Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 100 - Tidak Ada Artinya


PPFC 100 - Tidak Ada Artinya


Gu San memiliki kemampuan seorang Pendekar Langit Tahap Awal dan tentu saja itu membuatnya menjadi pendekar penting di Gunung Golok Kembar.


Lain halnya dengan Xiang He yang setingkat diatasnya, Gu San selalu memikirkan segala kemungkinan untuk menghabisi lawannya termasuk dengan membawa anggota yang besar untuk berjaga-jaga.


Namun semua perhitungan Gu San tidak berarti di hadapan Fei Chen. Tidak peduli berapa pendekar yang dibawa Gu San jika kemampuan mereka lebih rendah dari Fei Chen maka semua tidak ada artinya.


“Bagaimana kau bisa kembali berdiri?! Aku sudah yakin jika kepalamu itu hancur!” Gu San tidak menurunkan kewaspadaannya dan melakukan hal sebaliknya yakni melepaskan aura pembunuh berjumlah besar.


“Kepalaku tidak selemah itu untuk kau hancurkan!”


Mata Gu San melebar saat dirinya tidak menemukan keberadaan Fei Chen dimanapun. Yang terasa ditubuhnya hanyalah hawa keberadaan Fei Chen yang berpindah tempat dengan sangat cepat.


“Argh! Tanganku!”


“Semuanya waspada!”


“Beraninya kau memotong kepala temanku! Argh!”


Gu San semakin panik saat melihat prajurit militer Kekaisaran yang dia bawa tewas satu demi satu disusul dengan pendekar dari Gunung Golok Kembar.


’Tidak mungkin! Kemampuannya ini sama dengan Senior Cai dan Ketua Feng!’ Gu San bergerak mencoba mengikuti Fei Chen namun beberapa langkah terlambat dan tidak bisa mengejar.


“Seni Nafas Naga Petir!”


“Pemangsa Kehidupan!”


Dalam sekejap tiga ratus orang yang dibawanya telah mati. Gu San berkeringat dingin melihat Fei Chen berdiri di tengah-tengah tumpukan mayat.


“Mon...monster...”


Fei Chen menoleh melihat Gu San yang bergumam tidak jelas. Tindakannya kali ini sudah dia pastikan akan memancing kemarahan Jia Gunglai, tetapi niat Fei Chen memang begitu karena dia sendiri ingin mengungkap identitas orang tua Jia Li.


“Tidak sopan memanggilku monster. Aku bukanlah makhluk rendahan seperti mereka.” Suara desisan dari mulut Fei Chen sekilas terdengar bersamaan dengan kilatan petir berwarna ungu.


“Tanganku? Argh! Ini tidak mungkin!”


Gu San menyadari bahwa kematiannya sudah ditentukan namun saat membayangkan dirinya berakhir ditangan Fei Chen itu membuatnya berteriak histeris.


Penduduk yang sempat melihat pertarungan sekilas itu ketakutan karena mereka semua tidak menyangka sosok keji seperti Gu San sama sekali tidak berdaya dihadapan Fei Chen.


“Bisa diam sebentar?” Fei Chen menusuk mulut Gu San menggunakan pedangnya yang dipenuhi api berwarna merah membara.


“Saat aku sedang berdoa kau jsutru menendang kepalaku. Jujur itu sedikit sakit...” Fei Chen mengusap belakang kepalang dan menghela nafas, “Banyak hal baru yang kutemukan di benua ini, termasuk sisi hitam putih yang berbeda. Sekali lagi mataku terbuka lebar setelah mengetahui situasi dunia persilatan Kekaisaran Jia.”


Pedang Raja Neraka masih tertancap di mulut Gu San dan membuat pria itu terdiam. Mata Gu San menatap Fei Chen penuh ketakutan saat pemuda itu jongkok menginjak badannya dengan tangan kanan yang mencekik lehernya secara pelan sebelum cekikan itu berubah menjadi cengkeraman kuat.


“Satu hal yang harus kau ketahui, aku adalah pendendam.”


“Cakar Naga Api!”


Mata Gu San mendelik saat lehernya terbakar dan dihancurkan. Kondisinya berakhir sangat mengenaskan.


Fei Chen menarik Pedang Raja Neraka dan mengibaskannya, “Cih, pedangku jadi kotor.”


Melihat tumpukan mayat pendekar Gunung Golok Kembar dan prajurit militer Kekaisaran, Fei Chen melepaskan tenaga dalam dan mengeluarkan api hitam untuk membakar tiga ratus orang yang dibawa Gu San hingga lenyap tak bersisa.


Yang tersisa hanyalah mayat Gu San yang berakhir dengan mengenaskan. Fei Chen berniat melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan pada tiga ratus orang yang dibawa Gu San, tetapi menurutnya semuanya tidak sesederhana itu.


“Aku akan membawa tubuhnya ke depan Istana Jia.” Fei Chen berniat akan menyerang sendirian, namun dia merasakan hawa kehadiran seseorang.


Kemampuannya masih dibawahnya, tetapi Fei Chen pernah merasakan aura ini di suatu tempat.


“Ciri-cirinya seperti yang dilaporkan. Kau Fei Chen dari Lembah Pedang bukan?”


Fei Chen menoleh kebelakang dan mengangkat alisnya, “Kau? Kau... Siapa? Bagaimana bisa mengenalku?”