
"Clara?"
"Ya?"
"Tolong ambilkan ponselku."
Clara lalu mengambilkan ponsel Dhea di dalam tasnya.
"Ponsel kamu mati, biar aku charge dulu."
Pandangan mata Dhea menerawang, entah apa yang gadis itu pikirkan.
"Ini." Clara memberikan ponsel Dhea saat dilihat baterainya sudah cukup banyak.
Tangan Dhea menjatuhkan ponsel itu, karena tidak kuat mengangkatnya.
"Kamu ... mau menghubungi siapa?" tanya Clara.
"P ... Ter ...."
"Siapa?"
"Dokter ... Petter."
Mereka langsung menoleh saat Dhea menyebut nama dokter Petter. Apa benar dokter itu adalah kekasih Dhea?
Clara langsung mencari nama dokter Petter, dan menghubungi dokter itu. Clara mendekatkan ponsel itu pada Dhea, juga me-loud speaker.
"Halo, Dhea?"
"Halo, Dokter Petter."
"Dhea, kamu baik-baik saja, kan?"
"Ya, Dok."
"Apa kamu di sana menjalankan pengobatan kamu? Dengar Dhea, kamu harus sembuh."
"Iya, aku sudah berobat."
"Syukurlah kalau begitu. Kalau kamu tidak mau berobat juga, aku akan menyusul kamu ke sana."
Dhea hanya memberikan senyumannya, meski dokter Petter tidak melihat.
"Dokter ...."
"Ya?"
"Apa salju pertama di tahun ini sudah turun?"
"Belum, nanti aku akan mengirimkan videonya kalau salju sudah turun. Kamu harus sembuh, agar tahun depan kamu bisa ke sini lagi."
"Dok, terima kasih karena selama ini sudah sangat baik padaku. Maafkan aku yang selalu menyusahkan Dokter."
"Hei, jangan bicara seperti itu."
Dhea sedikit terbatuk, tapi berusaha dia tahan.
"Dok, cepat umumkan pernikahan Dokter dengan dokter Stevie. Aku merasa tidak enak dengan dokter Stevie, karena orang-orang menganggap kita punya hubungan khusus."
"Kalau kamu sembuh, datanglah ke sini, aku akan mengadakan acara pernikahan."
"Aku ... sepertinya tidak akan bisa. Waktuku ...."
"Sembuh, Dhea." Suara dokter Petter tercekat.
"Lihat, salju pertama sudah turun. Ayo kita video call."
Clara dengan sigap mengubah jadi panggilan video. Dokter Petter mengarahkan ponselnya ke luar, memperlihatkan salju yang mulai turun.
Salju pertama di tahun ini.
"Kamu lihat?"
"Ya," ucap Dhea dengan lirih.
Dokter Petter lalu melihat wajah Dhea.
Hatinya terenyuh melihat gadis itu yang berbaring lemah. Bisa dia lihat kalau saat ini Dhea sedang ada di rumah sakit. Lingkaran hitam di sekitar mata gadis itu, menunjukkan kalau dia tidak baik-baik saja. Sangat tidak baik.
Wajah cantik namun tirus, ditambah bibir pucat dan kering.
Di sebelah dokter Petter, ada dokter Stevie. Mereka bertiga hanya saling menatap dalam video, rasanya dokter Stevie tidak bisa berkata apa-apa.
Petter kembali mengarahkan ponselnya ke arah salju yang turun, agar Dhea bisa melihat salju, meski tidak bisa menyentuhnya.
"Dokter Stevie?"
"Ya?"
"Kapan akan memberikan aku keponakan?"
"Nanti, kamu harus sembuh dulu biar bisa bermain dengan anak kami."
Mereka yang mendengar, tentu saja tidak menyangka kalau ternyata dokter Petter sudah menikah. Sahabat-sahabat Dhea itu pikir, dokter Petter menyukai Dhea.
Jadi selama ini dokter Petter tahu kalau Dhea sakit?
Dhea masih duduk bersandar, namun perlahan matanya terpejam. Tidak lagi melihat salju, tidak lagi mendengar siapa pun yang berbicara.
Dokter Petter dan dokter Stevie hanya bisa menangis dalam diam. Di sana, hanya mereka berdua saja yang tahu tentang keadaan Dhea yang sebenarnya.
Clara mengalihkan ponsel Dhea pada dirinya sendiri.
"Clara?"
"Hai, Dok."
Aila, Sheila, Felix dan Steve ikut menghampiri.
"Jaga Dhea baik-baik. Kami akan usahakan untuk bisa ke sana."
Mereka mengangguk, lalu panggilan video itu berakhir. Mereka masih sempat melihat salju yang turun.
Salju yang selalu disukai Dhea ....