Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 129 - Kaisar Yang Baru


PPFC 129 - Kaisar Yang Baru


Kabar tentang aksi Fei Chen yang membalaskan dendamnya ini menyebar dengan cepat ke segala penjuru Kekaisaran Ma. Kabar ini semakin heboh saat Fei Chen dan Ma Mingyan memberi hukuman mati kepada setiap pejabat yang pernah bekerjasama dengan Ma Zhangsun.


“Jadi dimana Kalung Ketenangan itu berada? Yan‘er, apa kau mengetahui sesuatu tentang Permaisuri Ning Guang?” Fei Chen bertanya pada Ma Mingyan yang duduk dipangkuannya.


Su Xiulan dan Liu Xianlin tidak dapat berkomentar apapun saat melihat Fei Chen duduk di singgasana sambil memangku Ma Mingyan.


“Aku tidak mengetahuinya. Seperti Kakak Yaoyao mengetahui hal ini.” Ma Mingyan melompat dari pangkuan Fei Chen dan berdiri.


Ling Xiyao memberi hormat pada Ma Mingyan lalu menatap Fei Chen lurus, “Aku akan menjelaskannya...”


Ling Xiyao menceritakan bahwa Ning Guang memiliki kecantikan yang sulit ditandingi walau sekarang usianya telah menginjak empat puluh tahun. Ma Zhangsun diketahui memiliki perasaan kepada Ning Guang sejak kecil, namun Ning Guang justru memiliki perasaan kepada Ayah dari Ma Mingyan.


Bahkan setelah menjadi Kaisar Ma dan menikahi Ning Guang secara paksa, Ma Zhangsun tidak dapat merebut hati Ning Guang. Bahkan ada kabar burung jika Permaisuri Ning Guang masihlah seorang perawan.


“Hmm...” Fei Chen mengangkat alisnya dan membuat Ling Xiyao bertanya.


“Ada apa Tuan Muda Fei?”


Su Xiulan menanggapi, “Aura ini... Tidak biasa, sepertinya yang dibicarakan datang...”


“Apa kalian semua sedang membicarakanku?” Pintu aula kediaman Ma Zhangsun terbuka dan memperlihatkan seorang wanita dengan penampilan anggun datang.


“Ya, seperti yang dikatakan Nona Muda Ling, aku masihlah seorang perawan. Apa kau ingin membuktikannya, Tuan Muda Fei?”


“Hei, hei, hei, Permaisuri Sialan! Chen‘gege adalah suamiku! Aku yang merupakan istrinya saja belum pernah melakukan itu dan kau menawarkan diri tanpa permisi!” Su Xiulan langsung mendekati Ning Guang dan menatapnya sebal.


‘Jadi dia Permaisuri Ning Guang?’ Fei Chen menaikan alisnya, ‘Dia tidak memakai Kalung Ketenangan?’


“Apa kau mencari kalung bekas peninggalan mendiang Ibumu? Kalung itu aku simpan ditempat rahasia...”


“Hei, kau mengabaikanku!” Su Xiulan geram karena Ning Guang sama sekali tidak menoleh kearahnya.


“Maaf, aku hanya ingin menguji bagaimana karakter orang yang telah membunuh Ma Zhangsun. Apa kau tidak tertarik dengan harta, tahta dan wanita sama seperti pria itu?” Ekspresi Ning Guang tiba-tiba berubah.


“Aku tidak peduli dengan semua itu. Yang aku inginkan sekarang adalah Kalung Ketenangan. Berikan padaku itu sekarang atau aku akan membunuhmu...” Fei Chen tidak segan-segan melepaskan aura pembunuh dan membuat Ning Guang ketakutan.


“Jangan tergesa-gesa. Kalung itu akan ku berikan setelah kau mengikuti syarat dariku ini.” Ning Guang mencoba mengendalikan diri agar tidak ketakutan saat merasakan aura pembunuh yang dilepaskan Fei Chen.


Mengetahui itu Su Xiulan dan Fei Chen tersenyum tipis, ‘Wanita ini tangguh...’ Keduanya sama-sama berpikir demikian.


“Syarat, katamu? Keuntungan apa jika aku mengikuti syarat darimu?”


Ning Guang menjawab, “Kau bisa mendapatkan kembali Kalung Ketenangan, tahta Kekaisaran Ma jika kau mau termasuk diriku ini dan Tuan Putri Ma.”


Mendengar ini Su Xiulan, Liu Xianlin dan Xhin Li Wei terkejut, sedangkan Ling Xiyao memejamkan matanya seolah-olah sudah mengetahui apa yang akan dikatakan Ning Guang.


“Secara garis besar kau telah melakukan pemberontakan dan membunuh suamiku, jadi kau harus bertanggungjawab. Selain itu usia Tuan Putri Ma masih sangat muda dan tidak menguasai apapun tentang pemerintahan...” Ning Guang berjalan dengan anggun mendekati singgasana yang diduduki Fei Chen.


“Aku hanya ingin kau membantunya untuk mengembalikan negeri ini seperti dulu bahkan lebih makmur dari era Ayahnya. Hanya itu saja syarat dariku.”


“Bibi Ning.” Ma Mingyan menatap Ning Guang tajam.


“Bibi Ning?” Ning Guang merasa aneh saat Ma Mingyan menyebutnya demikian.


“Aku telah memutuskan untuk mengambil alih kursi pemerintahan dengan bantuan semua orang yang ada disini dan aku ingin Chen‘gege menjadi Kaisar dan aku sebagai Ratunya.” Cukup egois keinginan Ma Mingyan bahkan bisa dikatakan sangat egois bahkan sampai membuat Fei Chen tersedak.


“Aku mengizinkanmu.” Ning Guang menanggapi keinginan Ma Mingyan santai.


“Jangan seenaknya!” Fei Chen mendecakkan lidahnya saat tiba-tiba Su Xiulan, Liu Xianlin, Ling Xiyao dan Xhin Li Wei sependapat dengan keinginan Ma Mingyan.


Bahkan yang membuat Fei Chen heran mereka semua sangat ramah kepada Ning Guang.


‘Aku tidak bisa mengikuti obrolan ini...’ Fei Chen hanya menghela nafas mendengar obrolan mereka dihadapannya.


Hingga akhirnya kabar tentang pengangkatan Fei Chen sebagai Kaisar Ma yang baru terdengar. Fei Chen sendiri dijanjikan akan menikah dengan Ma Mingyan saat gadis muda itu berumur tujuh belas tahun.


Walaupun terdengar kebohongan bagi Fei Chen namun Ma Mingyan melakukan ini dengan serius. Gadis muda itu ingin membalas jasa Fei Chen karena telah menyelamatkan hidup dan masa depannya.


“Yan‘er, untuk apa kau melakukan semua ini?” Fei Chen bertanya setelah dirinya diangkat sebagai Kaisar Ma.


“Bukankah laki-laki menginginkan harta, tahta dan wanita, Chen‘gege? Aku berpikir jika Chen‘gege akan bahagia karena memiliki harta, tahta sekaligus semua wanita yang berkumpul disini termasuk diriku ini.”


Mata Fei Chen melebar mendengar jawaban Ma Mingyan. Kepolosan gadis muda ini ternodai tanpa sepengetahuan dirinya. Tatapan Fei Chen langsung memandang kearah Su Xiulan, Liu Xianlin, Xhin Li Wei, Ling Xiyao dan Ning Guang secara bergantian.


Terlihat Su Xiulan memalingkan wajahnya dan disusul Liu Xianlin yang melakukan tindakan serupa.


“Jadi kalian berdua yang menjerumuskannya?!”


“Chen‘er, Kakak Liu hanya ingin membantu. Ya, hanya ingin membantu.” Liu Xianlin kesulitan berdalih, sedangkan Su Xiulan tertawa cekikikan sebelum berbisik ditelinga Fei Chen.


“Lima perawan dan satu janda. Bukankah ini yang kau inginkan untuk mematahkan kutukanmu...”


“Kau!” Fei Chen ingin menerkam Su Xiulan dan membuat wanita itu membusungkan dadanya menantang untuk diterkam.


“Hihihi... Terkam aku jika berani.”


Fei Chen semakin kesal dengan tingkah Su Xiulan itu.


“Aku akan menagih janjimu, suamiku. Malam ini aku ingin malam pertamaku...” Setelah itu Su Xiulan kembali berdiri didekat Liu Xianlin sambil tertawa mengejek ke arah wanita itu.


“Apa yang kau bisikkan padanya?”


“Entahlah, tetapi aku akan memberitahumu jika kami berdua membicarakan tentang ranjang.”


“Hah?”


Fei Chen mengusap wajahnya secara kasar karena terjebak dalam situasi yang tidak pernah dia duga sebelumnya.