Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 211 - Habis Olahraga


PPFC 211 - Habis olahraga


Suara burung mulai berkicauan, sinar mentari menembus kehangatan malam yang kian menghilang berganti menjadi pagi.


Fei Chen terbangun lebih awal dibandingkan Murong Liuyu yang masih tertidur memeluk tubuhnya. Berulang kali Fei Chen mengerjapkan matanya saat mengetahui ada bercak darah disekitar paha Murong Liuyu.


Fei Chen memejamkan matanya untuk sementara saat mengetahui Murong Liuyu menerima darah dan ingatan dari dirinya. Mengetahui jika Murong Liuyu memiliki kondisi khusus dimana dapat menerima kondisi tubuhnya, akhirnya Fei Chen mengecek kondisi tubuh gadis itu secara langsung.


“Tubuh Dewi Naga Angin...” Saat Fei Chen tersenyum, dirinya dikejutkan dengan nadi khusus dalam tubuh Murong Liuyu yakni Nadi Api.


“Angin dan api ya?” Tentu dua elemen ini saling bersebrangan, namun kondisi unik tubuh Murong Liuyu ini membuat Fei Chen berdecak kagum karena mengetahui gadis itu akan memiliki banyak keuntungan jika melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang.


“Aku akan bertanggung jawab, Senior Liuyu...” Fei Chen mengecup kening Murong Liuyu dan mengenakan pakaiannya lalu bergegas menuju Kolam Siksa Petir.


Tak lama setelah Fei Chen pergi, Murong Liuyu terbangun dengan tubuhnya yang terasa begitu ringan. Murong Liuyu merasakan tulang-tulang dalam tubuhnya lepas.


“Aduh!” Murong Liuyu memekik kesakitan saat mencoba duduk. Gadis ini mendengar Fei Chen yang memberitahu kondisi tubuhnya. Wajahnya terlihat begitu letih dan lelah.


“Lebih aku tidur...” Murong Liuyu menggumam pelan sebelum memejamkan matanya. Namun saat memejamkan Murong Liuyu mengingat bentuk tubuh Fei Chen terlebih bagian bawahnya.


“Kya!” Murong Liuyu menjerit mengingat besarnya kebanggaan Fei Chen yang menghancurkan keangkuhan dirinya.


“Fei Chen dimana kau?!” Murong Liuyu merapatkan giginya kesal mengingat rasa sakit yang dia alami.


Di Kolam Siksa Petir terlihat Fei Chen yang telah selesai membersihkan diri dan hendak kembali ke Lembah Sunyi tertawa kecil.


Murong Liuyu melempar apa saja yang ada didekatnya untuk melampiaskan kekesalannya. Kedua dayang langsung menuju kamar Murong Liuyu dan membawa sejumlah makanan.


“Apa yang Yang Mulia lakukan sampai membuat Nyonya Murong seperti ini?”


Ketika dayang itu bertanya, Murong Liuyu menjelaskan kepada mereka tentang bagaimana kejamnya Fei Chen membuat dirinya tidak bisa berjalan, namun penjelasan Murong Liuyu membuat kedua dayang tersebut senyam-senyum sendiri.


“Pantas saja Yang Mulia memiliki banyak istri. Aku menjadi penasaran.”


“Yang Mulia tidak akan tertarik dengan janda seperti kita. Tetapi aku ingin merasakan keperkasaan Yang Mulia.”


“Sama aku juga. Beruntungnya Nyonya Murong menjadi istri Yang Mulia.”


“Hei, apa otak kalian berdua sudah tidak waras?” Murong Liuyu tidak habis pikir penjelasannya justru membuat kedua dayang itu ingin berada di posisi dirinya.


Akhirnya Murong Liuyu membiarkan kedua dayang itu memandikan dirinya ataupun menyiapkan segala kebutuhannya.


‘Aku benar-benar merasa lelah...’ Hati Murong Liuyu terus berdegup kencang setelah kesuciannya direnggut Fei Chen. Bahkan gadis ini kembali tertidur pulas dengan senyum mengembang.


____


Sementara itu...


“Qi dalam tubuhku terasa begitu melimpah. Apa ini karena semalam?” Fei Chen membunyikan lehernya dan berjalan menuju arah timur.


Mengingat dirinya semalaman meninggalkan Lembah Sunyi, tentu saja banyak hal yang terjadi. Namun Fei Chen tidak pernah menyangka jika dirinya melihat kedua istrinya bertarung hebat melawan sosok pemimpin Lentera Iblis Tunggal.


Melihat perkembangan Jia Li dan Yin Jinxia membuat Fei Chen tersenyum. Kemampuan keduanya berkembang pesat dan memperlihatkan banyak kemajuan.


Saat mengetahui kedua istrinya itu terdesak, Fei Chen mengeluarkan Pedang Raja Neraka dari telapak tangan kanannya lalu melemparnya kearah lokasi pertempuran Jia Li dan Yin Jinxia.


“Siapa lagi tikus yang berani mengganggu diriku?!”


Pria yang tidak lain adalah Sun Ma sang pemimpin Lentera Iblis Tunggal menatap tajam Fei Chen yang datang secara tiba-tiba.


“Chen‘gege, kau darimana saja?”


“Chenchen, kau darimana saja?”


Jia Li dan Yin Jinxia bertanya secara bersamaan saat mengetahui kedatangan Fei Chen.


Jia Li dan Yin Jinxia telah mencari keberadaan Fei Chen namun tidak menemukan pemuda tersebut. Dan sekarang Fei Chen tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


Mendengar pertanyaan Jia Li dan Yin Jinxia tentunya membuat Fei Chen tersenyum kecut saat hendak menjawab.


“Aku baru saja olahraga dan melakukan meditasi...”


Jawaban Fei Chen terdengar meyakinkan bagi Jia Li dan Yin Jinxia, namun saat melihat senyuman kecut pemuda itu, Jia Li dan Yin Jinxia menjadi curiga.