam mobil. Vean mengurai anak rambut yang menutupi tubuh gadis itu.


Sayang, jangan buat aku takut.


Vean tidak mau ke mana-mana. Terus memperhatikan saat dokter memeriksa Dhea.


Jangan sakit, kalau kamu sakit, aku mati.


Ada ketakutan lain dalam diri Vean, yang dia sendiri tidak tahu apa itu. Air matanya tidak mau berhenti mengalir.


Kamu nafasku, kalau kamu tidak ada, apa artinya aku?


Aku janji, tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi.


Jadi, ayo bersama ... selamanya ....