Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO Episode.14


Bel sekolah pun berbunyi tanda jam istirahat. Murid-murid pun keluar kelasnya masing-masing dan sebagian besar dari murid-murid sekolah SMA HARAPAN BANGSA menuju kantin sekolah.


"Kantin yuk!" ajak Fani pada sahabat-sahabatnya.


"Yuk," ucap Vina.


Merekapun berjalan menuju kantin dan sebelum mereka melangkahkan kakinya keluar kelas,ada yang memanggilnya.


"Woy,,mau pada kemana lo?" tanya Aldi dengan nada tinggi.


"Kantin," jawab Mia.


"Bareng," seru Fero.


Setelah itu mereka jalan bersama menuju kantin. Sampainya di kantin mereka duduk di tempat biasa yang mereka sering duduki kalau ke kantin.


Tempat duduk favorite mereka berada di ujung karena menurut mereka biar tidak terlalu menarik perhatian orang-orang yang berada di kantin.


Maklum saja mereka itu termasuk orang-orang yang banyak penggemarnya. Terutama Revin dan Jani,meski mereka berdua di juluki dengan sebutan M**anusia Es**.


Tapi tidak membuat penggemar mereka berhenti untuk mengagumi akan ke t**ampanan dan ke c**antikkan yang mereka berdua miliki. Bahkan ada juga yang tidak suka dengan kesempurnaan yang mereka berdua miliki.


Harus kita ingat,bahwa di dunia ini tidak semuanya manusia akan menyukai kita. Terkadang banyak juga yang tidak suka sama kita,tapi kita juga tidak harus memaksakan seseorang untuk menyukai kita. Karena setiap manusia memiliki pandangan yang berbeda-beda.


"Ade lo mana Jan?" tanya Fani.


Jani yang di tanya hanya mengangkat ke dua bahunya.


"Lo tanya Juna ke Jani,ya mana dia tau. Mereka berduakan beda kelas." ucap Fero.


"Oh iya,gw lupa hehehe." ucap Fani.


Merekapun memesan makanan dan minuman. Tidak butuh waktu lama makan dan minuman yang mereka pesan sudah datang.


"Anjiirr,,si Devan keren bangeettt." hebo Fani yang baru saja melihat postingan WA di grub sekolahnya.


"Ya ampuunn... Meleleh nih hati Eneng,Bang." seru Fani sambil mencengkram Jani.


Jani yang sedang meminum jusnya,seketika ia terdiem karena merasakan sakit.


"Apaan sih lo," ucap Jani dingin dan menepis cengkraman Fani dari lututnya.


"Es Criem kali ah meleleh." ucap Fero kesel.


"Sirik aja lo," ucap Fani sinis.


"Oh gitu! Oke fane." seru Fero dengan wajah kesal.


"Nah loh. Sepertinya ada bau-bau pertengkaran nih." cibir Mia.


"Masa gitu aja marah. Gw cuma bercanda doang kali Fer." ucap Fani.


"Kalo gw yang bercanda kayak gitu,lo marah nggak?" tanya Fero.


"Ya marahlah. Ya udah gw minta maaf." ucap Fani menatap Fero.


"Jangan di ulangi lagi."ucap Fero seraya tersenyum serta elusan lembut di kepalanya. Di balas pula dengan senyuman dan anggukkan oleh Fani.


Dari obrolan teman-temannya itu. Sedari tadi mata Revin hanya memperhatikan Jani. Entah kenapa,ia merasakan ada perubahan dari wajah Jani. Ia melihat wajah Jani yang menahan sakit dan nampak terlihat pucat.


Padahal tadi wajah Jani masih segar tapi sekarang sangat berbeda. Meski Jani berusaha menunjukkan kalau dia baik-baik saja tapi entah mengapa hati kecil Revin mengatakan kalau wanita yang di hadapannya itu,tidak baik-baik saja.


Jani yang sedang menikmati makanannya,ia merasa ada yang memperhatikannya dan ia pun menoleh ke arah pria yang berada di hadapannya.


*DEGG*


Ia menatap pria yang berada di hadapannya,yang memiliki mata biru. Pandangannya terkunci dengan pria yang juga menatap dirinya.


"Ehemm... Gw balik duluan ya." pamit Jani yang sudah salah tingkah karena tatapan Revin pada dirinya.


Tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya,Jani pun beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan teman-temannya di kantin yang masih menikmati makanannya.


"Woyy Jan,lo mau kemana?" tanya Mia teriak dengan suara cemprengnya.


"Kelas," jawab Jani tanpa menoleh ke orang yang mengajak bicara. Ia hanya melambaikan tangannya.


"Set dah si manusia es,pengen ngeloyor aja." cibir Aldi.


"Enek kali dia liat muka lo mulu." celetuk Fani dan di akhiri dengan ketawa.


"Lah bujuk,lo pikir muka gw tong sampah!" seru Aldi.


"Emang," ucap Fani asal.


Mereka yang berada di satu meja jadi tertawa karena ucapan ke dua temannya itu.


Sedangkan Revin hanya menatap kepergian Jani.


"Gw duluan," pamit Revin pada teman-temannya.


"Eh Rev. Mau kemana lo?" tanya Aldi dengan nada tinggi.


"Set dah dua manusia es itu bener-bener dah." ucap Aldi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Enek kali dia sama muka lo." ucap Vino yang meniru omongan Fani.


"Sama muka lo tuh yang datar." seru Aldi kesal dan mendapatkan tatapan tajam dari Vina.


"Mampus lo. Telen aja Na." ucap Fero pada Vina.


"Diem lo Bambang," ucap Aldi kesal dan meniru omongan Fero di kelas tadi.


"Omongan gw tuh." ucap Fero.


"Berisik woyy. Udah kayak bocah aja lo berdua." ucap Fani kesal yang merasa terganggu dengan perdebatan dua cowok itu.


Mereka pun terdiam dan melanjutkan dengan makanannya.


Tanpa di sadari ada yang mengikutinya dari belakang. Hingga sampai di belokkan,Jani tidak memperhatikan jalan di depannya. Sehingga membuat tubuhnya menabrak dada bidang seseorang yang ada di hadapannya.


BUGKH...


"Aww,," rintih Jani seraya mengelus keningnya yang baru saja menabrak seseorang di hadapannya.


Saat ia mendongak untuk melihat siapa orang yang baru saja ia tabrak.


*DEGG*


Dengan susah payah Jani menelan salivanya,saat mendapati Revin yang sudah tepat di hadapannya.


"Udah puas liatinnya?" tanya Revin menggoda.


"Siapa juga yang liatin lo." sanggah Jani.


"Gw ganteng banget ya. Setiap kali lo liat gw,lo sampai nggak bisa berkedip gitu." ucap Revin yang membuat ke dua mata Jani membulat sempurna.


"Nggak usah ke pedean lo." ucap Jani sinis.


"Mau kemana?" tanya Revin mengganti topik.


"Kelas," jawab Jani singkat.


"Lo sakit ya?" tanya Revin yang menatap Jani pekat.


Jani yang mendengar pertanyaan Revin. Ia jadi terdiam dan sebisa mungkin ia menutupinya.


"A-apaan sih lo. Nggak lah. " jawab Jani gugup.


"Tapi wajah lo pucat gitu!" ucap Revin yang masih menatap Jani.


"Bukan urusan lo. Awas gw mau balik ke kelas." ucap Jani sambil menyingkirkan Revin dari hadapannya.


Saat ia ingin melangkah,kakinya yang terluka tiba-tiba terasa sangat sakit.


"Aakh,," rintih Jani yang merasa sakit pada lututnya.


"Lo kenapa?" tanya Revin khawatir melihat Jani yang kesakitan.


"Gw nggak papa," jawab Jani dingin.


Revin yang tak percaya ucapan Jani,ia pun mengecek kakinya Jani.


"Lutut lo luka? Kok bisa?" tanya Revin setelah mendapatkan luka di lututnya Jani.


Jani hanya diam tak menjawab pertanyaan Revin. Tanpa di duga Revin menggendong Jani dan membawanya pergi.


"Turunin gw," pinta Jani sambil mencoba memberontak.


"Diem atau lo jatuh ke bawah." ucap Revin datar.


Mendengar ucapan Revin,Jani pun terdiam dan tidak memberontak lagi.


"Nggak usah liatin gw kayak gitu. Gw emang udah ganteng dari sononya." ucap Revin bangga.


"Apaan sih lo," ucap Jani seraya mempalingkan wajahnya ke arah lain.


Entah mengapa mendengar ucapan Revin tadi pipi Jani terasa panas. Bisa di pastikan wajahnya sekarang sudah terlihat seperti kepiting rebus.


Revin hanya tersenyum miring menyadari Jani yang nampak salah tingkah. Langkahnya terhenti saat sudah memasuki ruang UKS.


Revin pergi meninggalkan Jani dan tak lama kemudian Revin kembali dengan kotak P3K.


"Lo mau ngapain?" tanya Jani bingung saat melihat Revin ingin menyentuh kakinya.


"Gw bisa sendiri," tolak Jani mencegah Revin yang ingin mengobati lukanya.


"Diem," ucap Revin tegas.


Jani pun terdiem dan memperhatikan Revin yang sedang mengobati lututnya yang luka.