Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO Episode.28


"Ini kita ke sananya,mau naik mobil siapa?" tanya Mia pada mereka yang sudah berada di depan rumah Jani.


Fani melirik ke arah Revin dan Jani. Seketika itu terlintas di kepalanya sebuah rencana.


"Gimana kalo semobil sama pacar kita masing-masing." usul Fani pada mereka sambil menaik turunkan alisnya.


"Lah terus gw sama siapa?" tanya Jani.


"Ya lo sama si Revin." jawab Vina santai.


Jani pun melihat ke arah Revin. Yang di lihat malah cuek aja.


"Ckk. Nih orang nggak ada niatan untuk nolak apa." batin Jani kesal.


"Berarti ntar kita ketemu di depan Bioskop aja ya." ucap Fani dan mereka pun menyetujuinya.


"Ayo," ajak Revin yang langsung menggandeng lengan Jani,sampai di dekat mobilnya.


Mereka pun memasuki mobilnya dan memakai sabuk pengaman. Setelah itu mobil mereka keluar satu persatu dari area rumah Jani.


Di sepanjang perjalanan Revin dan Jani hanya terdiam dengan kegiatannya masing-masing. Revin yang sedang fokus menyetir mobil dan Jani yang sedang fokus dengan handphonenya.


"Serius banget chatingan sama pacarnya." cibir Revin sambil melirik ke arah Jani.


"Diih,siapa juga yang chatingan." elak Jani dingin.


"Itu buktinya,lo fokus banget natap handphonenya." ucap Revin.


"Fokus ke handphone bukan berarti lagi chatingan sama pacar. Dasar ogeb." ucap Jani ketus.


"Heh,kalo ngomong. Apa mau gw cium." ucap Revin.


Mendengar omongannya Revin,membuat Jani membulatkan ke dua matanya dengan sempurna.


"Dasar mesum," ucap Jani dengan wajah kesal.


"Bodo amat. Liat aja nanti,kalo sampe gw dengar omongan lo yang kasar lagi. Siap-siap terima hukuman dari gw." ucap Revin dengan nada mengancam Jani.


"Enak aja lo,pengen hukum-hukum gw. Emangnya lo siapa gw? Teman bukan,saudara bukan,pacar apa lagi." ucap Jani dengan nada marah.


"Gw masa depan lo." ucap Revin santai.


"Dalam mimpi lo," ucap Jani ketus.


"Terserah lo mau ngomong apa pun. Tapi gw akan pastikan,kalo lo akan menjadi milik gw selamanya." ucap Revin yakin.


Jani hanya melirik dingin ke arah Revin. Sedangkan Revin,ia tersenyum penuh kemenangan. Karena ucapannya,cewek yang ada di sebelahnya tak lagi membalas perkataannya.


Hampir menghabiskan waktu satu jam. Mobil mewahnya Revin pun sampai di area parkiran Mall yang ingin mereka kunjungi. Revin pun memarkirkan mobilnya dan mereka membuka sabuk pengamannya. Setelah itu mereka keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk ke dalam Mall.


Mereka berjalan menuju tempat janjian dengan teman-temannya. Setelah sampai di lantai atas tempat menonton Bioskop. Di sana sudah ada teman-temannya yang sudah menunggu mereka di depan Bioskop.


"Tumben lo bawa mobilnya lama. Mampir kemana dulu lo berdua?" tanya Fero pada Revin dan Jani yang baru saja tiba.


"Jalanan macet," jawab Revin datar.


"Kuy lah kita masuk. Keburu para biduannya tampil." ucap Aldi.


"Lo pikir di dalam,studio dangdut." seru Fani dan Mia bersamaan. Aldi pun hanya cengengesan dan menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal.


Yang lain pun tertawa dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu. Mereka pun masuk ke dalam ruangan Bioskop.


Menghabiskan waktu hampir dua jam mereka menonton Bioskop. Akhirnya mereka selesai menonton film di dalam Bioskopnya.


"Kita makan dulu yuk!" ajak Vina pada mereka.


"Dasar tukang makan." cibir Vino.


Mereka geleng-geleng kepala melihat dua cowok yang tukang makan itu. Sedangkan dua cowok itu,cuek aja sambil berlalu pergi menuju Restoran yang ada di dalam Mall. Yang lain pun mengikuti dua cowok itu karena sejujurnya mereka juga sudah merasa lapar.


Menghabiskan waktu satu jam,untuk mereka menyelesaikan makanannya. Setelah itu mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di dalam Mall dulu.


"Udah sore nih. Kita pulang yuk!" ajak Fani.


"Yuk. Gw juga udah cape nih muterin ini Mall." ucap Mia.


"Apanya yang lo puterin? Kita aja baru muterin satu lantai doang." ucap Fero.


"Hehehe,,kan sama aja Fer. Sama-sama muterin. Ya,meskipun cuma satu lantai." ucap Mia sambil cengengesan.


Jani memutar bola matanya malas. "Semerdekanya lo,Mi." ucap Jani malas.


"Ya udah ayo balik." ajak Revin.


"Ini gw udah balik." ucap Aldi sambil membalikkan badannya.


"Balik ke rumah,Maliiihhh!!!" seru Mia dan Fani bersamaan.


"Eeehh,,kirain gw,balik badan hehehe." ucap Aldi dengan tampang polosnya.


"Untung lo cowok gw. Kalo bukan,udah gw garot lo." ucap Mia gemas dengan pacarnya itu.


"Sebenarnya lo itu beneran polos apa..." ucapan Vina terpotong karena Fani dan Fero menyela omongannya.


"OGEEEB,,!!" seru Fani dan Fero bersamaan. Membuat semua teman-temannya tertawa.


Mereka pun berjalan keluar Mall dan menuju ke area parkiran mobil yang ada di luar Mall. Mereka berpisah karena tempat parkiran yang berbeda dan memang tujuan mereka juga berbeda.


Setelah sampai di mobil Revin,Jani dan Revin pun memasuki mobil dan memakai sabuk pengaman. Revin pun melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


"Jan," panggil Revin.


"Hm," jawab Jani dengan gumaman.


"Jan," panggil Revin lagi sambil melirik ke arah Jani.


"Hm," jawab Jani lagi dengan gumaman tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar handphonenya.


"JANII,!!!" panggil Revin dengan nada tegas dan sudah menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Ckk,,apaan sih Rev?" tanya Jani dengan wajah kesal dan menatap wajah Revin.


"Bisa nggak,sekali aja perhatian lo nggak ke handphone terus? Sekarang tuh lo lagi sama gw. Apa sedikit pun perhatian lo nggak bisa ke gw? Apa segitunyakah gw nggak menarik di mata lo? Kalo gw punya salah sama lo yang nggak gw tau,gw minta maaf tapi tolong. Jangan terlalu jauh dari gw Jan. Gw nggak bisa terus-terusan lo abaikan kayak gini." ucap Revin dengan wajah serius sambil menatap lekat wajah Jani.


"Maksud lo apa?" tanya Jani ragu sambil menatap lekat wajah Revin juga.


Bukannya menjawab pertanyaan Jani. Revin justru melajukan mobilnya lagi. Sejujurnya ia juga bingung pada hatinya. Ia sangat ingin memiliki Jani tapi masa lalunya terlalu sulit untuk ia lupakan. Apa lagi mengabaikan janjinya pada gadis di masa lalunya. Tapi ia juga tak bisa terus-terusan di abaikan dengan wanita di sampingnya ini. Ia ingin memiliki hubungan yang lebih dekat lagi tapi entah mengapa. Wanita ini sangat sulit untuk di gapai,seakan ada sebuah tembok besar di tengah-tengah mereka. Sehingga sulit untuk mereka bersama.


                                     * * *


Sudah tiga hari dari kejadian itu. Justru hubungan Revin dan Jani bukannya lebih dekat tapi malah lebih jauh. Bukan Revin yang menjauhi Jani tapi justru Jani yang selalu menghindar dari Revin.


"Jan. Di panggil ke Ruang Guru!" ucap Noval (Ketua Kelas).


"Ngapain?" tanya Jani.


"Mana gw tau," jawab Noval.


Jani pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas menuju Ruang Guru. Kepergian Jani,Revin tersenyum tipis.