
PPFC 265 - Tidak Terduga Dari Ning Guang dan Liu Xianlin
Suara kicauan burung dan hembusan angin kencang tidak memecahkan gelembung yang membungkus tubuh Fei Yuechan dan Ji Ho. Gelembung aura yang dibuat Dan Jin tidak menyakiti Fei Yuechan ataupun Ji Ho.
Kejadian ini membuat Fei Chen mengerutkan keningnya karena tidak habis pikir musuhnya memiliki belas kasih terhadap anaknya.
“Tuanku, bukankah aku sudah mengatakan padamu...” Deshe mengecek keadaan sekitar Hutan Iblis Awan untuk memastikan keamanan.
“Orang bernama Dan Jin hanya ingin memastikan kebenaran tentang Pedang Sembilan Petir.” Deshe menambahkan.
Fei Chen mengangguk dan membopong Fei Yuechan setelah membangunkan Ji Ho. Nampak Ji Ho kegirangan setelah mengetahui Fei Chen yang menyelamatkannya.
“Paman Fei... Paman Fei... Ada burung yang membuat kami pingsan dan membawa kami kesini.” ujar Ji Ho kepada Fei Chen yang sedang menenangkan Fei Yuechan.
“Apa yang burung itu katakan kepadamu, Ho‘er?” tanya Fei Chen.
Ji Ho berhenti berjingkrak dan berpikir, “Jika tidak salah, dia mengatakan bahwa kami akan mati dengan sendirinya jadi tidak perlu repot mengotori tangannya.”
Fei Chen tersenyum tipis mendengarnya, ‘Aku yang terlalu berprasangka baik ternyata.’ Setelah itu Fei Chen memeriksa kondisi Hutan Iblis Awan bersama Deshe sebelum pergi melewati Portal Teleportasi menuju Istana Ma.
Hanya dalam waktu yang singkat Fei Chen sudah berada di Kekaisaran Ma tepatnya di Istana Ma. Nampak di sana penjagaan ketat telah dilakukan.
“Selamat datang kembali Yang Mulia!”
Sambutan dari penjaga hanya ditanggapi senyuman tipis oleh Fei Chen. Pemuda itu terus melangkahkan kakinya menuju Istana Ma bersama Ji Ho dan Deshe.
Sesampainya disana Fei Chen menemukan Su Xiulan yang sedang ditenangkan oleh Ning Guang dan Liu Xianlin. Disana juga ada Ji Xiuha yang sedang menangis dan ditenangkan oleh Guan Ai bersama Hua Ying.
“Ini dia Suami kita.” Ning Guang menyapa Fei Chen yang datang membawa Fei Yuechan.
“Xiuxiu, dia membawa anak kita,” kata Ning Guang.
“Suami? Yuechan‘er?” Su Xiulan dengan mata sembab menatap Fei Chen dan Fei Yuechan secara bergantian.
“Suami... Aku... Maafkan aku-”
“Yang penting sekarang anak kita baik-baik saja. Beruntung aku tepat waktu. Aku menemukan Yuechan‘er bersama Ho‘er di Benua Sembilan Petir. Seharusnya mereka berdua sudah tidak bernyawa, tetapi aku sendiri tidak ingin terlalu pusing memikirkan kebaikan orang yang berani menyentuh mereka berdua.” Fei Chen menenangkan Su Xiulan dan akhirnya istri pertamanya itu membopong Fei Yuechan penuh kasih sayang.
Sedangkan Ji Ho berlari kearah Ji Xiuha dan memeluk Ibunya dengan sangat erat. Sebenarnya Fei Chen ingin langsung kembali dalam waktu yang cepat, tetapi Ning Guang mengingatkan bahwa tujuh hari lagi pemuda itu akan bertambah umur.
“Selain itu mereka berdua sudah datang jauh-jauh kesini. Lebih baik kau bermalam disini selama beberapa hari, apa kau tidak merindukanku dan kami?” bisik Ning Guang dengan manja ditelinga Fei Chen.
Fei Chen memperhatikan sekitarnya yang dikelilingi para wanita dewasa. Pemuda itu tersenyum dan tidak keberatan dengan tawaran Ning Guang, namun sebelum itu dia menjelaskan kepada Su Xiulan, San Zhu dan Hua Ying mengenai rencananya di Kekaisaran Yang.
Melalui telepati Fei Chen juga memberitahu hal ini kepada Ying Xie. Menurut Ying Xie, Fei Chen dapat membawa Su Xiulan ke Reruntuhan Dewi Iblis setelah kondisi disana aman untuk menyegel kekuatan Dewi Iblis di tubuh Su Xiulan.
Karena secara perlahan Dewi Iblis akan mengambil alih tubuh Su Xiulan dan Fei Chen tidak menginginkan hal itu.
“Suamiku, aku siap melakukannya. Aku merasa sangat bersyukur karena dapat menjalani hidup seperti ini. Jadi tolong bimbing dan jaga aku.” Su Xiulan memeluk Fei Chen dihadapan San Zhu dan Hua Ying.
“Ehem! Kakak Xiuxiu, apa kau melupakan keberadaan kami berdua?” tegur San Zhu.
“Seperti yang sudah kutebak. Saudari Yingying merupakan korban bocah ini.” San Zhu kembali berucap dan menunjuk Fei Chen.
“Aku sangat yakin dengan itu.”
Hua Ying memerah wajahnya, “Tidak! Aku kemari karena ingin menemani Bibi Guan mengucapkan terimakasih. Selain itu aku mendapatkan perintah dari Ratu untuk menjaga Nyonya Su.”
Walaupun Hua Ying jujur, tetapi dia juga berbohong saat menyangkal bahwa dirinya tidak pernah melakukan ritual malam bersama Fei Chen.
Su Xiulan tidak terlalu marah ataupun membahas mengenai tindakan Fei Chen yang menarik perhatian wanita. Selama Fei Chen bertanggung jawab maka baginya itu bukanlah sesuatu yang masalah, selain itu Su Xiulan tetap menjadi urutan wanita pertama yang mengarungi malam bersama Fei Chen dan memiliki anak dari pemuda itu.
Hanya dengan hal itu Su Xiulan sudah merasa sangat bangga dan tidak terkalahkan. Sehingga hal ini membuat San Zhu menghela nafas karena mengingat sifat Su Xiulan.
Setelah itu San Zhu dan Hua Ying memberikannya Fei Chen ruang bersama Su Xiulan. Keduanya mengobrol hangat dan sesekali bercanda hingga Su Xiulan tertawa lepas.
Fei Chen mengangguk, “Ya, aku akan mengambilnya. Apa kau marah Istriku?”
Su Xiulan menggelengkan kepalanya dan membiarkan Fei Chen memeluk tubuhnya dari belakang.
“Aku tidak marah. Hanya saja aku merasa ingin kembali bertarung seperti dulu dan membantumu.”
“Xiu‘er, kau tidak perlu melakukan itu lagi sayang.” Fei Chen mengecup belakang kepala Su Xiulan dan menenangkan wanita itu.
Setelah melihat senyuman indah Su Xiulan yang bahagia merawat Fei Yuechan, Fei Chen diberitahu dayang Istana Ma jika dirinya dipanggil Ning Guang.
Fei Chen yang penasaran bergerak menuju kamar pribadi Ning Guang. Namun apa yang dia temukan di sana adalah tubuh Ning Guang dan Liu Xianlin yang sangat menggoda.
Ning Guang duduk di tepi ranjang dengan jubah transparan berwarna putih begitu juga dengan Liu Xianlin. Mata Fei Chen melebar untuk sesaat melihat keindahan tubuh kedua istrinya itu yang sedang mengandung anaknya.
“Lihat, sepertinya dia masuk kedalam jebakan kita Adik Liu.” Ning Guang berucap sambil memperlihatkan lekukan pahanya.
“Hihi... Setelah membuat perut kita berdua besar, dia justru berkeliaran dengan wanita lain. Dasar bocah nakal.”
Fei Chen menelan ludah melihat lekukan tubuh Liu Xianlin yang tercetak jelas dari pakaian lentur nya. Gunung yang menggoda dengan ujung yang menggemaskan itu membuat Fei Chen menutup pintu kamar Ning Guang.
Lalu dengan langkah pelan dia mendekati kedua istrinya dan duduk disamping mereka. Ning Guang dan Liu Xianlin segera memeluk tubuh Fei Chen.
“Chen‘er, malam ini biarkan kami yang memanjakanmu sayang,” ujar Ning Guang yang langsung merogoh pakaian bawah Fei Chen.
Sementara itu Liu Xianlin memburu bibir Fei Chen dan mengecupnya singkat, “Nikmati saja bocah nakal...”
Pakaian yang Fei Chen telah sepenuhnya terlepas, begitu juga dengan Ning Guang dan Liu Xianlin hingga sesuatu yang menantang jurang sempit berdiri tegak dengan gagahnya.
“Mmmm...” Dibawah sana nampak Ning Guang memanjakan Fei Chen disusul dengan Liu Xianlin yang melakukannya secara bergantian.
Fei Chen mendesis hebat mendapatkan pelayan secara tiba-tiba dari kedua istrinya ini. Dia tidak akan menolak dan dia tidak akan mundur, kenikmatan ini sangat sayang untuk dirinya lewatkan.
Terlebih sekarang tubuh Ning Guang semakin menggoda dimatanya dengan perut yang membesar dan bongkahan kenyal yang padat itu menambah gairahnya.
Disisi lain Liu Xianlin semakin menggoda dengan perut yang mulai terlihat buncit. Fei Chen menikmati pelayan Ning Guang dan Liu Xianlin hingga akhirnya wajah keduanya basah karena luapan cintanya kepada mereka.
Fei Chen tersenyum saat melihat Ning Guang membersihkan semuanya bersama Liu Xianlin. Kedua wanita dewasa itu saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya Ning Guang duduk dipangkuan Fei Chen dan memegang inti yang telah mengeras sempurna.
“Mmmm!” Ning Guang bisa merasakan kedalaman dan dominasi inti Fei Chen dalam tubuhnya.
“Ini semakin sempit sayang.” Fei Chen meremas bongkahan padat yang semok itu dan menepuknya, sedangkan mulutnya menikmati gunung kembar yang indah.
Liu Xianlin yang melihat kegiatan ini tidak bisa diam dan menanti gilirannya. Kegiatan itu berlangsung singkat dan Fei Chen berusaha menahan Liu Xianlin agar tidak kelelahan setelah Ning Guang mencapai pelepasan.
“Oh!” desis Liu Xianlin saat Fei Chen menghunjam tubuhnya dari belakang.
Pemuda itu mengelus perutnya lembut dan menghentakkan tubuhnya lebih dalam hingga akhirnya Liu Xianlin mengerang hebat dan menindih tubuh Ning Guang yang tergolek lemas.
Darah Naga yang telah menghilang dari tubuhnya tidak terlalu berpengaruh pada Fei Chen. Bahkan setelah mendapatkan pelayanan indah dari Ning Guang dan Liu Xianlin, Fei Chen masih tetap berdiri dengan gagahnya.
Dengan nafas terengah-engah, Ning Guang menatap Fei Chen tidak percaya, “Chen‘er, sepertinya kau masih sanggup... Tetapi kami sudah lelah...”
Liu Xianlin dengan lemas menanggapi ucapan Ning Guang.
“Jangan menuntaskannya dengan wanita lain, Chen‘er... Ingat, ada kami disini...” tegas Liu Xianlin penuh kelemahan.
Fei Chen hanya tersenyum dan mengecup tubuh keduanya lama sebelum akhirnya dia kembali memakai pakaiannya lalu keluar kamar Ning Guang.
Fei Chen berjalan melewati taman dan menemukan Ji Xiuha sedang mengobrol dengan Ji Ho hingga tak lama Ji Ho tertidur di pangkuan wanita paruh baya berwajah keibuan itu.
“Ah, Chen‘er? Aku sedang menikmati matahari terbenam. Apa kau tidak ingin melihatnya?”