
Pintu ruangan VVIP itu terbuka, mereka terkejut melihat kedatangan Vean di sana. Dari mana pria itu tahu, kalau Dhea di pindahkan ke negara ini?
"Apa kalian belum cukup puas bersikap seenaknya padaku?" tanya Vean dengan tatapan tajam dan dingin. Dia langsung masuk ke dalam ruangan ICU, melihat Dhea yang masih memejamkan matanya.
"Dhea, aku datang." Vean menyentuh tangan gadis itu, dan mengusapnya dengan pelan.
Vean duduk di samping brankar Dhea, memandang wajah gadis itu dengan lekat.
Tidak lama setelah Vean datang, Fio dan kedua orang tuanya juga kedua orang tua Vean datang.
Bram menghela nafas.
"Untuk apa kalian juga datang ke sini? Aku membawa Dhea pergi jauh dari kalian, karena ingin Dhea menjalani perawatan dengan baik."
"Om, aku ...."
"Pergilah. Jangan pernah datang lagi."
"Sebagai orang tua dari Ghea, aku melarang kalian semua datang. Paham!"
"Tidak, aku tidak mau pergi. Vean saja boleh datang ke sini, kenapa aku tidak?"
Dia lalu menuju ruang ICU, membuka sedikit pintu itu. Dan mereka bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Vean ....
"Kamu seperti putri tidur. Aku, akan membacakan sebuah cerita untuk kamu. Setelah mendengarnya, kamu harus bangun."
Vean mengambil buku yang ada di dalam tasnya, membuka buku yang cukup tebal itu, lalu membacakannya untuk Dhea ....
Mereka, di balik pintu, terdiam ....
Mendengar cerita yang dibacakan oleh pria itu penuh penghayatan.
Clara Fio bahkan Aila dan Sheila menunduk sedih.
Vean tersenyum sambil membacakan dengan pelan. Tidak ingin terburu-buru menyelesaikannya, karena ingin Dhea mendengarkan semuanya dengan baik, tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
"Kamu tahu Dhea, kalau putri tidur akan bangun jika dicium, aku ingin kamu bangun setelah mendengar cerita ini," sela Vean di tengah-tengah ceritanya, kemudian kembali melanjutkan membaca.
Pria itu sesekali tersenyum, tapi juga mengeluarkan air mata meski tanpa suara.
Di sana, jantung Dhea berdetak kencang. Dia seperti mendengar bisikan. Bisikan yang membuat hatinya tak menentu.
Merasa rindu
Ingin mendekap sesuatu, tapi apa yang bisa dan harus dia dekap, jika dia saja sendirian di sini.
Aku rindu, ucapnya lirik di dalam hatinya.
Langit cerah hari ini, namun hatinya kelabu.
Dhea masih duduk di sana. Melihat langit dengan awan putih seperti kapas.
Dhea diam, mendengar dengan tenang bisikan-bisikan dongeng di telinganya. Gadis itu tersenyum, tapi juga menangis. Tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu.
"Aku akan membacanya lagi nanti untuk kamu, Dhea."
Selesai membaca, Vean tidak langsung keluar, dia masih tetap duduk di tempatnya.
Keesokan paginya, Vean kembali melanjutkan membaca buku. Bahkan jika satu buku tebal ini habis, dia akan kembali mengulanginya. Tidak peduli apakah Dhea akan bosan mendengarnya, tidak peduli dia akan merasa lelah jika mengulang kalimat demi kalimat.
Bahkan dia yakin, dirinya sendiri sudah sangat hapal dengan isi tulisan itu.
Vean menjeda sejenak, menatap mata yang masih terpejam rapat.
Vean membaringkan kepalanya, tangannya masih memegang buku, dan tidak lama kemudian dia tertidur.
.
.
.
"Dhea ...."
Gadis yang dipanggil Dhea itu tersenyum.
"Kak Vean, aku sudah sedang di sini. Tolong ikhlaskan aku, agar jalanku lapang dan aku tidak terus tersesat."
"Ayo pulang. Jika kamu tersesat, aku yang akan menuntun kamu ke arah yang benar."