Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 98 - Situasi Ibukota Jiayang


PPFC 98 - Situasi Ibukota Jiayang


Ibukota Jiayang merupakan kota paling megah dan maju di Kekaisaran Jia. Sejak kepemimpinan Jia Gunglai, Ibukota Jiayang semakin luas wilayahnya ditambah dengan ratusan bangunan megah yang menjulang tinggi milik para pejabat yang mendukung pemerintahan Jia Gunglai.


Akhir-akhir ini situasi di Ibukota Jiayang semakin panas karena kabar mengenai keluarga bangsawan Ling yang menolak untuk tunduk penuh terhadap pemerintahan Jia Gunglai.


Terlebih kabar mengenai putri kepala bangsawan Ling yang menolak perjodohannya dengan putra dari Jia Gunglai yang bernama Jia Fuchu. Menurut kabar yang beredar Jia Fuchu merupakan anak dari Jia Gunglai dengan mantan istrinya yang telah mati.


Situasi di Ibukota Jiayang semakin panas dan tegang saat beberapa jam yang lalu terjadi pertarungan dahsyat antara Jia Gunglai melawan She Peng.


Setelah berpisah dengan Fei Chen, She Peng tidak kembali ke Gunung Cakrawala Hitam melainkan langsung pergi menuju Ibukota Jiayang melewati rute tercepat.


Setelah kejadian ini secara terang-terangan Jia Gunglai akan melakukan hal yang sama kepada kepala keluarga Ling jika tidak memilih tunduk pada pemerintahannya.


Dahulu Jia Gunglai tidak berani bertindak demikian karena kekuatan tempur keluarga Ling yang besar terlebih anggota Istana Mawar Biru memiliki sejumlah pendekar kuat dan berkemampuan tinggi.


Namun sekarang Jia Gunglai telah memiliki pasukan yang hebat dan tidak kalah dengan pendekar Istana Mawar Biru. Tentu saja jika terjadi pertempuran jumlah kerugian tidak sedikit, tetapi Jia Gunglai sudah memiliki rencana tersendiri untuk mengancam keluarga Ling.


Ambisi Jia Gunglai semakin menjadi saat mengumumkan kepada rakyatnya untuk mewujudkan ambusinya. Sosok She Peng dijadikan contoh jika ada yang berani menentangnya maka akan berakhir mengenaskan.


Di hadapan ribuan rakyat Ibukota Jiayang, Jia Gunglai didampingi Feng Xuanzhang, Gu San dan Xiang He melakukan hal yang membuat seluruh rakyat yang melihatnya terdiam.


Jia Gunglai memenggal kepala She Peng dan menaruh badannya diatas gerbang bersama kepalanya yang tertancap tombak. Pemandangan ini membuat masyarakat menjadi ketakutan terlebih Jia Gunglai tidak hanya melakukan hal ini pada She Peng saja, melainkan orang-orang yang menentangnya akan mengalami kejadian serupa.


Beberapa pejabat yang tidak sepemikiran dengan Jia Gunglai juga berakhir tragis ditangan Jia Gunglai.


Setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya Fei Chen bisa melihat bayangan Ibukota Jiayang yang merupakan kota termegah di Kekaisaran Jia.


‘Aku akan menyusup dan menghilangkan hawa keberadaanku...’ Fei Chen menajamkan matanya dan melihat gerbang pintu masuk Ibukota Jiayang dijaga ketat.


Saat pandangan mata Fei Chen menyapu sekitar gerbang langkah kakinya berhenti begitu juga dengan nafasnya. Kedua matanya melebar dan tubuhnya bergetar.


“She... Peng...”


Seketika mata Fei Chen diselimuti amarah saat mengetahui mayat yang digantung di gerbang adalah She Peng. Yang paling membuat Fei Chen marah adalah kepala She Peng yang terpisah dari badannya di ditancapkan di ujung tombak.


Fei Chen mengetahui jika kondisi jenazah She Peng tidaklah lama. Menurutnya belum ada dua hari dan itu membuatnya berhati-hati tidak bertindak berdasarkan emosi.


“Sebenarnya apa yang terjadi di Ibukota Jiayang? She Peng, mengapa kau ada disini? Bukankah kau akan kembali ke Gunung Cakrawala Hitam-”


Fei Chen tidak melanjutkan perkataannya saat mengingat kemarahan She Peng setelah Golok Kembar menyinggung kondisi Ibunya.


Kurang lebih Fei Chen mengetahui kondisi jiwa She Peng. Jika dirinya berada dalam posisi She Peng, kemungkinan dia akan melakukan hal yang sama.


“Begitu banyak kejadian yang hampir serupa dengan yang menimpa diriku...” Tatapan Fei Chen gelap dan ekspresi wajahnya tidak menunjukkan senyuman sedikitpun.


“Jika mereka menghalangiku, akan kubunuh!”