Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 183 - Masa Gadis Bersemi Kembali


PPFC 183 - Masa Gadis Bersemi Kembali


Fei Chen menghabiskan waktu bersama Yin Jinxia dan Jia Li di Benteng Lembah Naga selama empat hari. Dengan Portal Teleportasi, Fei Chen selalu melihat perkembangan Istana Naga Neraka Terdalam.


Disisi lain San Zhu yang diberikan perintah oleh Fei Chen justru merasa kesal karena tidak pernah bertemu pemuda itu. Saat dirinya berada di Benteng Lembah Naga, Fei Chen justru berkunjung ke Benteng Lembah Pedang begitu juga dengan sebaliknya.


Setelah itu Fei Chen kembali ke Istana Ma melewati Portal Teleportasi sendirian. Kedua gadis yang sengaja dia pertemukan ini memilih untuk berlatih bersama Long Xioaya.


“Kalian berdua akan menjadi istrinya bukan?” Setelah Fei Chen pergi, Long Xioaya membahas kabar yang sekarang ramai diperbincangkan.


Nampak Jia Li dan Yin Jinxia tersipu malu saat Long Xiaoya terus mengarahkan obrolan perempuan ini kearah pernikahan yang akan digelar dalam hitungan hari.


“Yaya, bukankah Kakekmu juga akan meminta Patriark Fei untuk lebih serius menjalin hubungan denganmu. Dan yang dari aku dengar, Saudari Murong dikabarkan akan dinikahi olehnya.” Suara lemah lembut Chi Sun membuat ketiga gadis yang sedang mengobrol itu menoleh.


“Kakek selalu saja seenaknya. Aku belum mengenalnya jauh, selain itu bukankah dia dulu dijodohkan dengan Saudari Yue?” Long Xiaoya menanggapi.


“Dia benar-benar lelaki yang beruntung karena bisa menikahi banyak wanita.” Chi Sun tertawa lirih sambil duduk disebelah Long Xiaoya.


“Menurut kalian berdua dia orang seperti apa?” Long Xiaoya bertanya pada Jia Li dan Yin Jinxia.


“Yaya, jika kau belum mengenalnya, Chenchen terasa seperti orang asing yang dingin dan tidak peduli. Namun setelah kau mengenalnya dia hanyalah anak muda seperti kita yang membutuhkan kasih sayang. Dia lebih lemah dari yang kau kira,” ujar Jia Li mengindahkan Fei Chen.


“Kalau menurutmu Xiaxia?“ Kembali Long Xiaoya bertanya pada Yin Jinxia.


“Dia... Dia orang yang romantis dan sangat perhatian...” Singkat jawaban Yin Jinxia karena kehabisan kata-kata.


Pada akhirnya empat perempuan ini mengobrol membahas tentang Fei Chen dan masalah yang dihadapi Istana Naga Neraka Terdalam setelah perang saudara berakhir.


Chi Sun sendiri telah memberitahu pada Fei Chen tentang bahayanya Lentera Iblis Tunggal dan benih-benih kebencian yang lain. Menurut Chi Sun, cepat atau lambat orang-orang yang menginginkan kekacauan akan membuat ulah kembali.


____


Di Istana Ma nampak Ning Guang sedang mengobrol dengan Su Xiulan. Ning Guang membicarakan kandungan yang ada dirahim Su Xiulan. Keduanya nampak asyik saat menebak Fei Chen kecil yang kelak akan lahir.


“Aku berharap bisa sepertimu...” Ning Guang meratapi nasibnya. Umurnya sudah tidak muda lagi dan dia masih perawan terlebih statusnya janda.


Su Xiulan sengaja menggoda, “Aku yakin kau bisa menemukan pria yang tepat untukmu.”


“Aku harap seperti itu...” Ning Guang berkata pelan dan mengingat Fei Chen.


Akhir-akhir ini gairahnya yang terpendam bangkit dan bagaimanapun dia adalah seorang perempuan yang sangat matang dan membutuhkan kehangatan batin yang dapat mengerti dirinya.


Ning Guang mencoba meyakinkan hatinya jika Fei Chen adalah orang yang tepat. Tetapi dia terus menepis perasaannya karena pemuda itu lebih pantas menjadi Anaknya.


Sehingga akhirnya Ning Guang berniat mencoba menguji hati Fei Chen. Namun seminggu pemuda itu tidak menunjukkan batang hidungnya begitu juga dengan Yin Jinxia.


‘Pada akhirnya lelaki sama saja, selalu meninggalkan wanita setelah mendapatkan apa yang dia dapatkan,’ batin Ning Guang.


Su Xiulan mengerti apa yang sedang Ning Guang pikirkan. Wanita berambut putih itu mengelus perutnya dan tersenyum.


“Aku kembali...”


Saat Su Xiulan dan Ning Guang mengobrol, kedatangan Fei Chen membuat tubuh Ning Guang berdesir hebat. Jantung wanita paruh baya itu berdegup kencang melihat pemuda berparas tampan yang menghampiri Su Xiulan dan berjongkok sebelum mencium perut istri pertamanya itu.


“Hihi... Apa kau berpikir dia bisa mendengarnya, Chen‘gege?”


Su Xiulan terkekeh karena Fei Chen dimatanya seperti anak kecil. Fei Chen hanya tersenyum sambil mengkhawatirkan kondisi Su Xiulan dan menyuruh Su Xiulan bersabar karena dirinya belum menemukan Pedang Sembilan Petir.


“Apa kau sudah memikirkan nama untuk anak kita, Chen‘gege?” Su Xiulan bertanya sambil tersenyum manis kepada suami mudanya.


“Jika dia laki, aku sudah memikirkan nama untuknya, namun jika dia perempuan, aku ingin Ibunya yang memberi nama.”


Ning Guang merasa cemburu melihat keromantisan Fei Chen dan Su Xiulan. Wanita paruh baya ini hanya memperhatikan sebelum akhirnya Su Xiulan meminta Fei Chen untuk membawanya ke Lufei karena wanita berambut putih itu ingin bertemu dengan Liu Xianlin.


“Aku ingin menginap disana selama beberapa hari. Ada yang ingin kubicarakan dengan Xianlin sebagai sesama perempuan.”


Fei Chen langsung mengabulkan permintaan Su Xiulan dan segera mengantar istrinya ke Lufei.


Selepas kepergian Fei Chen, Ning Guang kembali ke ruangan pribadinya dan langsung menuju kolam air panas yang satu ruangan dengan kamarnya.


“Haah... Malam itu padahal aku sedang datang bulan, aku ingin mengujinya tetapi dia tidak datang kekamarku dan sekarang aku sedang dalam masa subur, aku ragu mengujinya...” Ning Guang mendesah saat tubuhnya berendam di air hangat yang meringankan tubuh sintalnya.


Selesai mandi Ning Guang menggunakan pakaian yang begitu sopan namun dengan dalaman yang indah dan lentur. Nalurinya sebagai perempuan yang sedang kembali merasakan jatuh cinta membuatnya melakukan ini dengan harapan Fei Chen masih mengingat ajakannya.


“Aku akan mengujinya malam ini...”


Tubuh Ning Guang terlihat begitu sempurna karena wanita itu rajin melakukan perawatan dan menjaga tubuh idealnya. Bahkan wajahnya terlihat begitu muda dan tidak seperti berumur empat puluh tahun.


Wajahnya sedikit memerah saat mengingat perasaannya yang tidak terbendung ini.


“Aku kembali seperti gadis karena bocah itu. Sebagai wanita dewasa dan penasehatnya, aku ingin bocah itu tumbuh menjadi Kaisar yang aku dambakan...”


Ning Guang hendak membaringkan tubuhnya karena sudah mengecek Ma Mingyan yang tertidur setelah belajar memasak seharian, namun saat dia hendak membaringkan tubuhnya suara ketukan pintu ruangannya terdengar.


Tok... Tok... Tok...


“Permaisuri...”


Seketika tubuh Ning Guang berdesir hebat karena dia mengenal pemilik suara ini. Senyumannya mengembang dan jantungnya berdegup semakin kencang. Segera Ning Guang beranjak membukakan pintu ruangan pribadinya.


“Tunggu sebentar,” ucap Ning Guang seraya membukakan pintu.


“Maaf mengganggumu, Permaisuri. Apa kau sedang sibuk malam ini?”


Tatapan teduh pemuda dihadapannya yang ingin dia manfaatkan sebagai seorang Kaisar Ma itu berubah tajam saat melihat penampilannya. Ning Guang mengulum senyuman khasnya pada pemuda tersebut.


Penampilan Ning Guang saat ini sangat sopan namun menambah kesan yang berbeda dimata Fei Chen. Pakaian kebesaran wanita paruh baya itu menutupi hampir seluruh tubuhnya namun tetap saja kecantikannya terlihat jelas.


“Masuklah, Tuan Muda Fei...” Ning Guang membuka pintu lebih lebar membiarkan pemuda yang dua puluh tiga tahun lebih muda darinya itu memasuki kamarnya.


Setelah itu Ning Guang menutup pintu dan berdiri berhadapan dengan pemuda yang lebih tinggi darinya. Pandangan keduanya bertemu dan menatap lurus penuh makna.


‘Saatnya menguji apakah kau lelaki yang sama seperti lelaki yang aku kenal atau tidak...’