Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO Episode.40


๐ŸŒท ๐ŸŒท ๐ŸŒท


Langit nampak cerah,hari ini dan untuk beberapa hari kedepan. Jani izin tidak masuk sekolah karena ia harus keluar negeri menyelesaikan urusannya pada ortunya. Setelah selesai dengan barang-barang yang ingin di bawanya.


Jani keluar kamar dan menuruni setiap anak tangga. Di ruang makan sudah ada Juna yang sedang memakan sarapan pagi nya.


"Udah selesai ka?" tanya Juna yang melihat kedatangan Jani.


"Udah," jawab Jani singkat.


"Berapa lama lu di sana?"


"Gue belum tau. Yang pasti klo urusan gue udah selesai. Gue langsung balik ke sini." jawab Jani sambil menyendok nasi goreng ke piringnya.


"Owh,lu pergi udah bilang ke temen-temen lu?"


"Belum. Nanti lu sampaikan aja ke mereka dan mungkin selama di sana gue juga nggak mengaktifkan hp. Gue mau lebih fokus mengerjakan tugas yang Papah kasih ke gue." jelas Jani.


"Oke,! Mau gue anter nggak ke bandara?"


"Nggak usah,nanti yang ada lu telat ke sekolah. Gue udah minta tolong di antar sama pak Sandy."


"Yaudah klo gitu,gue duluan ya ka!" pamit Juna setelah selesai dengan sarapannya.


"Iya. Hati-hati di jalan." ucap Jani yang masih menikmati sarapannya.


Setelah selesai Jani berjalan ke depan rumahnya. Di depan sudah ada pak Sandy sopir pribadi keluarganya.


"Ayo pak kita berangkat sekarang." ucap Jani pada pak Sandy dengan tersenyum.


"Mari non." ucap pak Sandy sambil membukakan pintu penumpang.


Setelah itu pak Sandy pun mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata menuju bandara.


๐ŸŒน Di Sekolah SMA HARAPAN BANGSA ๐ŸŒน


Suasana sekolah sudah ramai dengan siswa siswi karena waktu jam belajar akan segera di mulai.


"Ada yang liat Jani nggak?" tanya Revin pada teman-temannya.


"Keynya dia belum dateng." jawab Mia.


"Nggak lu coba telphone dia aja!" saran Vina.


"Dari semalam sampai sekarang nomernya nggak aktif." ucap Revin.


"Mungkin bentar lagi dia dateng." ucap Fero.


Entah mengapa Revin merasa gelisah. Setelah kejadian kemarin dimana dirinya bertengkar dengan Jani dan mendengar penjelasan dari Defan. Hari ini ia sangat ingin bertemu Jani dan meminta maaf atas kesalah fahaman yang telah terjadi.


Revin memperhatikan jam yang ada di pergelangan tangannya. Tak lama terdengar suara bel. Menunjukkan tanda waktu jam pelajaran di mulai.


"Lu dimana Jan?" ucap Revin dalam hati sambil melihat ke arah tempat duduk Jani yang masih kosong karena sampai saat ini Jani belum juga datang.


Bel pun berbunyi tanda waktu jam istirahat. Sebagian murid ada yang masih di dalam kelas dan sebagiannya lagi langsung menuju ke kantin sekolah.


"Berasa panas ya hari ini." ucap Aldi sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke wajahnya.


"Lu belum mandi kali tadi pagi." celetuk Vino.


"Sembarangan klo ngomong. Gue mah klo masalah mandi nomor satu ya." ucap Aldi kesal tidak terima.


"Lah terus napa lu tadi ngomong gitu? Perasaan suasananya sama key biasanya." ucap Fero.


"Tau lu. Nggak usah ngadi-ngadi deh." timpal Fani.


"Ckk,,biasanya tuh suasana di sekolah kitakan sejuk. Emang kalian nggak merasa kehilangan sesuatu gitu?" tanya Aldi mereka semua.


"Kehilangan apa by?" tanya Mia balik.


"Keynya cowok lu lupa minum obat tuh Mi." cibir Vina.


"Ett dah. Lu pikir gue penyakitan." ucap Aldi kesal.


"Ya,lu lagian dari tadi ngomongnya ngaco." ucap Fani.


"Klo lu Rev,merasa ada yang hilang nggak?" tanya Aldi pada Revin. Sedangkan yang di tanya hanya menaikkan kedua alisnya.


"Ckk,,denger nih ya..." sebelum berbicara,Mia menyela omongan Aldi.


"Eh,kira-kira si Jani kemana ya? Ko hari ini dia nggak masuk." ucap Mia.


"Nah eta!" seru Aldi sambil menunjuk ke Mia. Mereka semua pun di buat kaget oleh seruan Aldi.


"Kenapa tadi gue ngomong klo suasana di sekolah kita ini. Berasa panas nggak key biasanya. Itu di karenakan si Princess Salju hari ini nggak masuk sekolah." jelas Aldi.


"Maksud lu,Jani?" tanya Revin yang mulai bicara.


"seratus buat lu." jawab Aldi sambil mengacungkan jari jempolnya.


"Lah,apa hubungannya dah. Jani yang nggak masuk sekolah sama suasana sekolah kita jadi panas?" tanya Fero yang masih tak mengerti dengan omongan Aldi.


"Denger nih ya. Di sekolah kitakan terkenal ada 2 manusia dingin. Yang satu Princess Salju yaitu si Jani dan yang satu lagi Raja Es yaitu si Revin." tunjuk Aldi pada Revin. "Berhubung Princess Salju yaitu si Jani hari ini nggak masuk sekolah. Jadi gue merasa klo suasana sekolah kita ini rada panas gitu." lanjut Aldi.


"Lah,kan masih ada si Revin." ucap Vino sambil melihat ke arah Revin.


"Ya,iya sih. Tapi klo cuma ada Revin doang mah kurang sejuk. Apa lagi si Raja Es nya lagi galau mikirin keberadaan si Princess Salju." cibir Aldi sambil melirik ke arah Revin. Yang di lirik hanya diam dengan wajah cuek.


"Au ah,Al. Ngomong sama lu mah udah key kincir angin. Puyeng gue dengernya." ucap Fani kesal.


"Otak lu aja tuh yang cetek." celetuk Aldi. Seketika langsung mendapatkan tatapan tajam dari Fani.


"Eh,itu Juna." ucap Vina sambil menunjuk ke arah Juna. Mereka pun melihat ke arah seseorang yang Vina tunjuk.


"Oiya. Juna,!!!" seru Fero memanggil Juna.


Juna yang mendengar ada yang memanggil namanya. Ia mencari arah sumber suara tersebut. Ia melihat di pojok kantin sana ada Aldi yang sedang melambaikan tangannya ke arahnya dan ia juga melihat ada teman-teman kakaknya yang lain. Juna melangkah mendekati mereka.


"Hey,kak.!" sapa Juna yang baru tiba di antara mereka.


"Hey," ucap Fani sambil tersenyum.


"Jun,si Princess Salju kemana. Kok hari ini dia nggak masuk sekolah?" tanya Aldi.


"Siapa Princess Salju,bang?" tanya Juna bingung dengan ucapan Aldi.


"Kakak lu." jawab Vino.


"Oh,ka Jani. Hari ini dia pergi ke luar negeri." ucap Juna.


"Apa!!!" seru mereka bersamaan.


Mendengar itu Revin langsung lari meninggalkan mereka semua.


"Bang Revin mau kemana?" seru Juna yang melihat kepergian Revin. Tapi tak di jawab oleh Revin,karena jarak Revin sudah berada jauh dari mereka.


Tiba di parkiran sekolah,Revin langsung masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya menuju bandara dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sepanjang jalan tak henti-hentinya Revin mengklason mobil karena suasana jalan yang lumayan macet.


"Kenapa lu harus pergi secepat ini Jan. Bahkan gue belum minta maaf sama lu." ucap Revin marah sambil memukul-mukul setir mobilnya.


Sekitar tiga puluh menit mobil Revin memasuki area bandara. Ia memarkirkan mobilnya dan langsung masuk ke dalam bandara mencari keberadaan Jani.


"Lu dimana Jan. Tolong jangan pergi." ucap Revin lirih yang masih mencari keberadaan wanita yang di cintai itu. Tapi seakan takdir tak berpihak padanya. Lama ia berlari mengelilingi bandara untuk mencari Jani,tetap saja orang yang di cari tak kunjung ketemu.


Revin naik ke atas gedung. "Aaaaaaaahhhhhhhhh" teriak Revin frustasi. Tubuh Revin pun ambruk ke bawah,seakan seluruh tubuhnya lemas tak sanggup menopang tubuhnya sendiri.


"Nggak perlu. Di sini yang harusnya sadar,ya lu."


"Harus berapa kali gue bilang ke lu,klo gue sama Defan nggak ada hubungan apa-apa. Bahkan jawaban Defan sendiri pun sama key gue. Gue juga udah mau jelasin ke lu tapi lu lebih percaya sama gosip murahan dan foto itu."


"Lu tanya aja sama dia. Gue udah males berurusan sama cowok keras kepala."


Semua bayangan pertengkaran ia dengan Jani kemaren di parkiran Mall seakan-akan berputar di benaknya.


"Maafin gue Jan. Gue bodoh,kenapa gue baru sadar sekarang. Harusnya gue denger penjelasan dari lu dulu" sesal Revin sambil menonjok lantai tersebut.


"Terserah,lu mau percaya sama gue atau nggak. Tapi satu hal yang harus lu tau. Gue nggak pernah bohong soal orang yang ada di masa lalu gue."


"Di sini bukan cuma lu yang kecewa tapi gue pun sangat kecewa sama lu. Gue pikir,lu udah mengerti tentang gue tapi kenyataannya gue salah. Sampai kapan pun,lu nggak akan pernah bisa mengerti tentang kehidupan gue. Sama halnya dengan mereka."


Begitu pun bayangan pertengkaran ia dengan Jani beberapa hari yang lalu di roof top sekolah.


"Jangan pergi Jan. Tolong kasih gue kesempatan untuk menebus semua kesalahan yang udah gue lakukan selama ini sama lu. Gue sayang sama lu Jan. Gue berharap lu menjadi wanita terakhir yang gue cintai dalam hidup gue. Maaf klo gue udah buat lu kecewa" ucap Revin lirih. Baru kali ini seorang Revin yang terkenal dingin menangisi kepergian wanita.


"Papah cuma bilang klo Papah menunggu kedatangan kk di prancis dan Papah juga masih tunggu jawaban dari kk."


Sejenak ia teringat obrolan Jani dengan Juna sewaktu itu,dalam perjalanan menuju Mall.


"Prancis." ucap Revin tersadar,lalu ia berdiri.


"Aaaaaaaaahhhhhhhhhh,,gue sayang lu. Kenapa lu harus pergi tinggalkan gue. Kenapa lu nggak kasih kesempatan buat gue." teriak Revin meluapkan segalanya.