
Mereka akhirnya pergi ke rumah sakit dengan mobil terpisah. Arya dengan mobilnya sendiri, sedangkan Fio bersama kedua orang tuanya. Fio dari tadi sangat cemas. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Dhea.
Mengingat kalau ternyata Dhea sudah sadar dan tidak ada yang memberi tahunya, dia merasa kecewa.
Kenapa Vean diam saja?
Jangankan memberi tahu Fio, Vean saja saat itu seperti orang bingung, dan dia juga belum menemui Dhea hingga saat ini.
Mereka tiba di rumah sakit, berjalan menyusuri koridor. Langkah kaki mereka menelan saat melihat seseorang yang sedang duduk menyendiri di depan salah satu pintu ruangan.
Vean
Vean menoleh saat mendengar ada yang mendekat. Pria itu mengernyitkan keningnya saat melihat ada Fio, Ronald, bahkan Tante Mila.
Bukankah Tante Mila dipenjara?
Mereka bertiga bisa melihat keadaan Vean yang sangat kusut.
Arya membuka pintu kamar Arya. Ronald dan Mila menunggu Fio masuk lebih dulu, sedangkan Fio pun belum masuk ke dalam.
"Vean, kenapa kamu tidak di dalam?" tanya gadis itu.
Vean hanya menggeleng saja.
"Ayo Vean, juga masuk bersama."
Lagi-lagi Vean menggeleng.
Melihat iri, Arya berdecak kesal. Dia lalu menarik tangan Vean.
"Cepat masuk, jangan membuat aku kesal."
Dengan didahului oleh Arya, akhirnya mereka semua masuk. Orang-orang yang ada di dalam menoleh, melihat siapa yang datang.
Dilihatnya Dhea yang memanjakan mata. Kantong Vean kembali berdetak, dia langsung mendekat brankar itu.
"Dia sedang tidur," ucap Clara.
Fio mendekati Dhea, menegang tangan gadis itu yang sedikit dingin. Begitu juga dengan Mila dan Ronald. Ini pertama kalinya mereka melihat Dhea setelah dari ruangan UGD.
Dhea membuka matanya perlahan yang dia lihat adalah Vean.
Kenapa selalu wajahnya yang aku ingat saat pertama kali membuka mata? Tapi nyatanya, dia akan kembali pergi dari pandanganku. Tak apa, setidaknya aku masih bisa melihatnya.
"Dhea."
"Fio ...," ucap Dhea dengan lirih.
Fio langsung menangis begitu saja. Dia tidak sanggup melihat Dhea yang seperti ini. Suara yang sangat pelan dengan wajah pucat.
Kenapa Dhea menjadi seperti ini? Kenapa gadis cantik yang dulu selalu terlihat segar?
"Dhea," ucap Mila.
Dhea melihat Tante Mila.
"Aku mau bicara dengan Tante, berdua saja."
"Tidak, aku akan tetap menemani kamu," ucap Arya.
Arya takut kalau Mila akan kembali menyakiti Dhea. Dia tidak akan mudah percaya dengan orang seperti Mila.
"Tapi ...."
"Kamu harus menurut, Dhea."
"Tolong ...."
Arya menghela nafas, tapi akhirnya mereka meninggalkan Dhea dan Mila. Arya membuka sedikit pintu untuk mendengarkan, takut Mila akan mengatakan hal yang menyakitkan hati Dhea
"Dhea, maafkan tante. Tante benar-benar minta maaf." Mila menunduk, merasa malu dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku janji, tidak akan menemui Fio lagi."
"Tidak Dhea, jangan bicara seperti itu. Tante yang salah di sini, bukan Fio. Jangan membenci Fio karena Tante. Tante seperti itu karena terlalu menyayangi Fio."
"Iya, aku tahu."
Dhea merasakan nafasnya yang sedikit sesak. Dia memejamkan matanya sesaat. Tidak ada lagi yang bicara, sampai akhirnya mereka yang ada di luar kembali masuk.
Vean menatap Dhea, dan saat gadis itu menoleh, doa langsung memalingkan wajahnya. Tidak sanggup menatap manik mata Dhea.
Dhea hanya bisa tersenyum, dia tahu sampai kapan pun, Vean tidak akan menatapnya dengan tatapan hangat.
Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Dhea menatap mereka satu-persatu. Ingin merekam wajah mereka dalam ingatannya. Rasanya dia sudah cukup senang bisa melihat mereka di sini.