Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 334 - Tolong Jaga Dia Untukku


PPFC 334 - Tolong Jaga Dia Untukku


Ketika Shogun Raido mengumpulkan orang-orang kepercayaannya, Fei Chen menunggu Ichiba tenang dan tersadar dari pingsan setelah menangis histeris.


Tidak sengaja Fei Chen menemukan surat dari Hirataka yang dipegang Ichiba dan merupakan sebuah pesan untuk dirinya. Fei Chen penasaran dan membacanya, alangkah terkejutnya dirinya saat membaca surat terakhir dari Hirataka.


‘Tuan Chen, aku sudah tidak memiliki alasan untuk hidup. Aku tidak bisa membalaskan kematian Tuan Gara Kagura. Banyak penyesalan dalam hidupkan dan penyesalan terbesarku karena tidak pernah membahagiakan Ichiba. Aku gagal sebagai lelaki setelah membuatnya menderita. Kenaifanku dan kegagalanku membuatnya menderita. Aku berharap jika diriku telah tiada, kau bisa menggantikan diriku untuk mengawasi Ichiba. Tolong jaga Ichiba untukku, Tuan Chen...’ Sepenggal surat terakhir dari Hirataka membuat Fei Chen tersenyum kecut.


Fei Chen mengusap matanya dan menghela nafas panjang karena harus merelakan kematian Hirataka. Dengan semua yang terjadi akhirnya Fei Chen semakin sadar bahwa dirinya belum terlalu mengenal Hirataka terlalu jauh.


“Kau... Apa kau membaca surat itu?”


Saat Fei Chen melamun menatap surat terakhir yang ditulis Hirataka, suara Ichiba terdengar dan terlihat wanita itu menatapnya penuh pertanyaan.


Fei Chen terdiam saat menatap Ichiba lalu mengembalikan surat milik Hirataka dan berdiri.


“Nyonya Ichiba, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” Setelah berdiri Fei Chen bertanya.


Ichiba memperhatikan Fei Chen dan merasa jika pemuda dihadapannya mengenal Hirataka. Terlihat Fei Chen mengenakan kembali topeng iblis hitam yang tersenyum menyeringai lalu berjalan menjauh dari Ichiba.


“Tunggu sebentar! Siapa namamu? Aku ingin mengucapkan terimakasih karena telah memberikan pemakaman yang layak untuk mendiang suamiku dan orang-orang yang memberontak!” Ichiba bangkit dan berlari mengejar Fei Chen.


Fei Chen pun berhenti dan menoleh kebelakang menatap Ichiba. Dia sudah menetapkan tujuan selanjutnya setelah membuat keributan di Kota Hinogawa namun setelah membaca surat terakhir Hirataka, Fei Chen menjadi merasa tidak tega meninggalkan Ichiba.


‘Cih!’ Fei Chen berdecak dalam hatinya.


“Aku Fei Chen...” Singkat Fei Chen memperkenalkan dirinya pada Ichiba dan membuat wanita itu terkejut.


‘Aku sudah membaca surat ini... Suamiku... Kenapa kau melakukan semua ini?’ Ichiba meremas surat tersebut lalu membalikkan badannya dan beranjak pergi meninggalkan Fei Chen.


Melihat Ichiba langsung pergi setelah ia memberitahu namanya membuat Fei Chen mengerutkan keningnya dan membatin, ‘Ada apa dengannya?’


Fei Chen juga membalikkan badannya dan berniat pergi namun dia merasakan aura yang mendekat ke arah pemakaman. Aura tersebut milik seorang samurai dan Fei Chen yang bisa merasakannya dari kejauhan langsung memberitahu Ichiba.


“Untuk apa memberitahuku? Aku tidak ingin percaya pada laki-laki! Tidak lagi!” Ichiba jujur marah saat Fei Chen beritahu.


“Hah?” Fei Chen mengerutkan keningnya dari balik topeng.


“Nyonya, aku ingin menolongmu dan kau berteriak padaku? Apa aku pernah melakukan kesalahan padamu?” Fei Chen menatap tajam Ichiba yang terlihat enggan menatap dirinya.


“Kau hanya Tuan dari mendiang suamiku. Kau tidak memiliki kewajiban untuk menjagaku. Pergi dan selesai urusanmu. Hidupku tidak ada hubungannya denganmu.” Ichiba membalikkan badan melangkah pergi setelah mengatakan itu.


“Menyebalkan.” Fei Chen yang merasakan aura sang samurai mendekat segera menarik tubuh Ichiba dan menggendongnya.


"Kya- lepaskan!” Ichiba menjerit kaget saat dirinya dibopong Fei Chen dan kini dirinya susah terbang.


Fei Chen menatap Ichiba dan memberinya peringatan, “Diam Nyonya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri. Nyonya, jangan sampai kau berpikir untuk bunuh diri.”


Ichiba yang memberontak akhirnya diam, “Kenapa?” Ichiba histeris karena Fei Chen tahu niatnya.


Fei Chen melihat Ichiba kembali menangis dan hanya menghela nafas ringan, lalu membawa tubuh Ichiba menuju tempat tujuan selanjutnya yakni Ladang Yasai.