Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 178 - Kaisar Mah Bebas


PPFC 178 - Kaisar Mah Bebas


Sudah dua bulan berlalu semenjak Fei Chen membuat Wujin sebagai daerah penghasil rempah-rempah dan pemasok makanan Kekaisaran Ma, keberhasilan Fei Chen selanjutnya disusul dengan membuat Lingdu sebagai Kota Perdagangan dengan bantuan Ling Xiyao.


Walaupun Ling Xiyao yang bekerja keras namun gadis itu menggunakan nama Fei Chen sesuai perintah Ning Guang untuk memastikan keberhasilannya.


Bukan hanya Wujin dan Lingdu saja, Fei Chen juga berhasil menjadikan Xuangang menjadi Kota Senjata yang memperkerjakan berbagai macam pandai besi untuk membuat senjata.


Selain Xuangang, ada Lufei yang sekarang menjadi Kota Pertambangan. Kondisi Lufei sama seperti Wujin dan itu membutuhkan waktu hampir sebulan bagi Fei Chen untuk mendapatkan kepercayaan para penduduk disana.


Ning Guang mengapresiasi kinerja pemerintahan Fei Chen bahkan pemuda itu kembali membuat kejutan lainnya karena setelah mendapat restu dari Feng Lao, kabar pernikahan Fei Chen dengan Liu Xianlin dan Jia Li menyebar dengan luas di Kekaisaran Yin dan Kekaisaran Ma.


Pernikahan ini akan dilangsungkan bulan depan. Saat ini Fei Chen masih menyibukkan diri dengan mengunjungi dan melihat perkembangan Wujin, Xuangang, Lingdu dan Lufei secara bergantian.


Berkat Portal Teleportasi, Fei Chen bisa kembali ke Benteng Lembah Pedang ataupun berkunjung ke Benteng Lembah Naga dan Lentera Seribu Pedang untuk melihat perkembangan Istana Naga Neraka Terdalam.


Sebenarnya Fei Chen ingin menemui Ling Ye dan Qiao Mi, namun dia mengurungkan niatnya saat mengetahui Ling Ye dan Qiao Mi akan berkunjung ke Lingdu. Selain itu beberapa hari lagi Istana Ma akan kedatangan keluarga Kaisar Yin untuk menjalin kerjasama.


“Tuan Muda Fei, kedua calon istrimu menetap di Lufei karena alasanmu saja bukan? Di Istana Ma kau bebas bertempur dengan Xiuxiu dan di Lufei kau bebas bertempur dengan mereka.” Ning Guang sengaja menggoda setelah mengambil dokumen yang baru saja ditandatangani Fei Chen.


“Permaisuri, berhenti mengatakan hal yang aneh. Apa kau sengaja mengintip kegiatanku dengan Xiuxiu?” Fei Chen tidak pernah berhenti membicarakan sesuatu yang konyol dengan Ning Guang selama mengurus pemerintahan.


“Tidak. Aku hanya menebak saja.” Ning Guang sendiri semakin ingin menggoda Fei Chen lebih jauh.


‘Dasar permaisuri yang nakal, aku akan memberimu pelajaran...’ Fei Chen melirik Ning Guang yang mendekat dan langsung menarik wanita paruh baya itu hingga tubuh berisi dan indah itu duduk di pangkuannya. Pinggang lebar dan kepadatan bongkahan yang besar itu duduk tepat diatas intinya.


“Kya!” Ning Guang menjerit, “Tuan Muda Fei, ini memalukan! Jangan coba-coba melakukan hal yang aneh karena orang lain akan melihat!”


Fei Chen tersenyum, “Permaisuri, aku adalah seorang Kaisar. Apa salahnya jika aku menginginkan dirimu?”


Wajah Ning Guang merah padam. Awalnya memang dia ingin memanfaatkan Fei Chen, namun wanita paruh baya yang masih suci ini justru jatuh cinta kepada Fei Chen.


Tentu saja tatapan, ucapan dan tindakan Fei Chen ini membangkitkan jiwa muda dalam dirinya. Hal ini membuat Ning Guang seperti seorang gadis yang baru saja merasakan jatuh cinta.


“Permaisuri, aku memiliki urusan khusus denganmu karena kau menyembunyikan Kalung Ketenangan. Dimana kalung itu?” Fei Chen memeluk perut Ning Guang dan mulai meraba tubuh wanita paruh baya itu.


“Tidak menjawab ya. Baiklah, sepertinya aku harus menghukummu.”


Ini pertama kalinya Ning Guang merasakan tubuhnya disentuh. Rasanya aneh namun gairahnya terbakar. Usia Ning Guang sangat matang dan sangat disayangkan jika Fei Chen tidak memetiknya sekarang.


“Aku- Ah! Jangan diremas Tuan Muda Fei!” Ning Guang panik namun hal itu membuat bongkahan padat miliknya menekan milik Fei Chen yang sudah membesar.


“Astaga!” Ning Guang kaget saat merasakan keperkasaan Fei Chen begitu besar. Itu membuat gairahnya semakin terbakar.


Mata Ning Guang terpejam dan membiarkan Fei Chen menciumnya. Pikirannya semakin kosong saat tangan Fei Chen mulai meraba buah dadanya yang padat dan kencang.


“Ini lebih besar dari yang pernah aku lihat...” Fei Chen tersenyum bangga dan segera berhenti saat merasakan hawa keberadaan Xhin Li Wei.


Sebelum berhenti Fei Chen berhasil mengobrak-abrik pertahanan suci Ning Guang menggunakan jarinya hingga membuat wanita itu mengerang hebat.


Saat suara pintu ruangan singgasana terbuka, Ning Guang langsung merapikan pakaiannya dan beranjak dari pangkuan Fei Chen.


Tubuh Fei Chen berdesir hebat saat merasakan hawa keberadaan tidak asing tiba-tiba muncul dibelakang Xhin Li Wei.


“Suamiku, ternyata kau disini. Aku mencarimu karena saat terbangun kau tidak ada disiku, ternyata kau masih sibuk dengan pekerjaanmu dan sepertinya kau sangat menikmatinya...” Tatapan intimidasi Su Xiulan membuat Fei Chen memalingkan wajahnya.


“Apa maksudmu Xiu‘er?”


“Tidak apa-apa, Suamiku. Masih terlalu dini bagimu jika ingin mengelabuiku. Aku tidak akan marah, karena aku tetaplah yang pertama melatihmu menjadi perkasa seperti ini...” Setelah mengatakan itu Su Xiulan menghilang meninggalkan Ning Guang dan Xhin Li Wei yang mematung kebingungan.


Sedangkan Fei Chen menghela nafas dan langsung menatap Xhin Li Wei.


“Apa apa Bibi Xhin?”


Xhin Li Wei langsung memberi hormat kepada Fei Chen. Terdengar suaranya yang lembut dari wanita dengan wajah keibuan itu, Xhin Li Wei mengatakan kepada Fei Chen jika dirinya akan kembali ke Xuangang.


“Apa aku perlu mengantarmu Bibi Xhin?” Fei Chen menawarkan diri dan membuat Ning Guang menatapnya curiga.


“Tidak perlu repot-repot, Yang Mulia...”


Fei Chen membuka segel Portal Teleportasi dan langsung menyuruh Xhin Li Wei untuk masuk.


“Mari kita pergi...”


Tidak ada kesempatan bagi Xhin Li Wei untuk menolak. Setelah Xhin Li Wei masuk, Fei Chen menatap Ning Guang lama sebelum meninggalkan wanita paruh baya itu yang terlihat masih gelisah.


“Bocah nakal itu benar-benar mempermainkanku....” Ning Guang memegang perutnya dan semakin kebawah. Dia sudah begitu basah karena aksi jari-jari hebat Fei Chen yang membelai inti tubuhnya.


‘Aku harus mengujinya...’ Senyum Ning Guang mengembang.


____


Jangan lupa pisaunya untuk motong bunga sambil ngopi pakai hati. Hadiah Imlek untuk authornya ada gak nih dari kalian?