Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
245 Nonton


Selepas Isya, mereka mulai memasang layar tancap. Dhea, Vean, dan Juna sudah duduk dengan tenang. Lagu opening mulai terdengar.


Aku ingin begini


Aku ingin begitu


Ingin ini


Ingin itu


Banyak sekali


Yuki meloncat-loncat kegirangan, sedangkan Juna mendengus.


"Kirain film apaan!"


"Ya buat anak-anak dulu, Jun. Yang buat kita mah, nanti."


"Una, nyi Una. Oget!"


Yuki meloncat-loncat di atas paha Juna. Juna meringis, karena meskipun masih balita, tubuh Yuki itu padat berisi.


"Nyi, oget!" Yuki kini menepuk-nepuk pipi Juna.


"Hai, baling-baling bambu ...." Juna bernyanyi dengan suara seperti suara kambing.


Film dimulai, anak-anak mulai menonton, lalu dilanjutkan dengan film-film anak lainnya. Mata Yuki merem melek dengan kepala terantuk-antuk.


"Bobo yu, Yuki."


Yuki menggeleng, bergerak gelisah takut dibawa pulang. Faustin juga masih segar, dengan mulut yang terus mengunyah makanan.


"Tidurin di kamar saja, Yang. Nanti ada yang jaga di sana."


"Iya."


Dhea lalu membawa Yuki ke rumah panti, ya g jaraknya paling dekat dengan taman itu. Faustin yang melihatnya, langsung ikut. Hampir tidak ada lagi anak-anak yang masih menonton, karena mereka sudah kelelahan.


Faustin ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Yuki yang sudah tidur di atas kasur empuk. Tidak hanya ada kedua bocah itu saja, tapi juga ada beberapa anak panti. Anak-anak di sana sudah mulai berkurang, karena ada yang sudah diadopsi oleh orang lain. Kebanyakan yang diadopsi itu yang masih bayi dan baru masuk ke panti ini.


"Faustin gak apa ikut tidur di sini?" tanya dokter Stevie.


"Ya gak apa, lah. Kenapa aku harus keberatan? Ayo kita keluar lagi, aku juga ingin nonton. Ternyata menyenangkan ya, nonton beramai-ramai di tempat terbuka seperti ini, apalagi cuaca juga mendukung."


Dhea dan dokter Stevie keluar, kembali duduk di sebelah pasangan masing-masing.


Vean, Juna, Felix, Steve dan dokter Petter sangat antusias. Bahkan keluarga mereka juga ikut nonton.


"Ternyata lebih seru dibandingkan nonton di bioskop, ya?"


Vean nonton sambil makan bakso. Tubuh pria itu makin lama makin berisi. Bukan hanya Vena, tapi yang lainnya juga.


Dhea sendiri sekarang sedang makan sate pakai lontong, dan di sebelahnya ada Arya yang hanya makan kacang rebus.


"Ingat waktu kita masih kecil ya, Kak?"


"Iya," jawab Arya.


Acara terus saja berlanjut hingga menjelang Subuh. Mereka langsung masuk ke dalam rumah yang entah rumah siapa, tidak mereka perhatikan. Hanya mencari rumah yang paling dekat saja.


💦💦💦


Yuki menangis mencari kedua orang tuanya. Faustin ikut terbangun, dan mengajak Yuki ke luar kamar.


Ternyata yang lain tadi malam masuk ke rumah ini, dan mereka semua sekarang tergeletak di lantai berkarpet tebal.


"Ngun, ngun!" Yuki menepuk-nepuk dada Vean, bergantian dengan Juna dan Arya. Tidak ada yang menanggapi, Yuki kembali menangis. Ilernya jatuh ke wajah Juna, tapi tetap saja pria itu tidak bangun.


Yuki yang sudah kesal, mengigit hidung Juna.


"Aaaa, sakit!"


Yang lain ikut terbangun mendengar teriakan Juna.


"Kenapa, sih?"


"Hidungku digigit. Ini kenapa mukaku lengket begini?"


"Ngun, ngun. Nton."