Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
192 Cerpen


Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah, yang juga bercat putih itu. Dhea menatap rumah itu, bahkan menoleh ke belakang. Terus-menerus melihat sampai semakin jauh, seperti titik kecil dan akhirnya hilang dari pandangan.


Selamat tinggal.


Satu bulan sudah berlalu, Dhea masih merasakan kesedihan, namun hidup tetap harus berjalan, kan?


Dhea menyibukkan dirinya dengan bekerja, dan mengurus adik-adiknya. Ibu panti masih sakit, tapi sudah diijinkan keluar dari rumah sakit. Beliau akhirnya tinggal di kosan Dhea, yang memang sudah semakin berkembang. Akan lebih tenang bagi Dhea dan Arya untuk mengawasi dan membantu. Mereka merasa punya tanggung jawab tersendiri untuk menjaga adik-adik mereka, layaknya adik kandung sendiri.


...💦💦💦...


Vean sudah menyiapkan semua acara pernikahan untuk Dhea. Dia sendiri yang mengurusnya. Tidak perlu menanyakan seperti apa keinginan konsep pernikahan gadis itu, karena sejak Dhea SMP, Vean sudah tahu bagaimana impian gadis itu, dan dia juga sudah menyiapkan banyak kejutan.


Kejutan yang membuat Vean selalu tersenyum bahagia hanya dengan membayangkannya saja.


"Yang, kamu mau kan menikah sama aku?"


"Kalau aku gak mau, gimana, Kak?"


Vean langsung cemberut, sedangkan Dhea tertawa saja.


"Pokoknya harus mau, titik!"


"Iya deh, daripada nanti aku dipelet."


Vean melengos.


Siapa yang melet siapa, coba!


Tidak lama kemudian, Fio datang dengan wajah cemberutnya.


"Dhea, aku mau curhat. Kembali ke habitat kamu sana, Vean!"


"Ya, aku akan pergi dan kembali untuk mencari orang merukiyah dirimu. Kamu ketempelan banyak jin."


"Sialan! Kenapa Dhea bisa menyukai dirimu?"


"Karena aku tampan dan penuh pesona."


"Mau curhat apa, Fio?" Lebih baik Dhea segera menghentikan pertengkaran mereka. Sepertinya Vean dan Fio masih saling kesal.


Vean langsung duduk di sebelah Dhea, mana mungkin dia meninggalkan Dhea dengan Fio saja, takut nanti Fio bilang untuk meninggalkan dirinya dan memilih Juna.


Fio mulai menghela nafas berat.


"Aku bingung, harus memilih cowok yang mana."


Vean yang mendengar itu, langsung tersedak saliva-nya sendiri.


"Sok laku, mereka saja belum tentu mau memilih kamu."


Fio pura-pura tidak mendengar, dia tetap melanjutkan ceritanya, yang kembali ingin dijodohkan oleh mamanya, meski belum tahu siapa pria itu. Sedangkan dia sendiri saat ini sedang menyukai seseorang.


...💦💦💦...


"Iya, tapi pekerjaanku sangat banyak. Ada banyak pesanan dari beberapa artis."


Dhea kembali membuat design. Sudah ada enam design yang dia kerjakan pagi ini. Bukan dibuat dengan asal-asalan, tapi karena memang dia punya banyak ide kreatif di otaknya.


"Oya, nanti siang aku mau bertemu dengan konsumen. Kamu di sini saja, karena butik akhir-akhir ini sangat ramai. Aku khawatir yang lain akan keteteran."


"Oke, serahkan saja padaku," ucap Clara.


Menjelang jam makan siang, Dhea segera pergi ke restoran yang cukup jauh dari butiknya.


Komunikasi dengan tante dan omnya masih berlanjut, meski tidak sering, karena faktor kesibukan masing-masing dan susah sinyal.


Dhea juga sudah menyiapkan sendiri gaun pernikahannya dan Vean. Bahkan untuk gaun dan jas sahabat-sahabatnya, ibu panti dan ibu kos, calon mertua, dia semua yang merancang.


Benar-benar multifungsi.


Dhea ingin mereka semua memakai gaun rancangannya sendiri di hari bahagianya.


Dhea akhirnya tiba di restoran, dan memarkirkan mobilnya.


"Selamat siang," sapa Dhea begitu memasuki ruang VIP.


Dhea bertemu dengan beberapa orang untuk membicarakan masalah kerja sama. Rencananya, mereka akan memakai hasil rancangan Dhea untuk acara konser musik akbar.


Mereka membahas tentang tema konser, siapa saja pengisi acaranya, berapa busana yang akan digunakan untuk satu orang, dan sebagainya.


Selesai dari sini, Dhea akan bertemu dengan salah seorang pelanggan, masih di restoran yang sama, hanya berbeda ruangan saja, agar tidak membuang-buang waktu.


"Siang, Mbak Dhea."


"Siang, silahkan duduk."


Seorang perempuan cantik datang bersama ibunya, yang juga terlihat cantik. Dekat jadi teringat dengan Bu Wati. Melihat ibu dan anak itu, membuat Dhea jadi bersedih kembali.


"Saya ingin memakai gaun yang sama dengan mama. Tolong dibuatkan ya, Mbak Dhea."


"Tentu saja. Saya akan memberi diskon."


Dhea tersenyum—antara iri dan sedih—melihat kedekatan ibu dan anak itu.


Mungkin kalau ibu masih ada, aku juga bisa sedekat ini dengan ibu?


Tapi ya sudahlah!


Ini hanya sebuah cerpen dari kisah hidupku. Aku akan membuat judul baru, dengan isi cerita yang lebih indah dan menarik.