Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
234 Market


Dhea menatap Fio, memandangi sahabatnya itu yang melamun. Dia merasa akhir-akhir ini, Fio seperti memiliki masalah. Dia juga tahu, Fio kadang melirik pada Juna, Arya, bahkan Vean.


Bertahun-tahun berteman dengan Fio, tentu saja Dhea sangat tahu bagaimana gelagat sahabatnya itu.


"Lagi melihat apa?" tanya Vean.


"Fio, aku rasa dia ...."


"Jangan dipikirkan!"


Bukan hanya Dhea saja sebenarnya yang memperhatikan gadis itu, tapi juga Juna. Juna menghela nafas berat, dia jadi ikut-ikutan pusing melihat Fio seperti itu.


💦💦💦


Satu minggu lagi akan diadakan fashion show brand milik Dhea. Ibu muda itu sibuk mempersiapkan semuanya. Namanya semakin dikenal sebagai perancang, juga dikenal sebagai istri dari pengusaha muda yang sukses. Dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang juga dari kalangan berada—cantik dan tampan, pasti banyak yang iri padanya.


Begitu juga dengan Vean. Wajahnya sering terpampang di majalah bisnis. Seorang pengusaha muda yang juga memiliki saham di rumah sakit internasional, donatur tetap di panti-panti asuhan, memiliki istri yang cantik dan sukses, juga anak yang cantik. Meski untuk yang satu ini, tidak banyak orang luar yang tahu bagaimana rupa wajah anak Vean itu.


Bisnis Vean semakin meningkat ke sektor lainnya. Mempekerjakan anak-anak panti, baik yang telah lulus SMA, atau yang telah lulus kuliah.


"Terima kasih ya, Kak Dhea, Kak Arya. Berkat kalian, hidup kami menjadi lebih baik," ucap salah satu anak panti.


Mereka tahu, Vean dan Juna, juga keluarga mereka bisa sebaik ini, karena Dhea dan Arya pernah menjadi anak panti di panti asuhan mereka.


"Kalian ini bicara apa, sih. Kalian adalah keluarga pertama kami, adik-adik kami. Jadi jangan bilang terima kasih. Ini juga karena kalian memang layak. Kalian pintar, hanya saja mungkin nasib kita yang harus besar di panti asuhan."


Dhea hanya berharap, jika nanti yang lainnya telah sukses, mereka tidak akan melupakan panti. Tetap ingat dengan adik-adik mereka. Jangan seperti beberapa anak lainnya terdahulu, yang telah diadopsi oleh orang kaya, tapi tidak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya.


Senior-senior Dhea dan Arya di panti. Entah di mana mereka sekarang.


Vean membelai rambut Dhea. Hati istrinya itu memang lembut. Dhea selalu ingin memberikan apa saja untuk mereka. Jadi, ini salah satu cara yang bisa Vean lakukan. Vean juga jadi merasa punya banyak adik. Maklum saja, dia tidak punya saudara kandung, dan saudaranya hanya Juna saja dulu.


"Kalian juga bisa bekerja di kantor cabang. Tolong bantu aku, ya. Soalnya Arya dan Erza juga sudah kerepotan mengurus perusahaan yang lain."


Tentu saja satu orang tidak mungkin bisa mengurus semuanya sendirian. Dhea dan para sahabat perempuannya juga sedang merintis usaha baru, tapi Vean melarang Dhea terlalu sibuk. Bukan apa-apa, dia takut Dhea sakit lagi. Dokter Stevie juga lebih sering bekerja di klinik Juna, biar bisa lebih sering melihat keadaan Faustin dan Yuki.


"Dhea, kalau kamu tidak sibuk, kapan-kapan temani aku belanja, ya," ucap dokter Stevie.


"Tidak terlalu jauh dari sini, ada market," ucap Juna, menahan tawa.


"Benarkah?"


"Ya, tapi harus ke sana pagi-pagi sekali. Jam empat. Kalau perlu, jam dua pagi sudah di sana."


Yang ada dalam bayangan dokter Petter dan dokter Stevie, market berarti supermarket. Sedangkan market versi Juna, ya market.


Market\=pasar.


Juna sudah membayangkan bagaimana mengerjai para bule ini.