
Kondisi ibu panti semakin menurun. Beliau bahkan harus dilarikan ke rumah sakit karena ditemukan pingsan di dalam kamarnya. Untung saja salah satu anak panti ada yang mengetuk pintu kamarnya, tapi tidak mendengar juga ada sahutan.
Dibantu oleh tetangga sekitar, ibu akhirnya dibawa ke rumah sakit dan dilarikan ke ruang UGD.
Dhea dan Arya yang mendapat kabar itu merasa sangat cemas. Untung saja Arya juga memang sedang berada di rumah sakit, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui kabar itu atau menempuh jarak yang jauh.
Vean yang tadinya ingin segera menikahi Dhea, terpaksa harus ditunda. Dokter Bram juga memberikan perawatan terbaik untuknya, dengan dipantau juga oleh Juna.
"Dhea ...."
"Ibu, ibu jangan banyak bicara."
Ibu menggeleng. Dia memegang tangan anak asuhnya itu dengan erat.
"Dhea ...."
Hanya itu saja, lalu matanya kembali terpejam karena efek obat.
...π¦π¦π¦...
Selagi panti asuhan sepi, ada yang datang ke sana. Melihat kondisi panti yang sepi, namun pintu tidak tertutup rapat.
"Permisi."
Tidak ada yang menyahut. Orang itu lalu masuk, melihat keadaan ruangan yang semuanya kosong. Pria itu melihat ruangan kerja ibu panti. Tidak ada siapa-siapa di sana. Lalu dia melihat ke kamar yang pintunya terbuka lebar.
Di lantai, berserakan kertas-kertas yang sepertinya ditinggalkan begitu saja. Dia melihat-lihat kertas itu, yang ternyata adalah data-data anak-anak panti.
Diperhatikannya satu demi satu. Dia mengambil ponselnya dan memfoto data-data itu, setelah itu kembali ke luar.
...π¦π¦π¦...
Dhea sedang makan di kafetaria rumah sakit. sudah beberapa hari ini dia dan beberapa anak panti menginap di sini, menjaga ibu.
"Kamu jangan terlalu lelah," ucap Vean pada Dhea.
"Iya, ini juga ganti-gantian dengan anak-anak yang lain. Untung saja aku mengajak Micel ke sini, jadi dia bisa banyak membantu."
"Anak-anak kamu pindahkan semua?"
"Iya. Untuk sementara ini, mereka ada di kosan. Ada banyak kamar di sana, bisa dijaga bergantian juga. Kasihan yang jaga di panti, soalnya kalau lagi pada ngadat, mereka bisa bikin semua orang sibuk. Belum yang sakit, yang berantem, yang tantrum. Ya pokoknya banyak, lah."
Arya juga mengurut keningnya. Pandangan matanya lalu beralih pada seorang pria yang sejak tadi terus memperhatikan Dhea.
Sengaja dia mengatakannya pada Juna, bukan pada Vean. Kalau Vean, ada sales yang mendekati Dhea untuk nawarin panci pun, langsung berpikir akan ditikung!
Juna memperhatikan pria itu. Mereka masih diam saja, nanti kalau orang itu semakin mencurigakan, baru mereka akan bertindak.
"Ada orang mencurigakan yang mendekati aku," ucap Fio tiba-tiba.
"Mungkin dia lagi nyari korban. Korban PHP."
"Serius, Juna!"
"Ck. Kamu gak pantas diseriusin. Tuh buktinya, Vean ninggalin kamu!"
Jleb
"Kak Juna!"
"Hehehe, iya, iya. Maaf Dhea Sayang."
"Biarkan saja manusia kurang imunisasi ini, Dhea!" ucap Fio.
"Dhea. Aku serius, ada cowok yang deketin aku."
"Ganteng? Romantis? Orang mana? Pengusaha apa?"
Fio tersenyum mendengar pertanyaan Dhea.
"Gak tahu, orang aku gak kenal."
Fio memesan sop buntut, karena dia ingin makan yang hangat-hangat.
"Ngomong-ngomong, tadi aku ke ruang perawatan ibu. Aku sempat mendengar perkataan seseorang yang katanya lagi nyari seorang anak yang hilang beberapa tahun yang lalu. Anak panti mungkin ada yang akan bertemu dengan orang tua kandungnya."
Mereka langsung fokus memperhatikan Fio. Perkataan itu punya efek bagi keempat orang itu.
Dhea punya pikirannya sendiri.
Vean, Arya dan Juna juga punya pemikiran dan kecemasan sendiri.
"Siapa orang itu?"
"Gak tahu, aku kan nguping."