
"Itu siapa?"
"Mana?"
"Itu, yang tadi kamu tinggalin."
"Oh, adik kelas. Minta diajarin matematika."
"Bohong."
"Kalau enggak percaya, enggak usah nanya."
Juna mendengus mendengar perkataan Vean. Galak amat, pikirnya.
Juna lalu menoleh ke belakang, melihat gadis berseragam SMP itu yang berjalan menuju sekolahnya sambil melonjak senang. Meskipun hanya melihat dari belakang saja, tapi Juna bisa merasakan kalau gadis itu gadis yang ceria.
"Apa yang kamu lihat. Ayo buruan!" ajak Vean.
Dia tidak suka ada yang memperhatikan Dhea, hanya dia saja yang boleh. Orang lain jangan.
Dhea menoleh ke belakang, berharap Vean akan menoleh juga. Tapi nyatanya, pria itu tetap berlalu dengan temannya.
Gak apa sekarang dicuekin, nanti juga dipikirin.
Dhea meloncat-loncat girang karena pikirannya sendiri, saat itulah Juna dan Vean melihatnya dari belakang.
Vean menahan senyum, melihat keceriaan gadis itu yang tak pernah redup walau hanya satu hari saja.
...💦💦💦...
.Hari ini hari pertama liburan akhir tahun ajaran. Vean menghela nafas, dia merasa bosan.
Ck, Dhea lagi apa, ya?
Vean lalu pergi ke kafe tempat Dhea bekerja.
"Kak, nyari aku, ya? Kangen, ya?"
"Aku ada janji sama teman aku. Enggak usah GR."
Satu jam kemudian
"Kak, temannya belum datang?"
"Belum, lagi macet kali."
Padahal Vean tidak janjian dengan siapa pun.
Vean melihat Dhea yang sibuk mengangkat gelas dan piring kotor. Mengelap meja, mengantar makanan.
Beberapa menit Vean tidak melihat Dhea.
"Mas, Dhea ke mana?"
"Oh, Dhea lagi nyuci piring di belakang."
"Nyuci piring?"
"Iya."
Vean lalu pergi ke arah belakang, melihat gadis itu sedang mencuci tumpukan gelas dan piring.
"Hati-hati Dhea, nanti kalau pecah, kamu disuruh ganti."
"Iya, Kak."
Vean menghela nafas, kenapa gadis itu harus kerja keras seperti ini?
"Tuan, lagi apa?"
"Nyuci."
Ya, Vean ingin mencoba mencuci peralatan kotor itu.
Prang
Satu piring pecah, tergelincir dari tangannya karena licin.
"Biar saya saja, Tuan."
"Bibi diam saja. Mendingan kasih tahu aku, ini Sidah benar apa belum?"
"Sabunnya jangan terlalu banyak, Tuan. Dibilasnya juga harus bersih, seperti ini."
Setiap kali Vean mencoba, ada saja yang pecah.
Gimana kalau dia yang memecahkan dan disuruh ganti? Bisa habis uang gajinya. Dia digaji berapa, sih? Dia masih SMP kenapa harus kerja seperti itu?
Vean tidak tahu saja, kalau untuk kerja di sana, Dhea harus memohon-mohon, karena pemilik kafe tidak mau mempekerjakan anak di bawah umur.
"Bibi saja lah, yang lanjutkan."
Vean lalu mencoba menyapu. Bukannya bersih, malah kotorannya ke mana-mana.
Para asisten rumah tangga, hanya heran melihat anak majikannya itu.
"Jangan bilang-bilang sama papa mama!"
"Baik, Tuan."
Setiap malam, diam-diam Vean selalu menjaga Dhea. Memastikan gadis itu pulang dengan selamat. Dia tidak pernah tenang membiarkan Dhea pulang sendiri.
"Kamu tiap malam ke mana, sih?"
"Jalan-jalan, habis bosan di rumah."
"Sama siapa?"
"Sendiri."
"Kenapa tidak sama Juna?"
"Bosan lihat muka dia."
Juna yang baru saja datang, langsung melempari pria itu dengan topinya dari belakang.
Hari ini Dhea sangat ceria, dia duduk di hadapan Vean sambil tersenyum.
"Ini buat Kakak."
"Apa ini?"
"Jam tangan. Kemarin aku gajian, aku sudah menyisihkan uang tiap bulan, dan gajian kemarin aku sudah bisa membeli ini. Murah sih, tapi jangan ditolak ya, Kak."
Vean memalingkan muka, menahan air mata yang ingin jatuh di pipinya.
Kenapa kamu malah mikirin aku? Seharusnya kamu simpan saja uang kamu, Dhe. Kamu lebih butuh.
Dhea menunduk sedih melihat Vean yang memalingkan wajahnya.
Memang hanya barang murah, tidak sebagus dan semahal punya kamu, Kak.