Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
167 Bertemu


Mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Khea menghirup nafas dalam-dalam, menikmati udara sejuk di negara ini.


Dia memperat mantelnya, memandang langit dan kembali menghirup udara sedalam mungkin.


Begitu juga dengan Vean. Pria itu memasang langit, menghirup udara sedalam mungkin dan tersenyum.


Mereka memasuki mobil jemputan yang sudah dipesan oleh Vean pada anak buahnya yang ada di kota ini.


"Kita, ke mana?" tanya Fio di mobil lainnya.


"Dulu aku tinggal di sini."


Vean, Arya, Juna dan Fio melihat tempat tinggal Dhea, yang tidak terlalu besar. Vena memperhatikan tempat tinggal itu, yang tetap menunjukkan jati diri Dhea, yaitu simpel.


Tidak terlalu banyak barang di dalamnya. Barang-barang yang ada di situ juga sudah pasti barang-barang yang memang berguna.


Vean menuju arah jendela, yang langsung menunjukkan pemandangan alam. Lalu melihat kamar Dhea, yang berukuran kecil.


...💦💦💦...


Dhea berlari menuju pria bermantel biru, dan langsung memeluknya. Vean yang melihat itu, segera menyusul dengan cepat. Namun sebelum dia sempat marah-marah, dia melihat seorang perempuan hamil datang dsn langsung ikut memeluk Dhea.


"Halo, Dokter Petter," sapa Clara.


Dokter Petter dan istrinya menangis terharu melihat Dhea. Begitu juga dengan gadis itu, merasa terharu bisa melihat mereka lagi, alami sekarang mereka akan memiliki seorang anak.


"Syukurlah kamu baik-baik saja."


Dhea hanya mengangguk saja. Mau bicara tapi suaranya tercekat.


"Ayo masuk. Kita minum coklat hangat di dalam. Kamu juga pasti sudah sangat lama tidak makan coklat Swiss, kan?"


"Iya."


Mereka semua masuk ke dalam kediaman dokter Petter yang hangat. Perapian dinyalakan dan memberikan rasa nyaman.


Dokter Petter dan istrinya melihat Vean, Arya, Juna dan Fio, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


"Kenalkan, mereka Kak Vean, Arya, Juna dan Fio."


"Senang berkenalan dengan kalian."


"Kapan kamu ke sini?"


"Kami baru tiba hari ini. Oya, apa jenis kelamin keponakan aku?"


"Menurut perkiraan, laki-laki."


"Wah, benarkah? Aku sudah tidak sabar menunggu kelahirannya."


"Sudah berapa bulan?"


"Sudah enam bulan, dan dia sangat aktif." Dhea, Clara, Aila dan Sheila bergantian mengusap perut bulat itu. Fio mau ikut-ikutan juga, tapi dia tidak seakrab itu untuk mengusap perut orang yang baru ditemuinya hari ini.


"Bagaimana dengan kesehatan kamu?" Dokter Petter yakin, mereka yang ada di sini saat ini, sudah tahu tentang kondisi Dhea. Terakhir kali mereka berkomunikasi beberapa bulan yang lalu, saat mereka melakukan video call di rumah sakit. Saat itu kondisi Dhea sangat mengkhawatirkan. Itulah sebabnya dokter Petter dan istrinya begitu bahagia bisa melihat Dhea lagi, apalagi di negara ini.


Ken menyeruput coklat miliknya, yang terasa sangat nikmat. Juna yang mengobrol dengan dokter Petter dan istrinya yang juga seorang dokter, tentu saja sangat cocok. Begitu juga dengan Arya. Meski Arya bukan dokter, tapi dia cukup mengerti bagaimana manajemen rumah sakit.


"Ini, aku punya coklat."


Mata Dhea langsung berbinar saat melihatnya. Ada berbagai jenis coklat yang disajikan.


"Sepertinya aku punya feeling kalian mau datang. Sampai-sampai aku menyetok banyak coklat."


Dhea tidak perlu sungkan-sungkan untuk menikmati semua jenis coklat itu.


Sepertinya aku harus membuat pabrik coklat untuk Dhea.


Ya, apa pun yang Dhea suka, akan selalu Vean lakukan.