
"Si Yuki ini, kalau lagi anteng, aja, pasti ke emak bapaknya. Tapi coba kalau lagi rese, pasti larinya ke aku dan Arya."
Juna sudah puyeng karena diunyeng-unyeng oleh Yuki. Mau marah, tapi tidak bisa. Bukannya Juna tidak suka, dia justru senang karena Yuki tidak takut padanya.
Dhea buru-buru membuat bubur untuk Yuki dan Faustin. Jika Dhea membuat bubur, maka dokter Stevie membuat susu dan sarapan untuk yang lain.
Mereka saling bekerja sama membereskan apa yang berantakan, termasuk Clara, Fio, Sikap dan Sheila.
Ibu panti juga sedang menyapu di halaman depan,karena banyak sampah bekas orang-orang makan tadi malam.
"Seharusnya mereka tahu apa itu membuang sampah pada tempatnya!" ucap Arya yang ikut membantu.
Bukannya dia tidak mau membantu, tapi dia tidak suka dengan orang-orang yang tidak tahu aturan dan menyusahkan ibu panti seperti ini.
"Ya ampun, pohon ini sampai patah!" katanya lagi.
"Gas, coba periksa yang lain. Ayunan Yuki aman, gak?"
Arya benar-benar memperhatikan kebutuhan Yuki. Maklum saja, keponakan kesayangan. Para pedagang juga sepi. Biasanya juga sudah tang teng tang teng.
Teng teng teng
Tuh, baru saja dipikirkan, sekarang sudah terdengar.
"Jualan, Bang?"
"Jualan, dong. Harus tetap semangat jualan biar bisa tetap makan."
Mendengar tang teng tang teng, Yuki langsung berlari ke luar dengan tubuh gembul yang megal-megol.
"Bubuy jojo."
"Bubur kacang ijo?"
"Bubuy jojo."
"Beli, Bang," ucap Vean. Padahal Dhea sedang menyuapi Yuki bibir ayam buatannya.
"Faustin mau apa?"
"Sama kaya Yuki."
"Ayo, Pak, kami bantuin."
Para pedagang dan warga dari gang yang lain datang membantu. Meskipun wajah masih terlihat layu, tapi mereka tidak diam saja. Bagaimana pun juga, acara tadi malam memberikan banyak rejeki untuk para pedagang. Juga membuat hati bahagia untuk warga dan anggota keluarganya.
Jadi, mereka harus tahu bersyukur dan berterima kasih.
"Mam tu." Yuki menunjuk tukang lontong sayur.
"Beli, Bang," ucap Vean.
"Yuki kan sudah makan banyak, nanti dia kekenyangan."
"Paling nanti kalau gak habis buat Arya atau Juna," jawab Vean santai.
Kedua pria itu lalu mendelik kesal pada Vean. Mereka juga sudah kenyang, kenapa harus dijadikan korban kekalapan anaknya?
Tapi bukannya dimakan oleh Yuki, balita itu lalu menyuapinya untuk Vean. Arya dan Juna tertawa bahagia.
"Senjata makan tuan!" ucap Arya.
Vean menghela nafas.
"Yuki suapi. Faustin saja, ya."
Kali ini, dokter Petter yang mendelik kesal. Tapi kedua bocah itu malah suap-suapan.
"Calon mantumu, Vean," ucap Felix.
Vean jadi diam. Dia membayangkan nanti Yuki menikah. Matanya tiba-tiba saja berkaca-kaca. Dibenaknya sedang merinci, berapa banyak undangan yang harus dia cetak. Gedung hotelnya yang mana yang harus dia pakai. Tiket bulan madu ke mana yang akan dia beli. Rumah seperti apa yang akan dia berikan.
Dia memandang Yuki dan Faustin, dua sejoli cilik yang lupa akan sekitar, seolah dunia milik berdua. Mata Vean tidak lepas dari keduanya, menyimpan perasaan yang sulit dia jabarkan. Vean menghela nafas berkali-kali, pikiran-pikiran itu tidak bisa lepas dari otaknya.
"Kamu kenapa?" tanya Dhea, yang aneh melihat ekspresi Vean.
"Sayang, sebentar lagi kita mau punya cucu. Bagaimana ini?" Vean memeluk Dhea dengan erat, dengan mata berkaca-kaca.
Dan kepala Vean langsung mendapatkan toyoran sana-sini.