
Vean mengambil makanan yang baru saja diantar oleh perawat.
"Ayo makan."
"Aku bisa makan sendiri."
"Ayo buka mulut kamu."
Dhea akhirnya membuka mulutnya, dengan perasaan malu.
Kenapa mereka terus saja melihatku seperti ini? Maaf Fio, bukan aku yang meminta kak Vean menyuapi aku.
Dhea meremas tangannya, rasanya dia tidak kuat terus ditatap seperti ini, apalagi oleh Fio, kedua orang tua Fio, juga kedua orang tua Vean. Ditatap oleh yang lain, dia masih bisa biasa saja, tapi tidak untuk kedua keluarga yang mungkin tidak akan lama lagi menjalin hubungan keluarga.
"Pelan-pelan." Vean memberikan minum untuk Dhea, membersihkan sudut bibir gadis itu, lalu mengusap kepalanya.
Dhea?
Jangan ditanya.
Wajahnya semakin merah, semakin salah tingkah, dan jantungnya semakin berdetak kencang.
Aku mungkin bisa sembuh dari penyakit ginjal ini, tapi mungkin setelah ini, aku akan sakit jantung.
"Dada kamu sakit?" tanya Vean panik.
"Coba sini aku periksa," ucapnya lagi.
Wajah Dhea yang tadinya sedikit merah, ini lebih merah lagi.
"Jangan modus, kamu bukan dokter. Aku yang akan memeriksanya."
"Kamu yang jangan modus, kamu itu bukan dokter jantung."
Sementara Vean dan Juna berdebat, Arya malah memberikan Dhea buah yang sudah dia potong.
Vean mendengus saat Arya memberikan perhatiannya pada Dhea.
"Biar aku saja, kamu minggir sana!"
Fio memperhatikan Vean yang sangat perhatian pada Dhea, berbeda sekali dengan sikap Vean pada dirinya.
Tidak ada yang berkomentar dengan perilaku Vean itu, tapi itu justru membuat Dhea tidak nyaman.
Masih bisa diingat dengan jelas oleh Dhea, bagaimana Mila yang marah-marah padanya di depan pintu toilet, hingga dia pingsan.
💦💦💦
Dia selalu menikmati suasana sunyi seperti ini, membuat dia bisa memikirkan banyak hal tanpa batas.
Pintu kamarnya terbuka, kedua kata itu langsung saling menatap.
Dhea menatap Vean, pria yang pertama kali ditemuinya saat dia masuk SMP. Pria yang menjadi cinta pertamanya.
Kalau ditanya kenapa dia menyukai Vean, dia juga tidak tahu.
Tampan?
Tentu saja, bagi Dhea, Vean sangat tampan. Meski mungkin bagi orang lain, ada yang lebih tampan dari Vean.
Baik?
Dhea tidak tahu, karena saat itu, dia sama sekali tidak mengenal Vean. Tidak tahu apakah pria itu baik, atau seorang playboy.
Yang Dhea tahu, jantungnya berdebar saat itu.
Mungkin sudah saatnya aku benar-benar mengikhlaskan kak Vean. Mungkin aku harus meminta maaf pada mereka dengan cara yang baik, agar hidupku juga menjadi lebih baik.
Pintu kembali terbuka, dan kini mereka satu persatu masuk ke dalam kamar perawatan itu.
"Ada yang mau bertemu dengan kamu, Dhea," ucap dokter Bram.
Mereka semua menoleh ke pintu.
Dua orang pria dewasa dengan sedikit uban, masuk ke dalam kamar, disusul oleh dua orang perempuan dewasa, yang masih terlihat cantik meski telah berumur.
Air mata Dhea langsung menetes. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi ada rasa lega dalam dirinya bisa melihat mereka lagi.
Dhea tahu, Dhea sadar, belum saatnya dia pergi. Belum saatnya dia meninggalkan mereka semua.
"Bagai keadaan kamu?"
Dhea mengatur nafasnya yang tercekat, dan mengusap air mata di pipinya.
Dhea tersenyum, tapi juga menangis.
Gadis itu terisak.
Dia menggeleng, tapi juga mengangguk.
Suatu perasaan yang sangat sulit dia ungkapkan ....