Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
158 Merasa Lega


"Dhea ...."


"Maafkan aku, maafkan aku."


"Aku mencintai kamu. Aku mencintai kamu."


"Aku benar-benar mencintai kamu."


Mendengar igauan itu, Fio menangis. Bukan tangisan sakit hati atau marah. Tapi tangisan lega, ternyata pria itu juga mencintai sahabatnya.


Fio menoleh kepada mereka—kepada kedua orang tua Vean dan kedua orang tuanya.


Mereka semua mendengar. Igauan Vean dalam tidurnya.


Akhirnya pria ini mengakui juga tentang isi hatinya, tentang perasaan yang tidak pernah dia ungkapkan pada siapa pun.


Seharusnya sudah sejak dulu, Vean. Tolong maafkan mamaku yang memaksa perjodohan ini. Yang mengekang perasaan kamu dan sahabatku. Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua.


...💦💦💦...


"Pa, Ma, aku mau bicara."


"Lakukan yang menurut kamu terbaik, Fio. Papa dan mama mendukung kamu."


Saat ini Fio dan Vean bicara berdua.


"Aku mau bicara," ucap mereka berdua.


"Aku mau membatalkan perjodohan kita," ucap mereka lagi.


Keduanya menghela nafas lega.


"Mulai hari ini, kamu harus benar-benar menjaga Dhea. Jangan kecewakan dia lagi. Cepat katakan semua perasaan kamu padanya, jangan sampai kamu menyesal lagi."


"Tentu saja. Jangan menyalahkan Dhea atas semua ini."


"Tentu saja tidak. Tapi aku menyalahkan kamu (dan mamaku juga, sih)."


Vean mendengus, memangnya dia yang meminta untuk dijodohkan, apa?


"Jadi, mulai sekarang kita berteman saja."


"Kamu boleh menjadi temanku, asal tidak menyebalkan. Aku heran kenapa Dhea yang menyenangkan itu bisa memiliki sahabat menyebalkan seperti kamu."


Kali ini Fio yang mendengus.


"Aku heran, kenapa sahabatku yang berhati baik itu, bisa mencintai kamu, yang sangat membosankan."


"Cari Dhea sampai ketemu, aku juga akan mencari dia."


"Tentu saja. Sana pulang, aku sudah gak ada urusan sama kamu!"


"Ya, aku beruntung bisa mengenal dia."


"Kita berdua beruntung bisa mengenal dia. Bukan begitu ... calon adik ipar?" ucap Fio.


Kedua tersenyum, sama-sama lega.


...Flashback Off...


"Jadi ... jadi kamu tidak mencintai kak Vean?"


"Enggak. Dia galak, judes, gak romantis. Gak bisa aku ajak bermanja-manja."


"Apaan sih, menjauh sana!" Arya mendorong Fio saat gadis itu tanpa sadar merangkul lengannya, dan bersandar di lengan itu.


Fio bergeser, dan melihat Juna di sebelah kirinya.


"Jangan sama aku, aku juga gak romantis. Nanti kalau kamu nyebelin, aku suntik mati. Mau?"


Fio menghentakkan kakinya.


"Kalian bertiga memang tidak ada yang asyik."


Dhea terkekeh.


"Tapi ... kamu tidak terpaksa kan, Fio?"


"Enggak. Kamu kan tahu sendiri bagaimana tipeku. Kecuali kalau dulu Vean romantis dan perhatian. Nah, baru tuh aku mau. Buat aku aja, apa?"


"Jangan macam-macam, Fio."


"Tapi Dhea ... kenapa sama kamu, dia bisa perhatian begini? Aku iri, mau punya pacar juga!" Fio mulai merajuk, merangkul paksa lengan Juna.


Juna akhirnya hanya bisa pasrah saja.


Dhea lalu melirik kedua orang tua Vean dan Fio.


"Kamu merestui kalian berdua. Bukan karena balas budi atau kasihan. Tapi karena kami ingin yang terbaik untuk Vean, ingin melihat dia bahagia dengan gadis yang dicintainya."


"Tante juga minta maaf ya, Sayang," ucap Mila.


Cih, sekarang saja, baru manggil Sayang, batin semua orang (kecuali Dhea).


"Tante beruntung, Fio memiliki sahabat seperti kamu."


Dari kemarin-kemarin, ke mana aja, Bu?


"Jangan menolak Vean karena merasa tidak enak hati dengan siapa pun, ya."