
Hari ini Dhea berdiam diri saja di rumah. Perempuan beranak satu itu sepertinya kelelahan karena terlalu sibuk. Sibuk dengan pekerjaan dan mendampingi Yuki syuting. Mungkin saja saat dewasa nanti, Yuki benar-benar akan menjadi artis.
Cup
Vean mengecup kening istrinya yang masih tidur. Penuh tepatnya, tidur lagi. Hari ini, Yuki dan Faustin akan didampingi oleh Bagas dan salah satu adik panti.
Vean sudah berjanji tidak akan menghalangi AAP yang menjadi kegemaran Yuki, sebagai salah satu bentuk penebusan hutang karena dia masih menganggap kalau dirinya lah yang membuat Dhea gagal menjadi seorang dokter.
Pria itu masih merasa bersalah hingga saat ini, dan sampai kapan pun. Jadi, dia tidak akan membiarkan Yuki kehilangan impiannya dan masa kanak-kanak yang menyenangkan.
Vean juga memutuskan tidak akan bekerja. Dia ingin di rumah saja menjaga Dhea. Ya walaupun dia sendiri tadi dilema, mau ikut dengan Yuki, atau di rumah bersama Dhea.
Vean membuat bubur dengan daging cincang dan sup hangat. Ada bibi yang membersihkan rumah dan mencuci baju. Selagi Dhea belum bangun dan Yuki belum pulang, dia bisa bekerja online. Vean—sejak Yuki menunjukkan minat di dunia entertainment, mulai berencana untuk membuat perusahaan entertainment.
Apalagi saat bertemu dengan Arby, Zion, David, Ken, David dan lainnya.
Mereka semua adalah orang-orang yang mencintai keluarga, Vean juga belajar banyak dari mereka. Felix dan Steve juga cukup mengenal dekat dengan orang-orang itu karena pernah bekerja sama. Apalagi ternyata Arya dan Mico pernah berteman dekat.
Tidak lama kemudian terdengar suara celotehan Yuki.
"Dy, Dy."
"Hai, Sayangnya Daddy."
Vean langsung menggendong Yuki dan menggandeng Faustin. Pria itu menggantikan baju Yuki, sedangkan Faustin mengganti sendiri bajunya.
"Kita makan dulu, ya."
"My?"
"Mommy tidur, lagi sakit."
"Sakit?"
Vean mendudukkan Yuki di bangku meja makan. Faustin juga tidak canggung, karena anak itu sudah dianggap anak oleh Yuki dan Dhea, juga yang lainnya. Karena Dhea, Vean sudah tidak canggung lagi berhadapan dengan anak-anak. Anggap saja semuanya adalah anaknya atau adik-adiknya. Apalagi dia anak semata wayang, tidak punya saudara kandung.
"Habis ini, kalian tidur, ya."
"Yes, Daddy."
Vean tersenyum, karena Faustin memanggilnya Daddy. Vean juga ingin punya anak laki-laki, tapi masih trauma mengingat kehamilan Dhea.
Tidak sulit menidurkan keduanya, mereka langsung tidur begitu menyentuh kasur. Vean tersenyum melihat kedua bocah itu, sangat menggemaskan.
💦💦💦
"Masih sakit kepala?" tanya Vean saat melihat Dia yang sudah membuka matanya.
"Sedikit."
"Makan dulu, aku ambil ke dapur."
Vean membawakan bubur dan sup daging. Dengan cekatan pria itu menyuapi Dhea. Yuki yang terbangun langsung masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya. Melihat sang mommy yang disuapi seperti itu, membuat bocah itu juga ingin.
"Mam, mam."
Sendok yang tadinya akan masuk ke mulut Dhea, langsung masuk ke mulut Yuki karena tangan cepatnya mengarahkan sendok itu ke mulutnya.
Dhea ingin tertawa, tapi terlalu lemes. Akhirnya bubur dan sup itu habis oleh si kecil.
Sore harinya, setelah tidak terlalu panas, Yuki bermain ayunan bersama Faustin di taman. Dhea duduk di salah satu bangku dengan memakai sweater. Sedangkan Vean memeluk Dhea dari samping.
"Hilih, sore-sore sok mesra."
Vean mendelik kesal, lalu mengecup kening Dhea, membuat yang lain mendengus.