Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
93 Sudahkah Kalian Mendoakan Aku?


"Kenapa?"


Akhirnya satu kata itu keluar juga dari mulut Vean.


"Kenapa kamu melakukan itu?"


"Kenapa?" Kali ini giliran Dhea yang bertanya—kenapa.


"Kenapa Kakak masih bertanya, 'Kenapa?' Tidakkah Kakak tahu alasannya?"


Wajah Dhea tersenyum, senyuman miris.


"Saat aku melihat Fio dan Kakak kecelakaan, aku sangat takut. Takut kalau aku akan kehilangan salah satu, atau mungkin kalian berdua. Aku langsung berpikir, bagaimana dengan kedua orang tua kalian? Kalian berdua sama-sama anak tunggal, kalau sesuatu yang buruk terjadi pada kalian, mereka pasti sedih. Aku ... memberikan darahku untuk Fio, bukan hanya karena dia sahabatku ... tapi karena dia gadis yang Kakak cintai. Kakak pasti akan sedih kan, kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Fio?"


Vean langsung memalingkan wajahnya, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Lalu, saat aku tahu Kakak membutuhkan donor ginjal, aku langsung berpikir ... kenapa bukan aku saja yang memberikan donor itu untuk Kakak? Apa Kakak ingat, dulu ... aku pernah berjanji untuk menjadi bagian dari diri Kakak. Kalau memang aku tidak bisa ada di hati Kakak, maka aku akan menjadikan bagian dari diriku yang lain, untuk menjadi bagain dari dirimu, Kak. Tuhan mungkin memberikan kesempatan ini kepadaku, jadi ... mana mungkin aku melewati kesempatan ini, menjadi bagian dari diri Kakak, seumur hidupmu, Kak."


Vean memejamkan matanya. Tidak sanggup untuk mendengar lebih banyak lagi. Dia ingin melangkah pergi, tapi kakinya sendiri berkhianat, tidak sanggup berdiri apalagi melangkah menjauhi Dhea.


"Aku menyayangi Fio, juga menyayangi Kakak. Jadi aku ingin sekali menjadi bagain dari diri Kakak, meski kita ... entah esok atau lusa, tidak akan pernah bertemu lagi."


Vean menggelengkan kepalanya.


Tidak, dia tidak mau mendengar perkataan itu.


"Biar darahku menjadi bagain dari Fio, dan ginjalku menjadi bagian dari Kakak."


"Tapi ... tapi kamu menghancurkan dirimu sendiri, Dhea."


Vean menekan hidungnya kuat-kuat, menggigit bibir dalamnya, dan mengepalkan sebelah tangannya.


Tapi rasa sakit dan sesak saat mendengar perkataan Dhea, tak juga mau sirna.


Tidak, Vean yakin kalau semua kesakitan ini tidak akan pernah sirna ....


"Dokter Bram ... pasti sudah mengatakan pada kalian, apa yang di pendonor itu inginkan, kan?"


Vena diam saja, dia tidak mengerti apa yang Dhea maksud.


"Bukan uang, tapi ... sebuah doa. Aku rasa, kedua orang tuaku sudah meninggal. mungkin dengan cara ini juga, aku bisa segera bertemu dengan mereka. Doa yang diminta dari kalian saat itu ...."


Deg


Deg


Deg


"No ... tidak, Dhea! Jangan lanjutkan lagi! Stop it!"


"Doakan agar aku segera bertemu dengan kedua orang tuaku. Aku ingin bertemu dengan mereka di surga-Nya." Dhea tetap meneruskan perkataannya.


"Sudahkan kalian mendoakan aku?"


Vean menunduk dalam-dalam, menahan guncangan di tubuhnya.


Adai saja dia tahu semua sejak awal kalau ternyata ini maksud dari doa itu, maka Vean tidak akan pernah mendoakan keinginan itu. Tidak akan meng-aamiin-kan doa itu. Biar saja dia dianggap tidak tahu berterima kasih.