
Acaranya telah selesai. Sebagian besar murid pulang ke rumah. Ada juga beberapa murid yang masih berada di sekolah.
"Btw,kita main dulu yuk!" ajak Mia pada mereka.
"Mau main kemana?" tanya Vina.
"Kalian maunya kemana?" tanya Mia balik.
"Dih. Lu yang ngajakin. Lu yang balik tanya." kata Jani.
"Hehehe.. Kan gue ngumpulin suara dulu. Kalian maunya pada kemana." kata Mia.
"Lo pikir lagi pemilihan. Pake segala ngumpulin suara." cibir Fero.
"Diem lo berisik." ucap Mia sinis.
"Gimana klo kita ke tempat biasa aja!" saran Vino.
"Boleh juga tuh. Udah lama juga kita enggak ke sono." kata Aldi.
"Bilang aja klo lo udah laper." celetuk Revin.
"Hehehe.. Tau aja lo." kata Aldi.
"Gays. Keynya hari ini gue enggak ikut deh." ucap Fani.
"Lah,kok gitu sih. Klo kamu enggak ikut nanti aku sama siapa." kata Fero dengan memasang wajah sedih.
"Tau lo,Fan. Tumben banget,biasanya juga lo selalu ikut kita." timpal Mia.
"Sorry. Hari ini gue ada urusan." kata Fani.
"Yaudah klo gitu lain waktu aja kita perginya." ucap Vina.
"Iya. Gue juga lagi males kemana-mana." ucap Jani.
"Yaudah klo gitu. Lo balik sama gue." kata Revin dan langsung menggandeng tangan Jani.
Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
πΈ Di Restoran πΈ
"Btw,itu bukannya si Fani ya?" tanya Sarah pada kedua sahabatnya.
"Fani siapa?" tanya Puput.
"Ck,,Fani ceweknya si Fero." jawab Sarah.
"Mana?" tanya Siska.
"Noh.." ucap Sarah sambil menunjuk ke arah Fani berada.
"Lah iya. Ngapain ya dia di situ. Jangan bilang klo dia kerja di restoran ini." kata Siska.
"Bisa jadi. Mungkin keluarganya udah jatuh miskin." ucap Sarah cuek.
"Aha. Gue ada ide." ucap Siska.
"Ide apa?" tanya Puput.
"Kalian liat aja nanti." ucap Siska dengan senyum liciknya.
Siska memanggil salah satu pelayan di situ. Setelah ia membisikan sesuatu. Pelayan itupun pergi meninggalkan mereka.
"Permisi. Kakak-kakak mau pesan apa?" tanya pelayan dengan sopan.
"Kita mau pesan ini." jawab si pelanggan.
*Deg...*
"Mereka." kata Fani dalam hati.
"Fani.." ucap Puput kaget.
Ya,si pelayan itu adalah Fani. Sedangkan si pelanggan itu adalah Siska,Sarah dan Puput.
"Wow. Gue enggak salah liatkan. Seorang Fani berada di sini dan memakai baju pelayan." ucap Siska dengan wajah mengejek.
"Lo enggak salah liat kok. Dia emang Fani,kekasihnya dari seorang Fero yang cukup terkenal di sekolah kita." timpal Sarah.
"Fan. Kok lo pake baju pelayan sih?" tanya Puput dengan wajah polos.
"Apa jadinya ya. Klo seorang Fero tau,jika pujaan hatinya bekerja hanya sebagai pelayan restoran." cibir Siska.
"Gue rasa sih bakalan di tinggalin. Karena dia mana mau pacaran sama seorang pelayan." timpal Sarah.
"Maaf. Klo kalian dateng kesini hanya untuk bergosip. Lebih baik kalian pergi dari sini." kata Fani sinis.
*Brakk...*
"Punya hak apa lo ngusir kita. Jadi pelayan enggak usah belagu lo." seru Siska marah.
"Ada apa ini?" tanya pemilik restoran itu.
"Kebetulan banget. Mas pemilik restoran ini?" tanya Sarah.
"Iya betul. Saya yang memiliki restoran ini." jawab pemilik restoran.
"Bilangin nih mas sama karyawannya. Jadi pelayan enggak usah belagu." ucap Siska.
Pemilik restoran itupun melihat ke arah Fani. Dari tatapan matanya,ia menuntut penjelasan dari Fani.
"Maaf pak. Saya tadi hanya menanyakan mereka mau pesan apa? Karena sedari tadi saya liat mereka hanya asik bergosip. Setelah saya tanyakan ke mereka baik-baik tapi mereka marah seperti itu." jelas Fani.
"Dia bohong." seru Siska sambil menunjuk Fani.
Pemilik restoran itupun melihat ke meja mereka. Ternyata di meja itu memang tidak ada minuman ataupun makanan.
"Maaf untuk kakak-kakak semuanya. Jika kalian di sini hanya untuk bergosip. Lebih baik kalian cari tempat yang lain saja." usir pemilik restoran dengan sopan.
Karena perdebatan itupun. Mereka menjadi tontonan para pelanggan di restoran itu.
"Palingan juga mereka ke sini cuma untuk berfoto-foto. Lalu mereka update ke sosmed untuk pamer bahwa mereka sedang makan di restoran mahal."
"Iya. Betul banget tuh."
Dan masih banyak lagi yang membicarakan ketiga wanita itu. Karena malu menjadi bahan omongan. Mereka bertiga meninggalkan restoran itu.
"Maaf pak." ucap Fani dengan menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa. Saya tau bahwa kamu tidak bersalah. Ya sudah,sekarang kamu mulai bekerja lagi." kata pemilik restoran.
π· π· π·
Tidak terasa sudah tiga bulan Fani bekerja di restoran. Selama itu pula sahabat-sahabatnya tidak mengetahui. Jangankan sahabatnya. Bahkan kekasihnya juga belum mengetahui. Jika ia bekerja sambil sekolah.
Dirinya belum bercerita bukan karena ia malu atau takut di jauhkan oleh mereka. Sejujurnya Fani ingin memberitahukan ke sahabatnya dan kekasihnya tentang kehidupannya yang sekarang. Tapi ia hanya ingin menunggu waktu yang tepat.
πΉ Di Parkiran Sekolah πΉ
"Yang. Ntar malam jalan yuk!" ajak Fero.
"Sorry Fer. Gue enggak bisa." tolak Fani.
"Kenapa sih akhir-akhir ini setiap kita ajakin lo main. Lo selalu enggak mau?" tanya Fero.
"Karena kehidupan gue enggak seperti dulu,Fer." jawab Fani dalam hati.
"Lo tau. Gue merasa selama ini,lo itu seakan-akan selalu menghindar dari kita semua. Apa ada yang lo sembunyikan dari gue?" tanya Fero yang mulai kesal.
Fani hanya bisa diam. Dirinya sangat ingin bercerita. Tapi ia bingung mau mulai cerita dari mana. Apa setelah Fero mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya. Fero masih mau berada di sampingnya. Apa mungkin sebaliknya. Fero pergi meninggalkan dirinya dan memilih wanita lain yang lebih pantas jadi kekasihnya. Seperti ucapannya waktu itu di koridor sekolah.
π Flashback On π
"Fero!!" seru Siska memanggil Fero yang sedang berjalan bersama Fani.
"Ngapain lo panggil gue. Kangen lo ya sama gue. Emang sih,orang ganteng mah ngangenin." ucap Fero tengil.
"Idih enggak usah kepedean lo. Gue panggil lo,cuma mau tanya." kata Siska.
"Tanya apaan sih? Nanti aja deh tanyanya. Gue laper,mau makan ke kantin dulu." ucap Fero.
"Bentar doang gue mau tanya. Lo suka sama cewek karena apanya?" tanya Siska.
"Ada apa nih. Kok tiba-tiba lo tanya begitu ke cowok gue?" tanya Fani dingin.
"Diem aja deh lo. Gue enggak tanya sama lo. Gue lagi tanya ke cowok lo." jawab Siska sinis.
"Jangan bilang klo lo naksir sama gue. Sorry banget nih ya,Sis. Lo emang cantik tapi lo liat sendirikan di samping gue ada siapa. Dia ini cewek yang paling gue sayangi. Jadi lo buang jauh-jauh deh perasaan lo ke gue." jelas Fero sambil merangkul pundak Fani.
"Ckk.. Ada ya cowok senarsis lo. Jawab aja sih. Enggak usah banyak tanya." sungut Siska.
"Oke,oke. Gue jawab. Poinnya yang paling penting. Gue suka sama cewek yang jujur." ucap Fero serius.
"Cantik dan anak orang kaya?" tanya Siska.
"Klo itu sih bonus buat gue hehehe." jawab Fero.
"Berarti klo cewek itu cantik tapi dia anak dari keluarga miskin. Lo enggak mau sama tuh cewek?" tanya Siska sambil melirik ke Fani.
"Ya,enggak gitu juga. Intinya sih yang paling penting cewek itu jujur sama gue." jawab Fero.
"Oke. Gue ngerti sekarang. Misalkan cewek itu cantik dan dia anak dari keluarga miskin. Tapi dia enggak jujur ke lo. Lo bakalan pertahankan atau lo akan tinggalkan cewek itu dan memilih cewek lain yang pantas untuk lo?" tanya Siska.
"Gue akan tinggalkan cewek itu. Karena..." ucapannya terpotong oleh Siska.
"Oke. Thank you,gue duluan ya." kata Siska melangkah pergi sambil melirik ke Fani dan tersenyum penuh arti.
"Dasar cewek aneh." cibir Fero.
π Flashback Off π
"Jawab,Fan." seru Fero marah sambil memegang kedua bahu Fani.
"Karena selama ini dia kerja sebagai pelayan restoran." ucap Siska yang baru saja tiba dengan teman-temannya.
"Apa maksud lo?" tanya Fero memastikan.
"Jadi selama ini lo belum tau? Kasihan banget sih gue sama lo. Ternyata cewek yang selama ini lo puja-puja ialah hanya sebatas cewek pembohong besar." cibir Sarah.
Seketika Fero melihat ke arah Fani. Dari tatapan matanya,ia menuntut penjelasan dari Fani. Tapi Fani hanya bisa menundukan kepala. Untuk pertama kalinya Fani tidak berani menatap kekasihnya.
"Sepertinya cewek lo enggan untuk berbicara. Tapi lo tenang aja,gue yang akan menjelaskan semua ke lo." ucap Siska sambil melirik ke Fani.
"Jadi selama ini lo itu udah di bohongi sama dia. Selama ini dia itu kerja sebagai pelayan restoran." cibir Siska.
"Emangnya kenapa klo Fani kerja sebagai pelayan restoran. Kerjaan diakan halal?" tanya Puput dengan wajah polos.
"Diem aja lo,enggak usah ikut komen." ucap Sarah dengan wajah marah.
"Jawab,Fan. Apa benar lo bohongi gue dan selama ini lo kerja sebagai pelayan restoran?" tanya Fero menahan amarah.
"Maafin gue,Fer." ucap Fani lirih yang masih menundukan kepala.
*Deg...*
"Gue kecewa sama lo." kata Fero dan meninggalkan mereka.
"Gagal jadi orang kaya deh." cibir Sarah.
"Balik yuk. Lama-lama dekat dia kita bisa ketularan miskin." ucap Siska.
Mereka meninggalkan Fani sendiri di parkiran sekolah. Fani melihat di sana masih ada beberapa murid. Fani pun meninggalkan parkiran sekolah dan kembali ke rumah.
Sejak kejadian itu,Fani kemana-mana selalu naik angkutan umum. Karena mobil kesayangannya ia jual untuk pengobatan papahnya. Saat dirinya sedang menunggu angkutan umum.
Tiin...tiin...tiin...
Ada sebuah mobil berhenti di depannya. Saat kaca mobil itu terbuka. Barulah ia tau siapa yang berada di dalam mobil itu.