
PPFC 84 - Kombinasi Bunga Iblis
Sementara Hu Baohen mulai menyerang seluruh mantan Tetua Istana Bunga Persik dan melumpuhkan mereka sama seperti yang dia lakukan pada Qiao Mi, Gung Taiji bertarung hebat melawan Liang Cheng.
Memang kemampuan Gung Taiji setingkat diatas Liang Cheng namun Liang Cheng tidak bisa diremehkan begitu saja karena kakek sepuh itu tidak segan membunuh setiap orang yang menghalanginya.
‘Boneka tidak berguna!’ Gung Taiji berdecak kesal dan terus memainkan serulingnya. Setelah efek permainan serulingnya yang membuat rekan-rekannya menjadi lebih kuat atau bisa dibilang buas, sekarang Gung Taiji mengganti permainan serulingnya.
Nada yang dimainkan Gung Taiji membuat pergerakan Liang Cheng melemah, sementara itu Gung Taiji tetap mengendalikan pasukan bersenjata Kekaisaran Yang dan pendekar Tujuh Bunga Iblis.
“Sebelum menuju kemari, kalian semua telah kutandai dengan jarum auraku. Jadi sekarang mengamuklah dan menjadi berguna untukku...”
Gung Taiji sama sekali tidak melakukan pergerakan berbeda dengan Liang Cheng yang terus melancarkan tapak demi tapak menghantam setiap orang yang menyerangnya.
“Tubuhku bergerak sendiri! Tetapi entah mengapa aku merasa begitu kuat!”
“Aku juga sama! Permainan seruling Senior Gung membuatku seolah-olah menjadi tidak terkalahkan!”
Mendengar ucapan orang-orang yang dia kendalikan membuat Gung Taiji tertawa dalam hati.
‘Apa yang para sampah ini bicarakan? Kalian semua menjadi lebih kuat karena nada indah serulingku, tetapi setiap kekuatan membutuhkan pengorbanan bukan?’
Benar saja setelah menahan pergerakan Liang Cheng selama sepuluh menitan akhirnya orang-orang yang dikendalikan Gung Taiji mengeluarkan darah dari mata dan hidung mereka.
“Apa yang terjadi?! Tubuhku terasa seperti mau meledak?!”
“Panas! Panas! Kenapa perutku terasa sangat panas?! Argh!”
Orang-orang yang dikendalikan Gung Taiji ketakutan saat melihat salah saat rekannya mengeluarkan darah yang jumlahnya tidak wajar. Terlebih perut orang tersebut meledak.
“Itulah yang terjadi jika kemampuan kalian begitu rendah layaknya sampah!” Gung Taiji menaruh serulingnya didalam jubah dan berjalan mendekati Liang Cheng yang dalam posisi kuda-kuda.
“Saatnya serius!”
Gung Taiji maju sambil melepaskan tenaga dalam berjumlah besar. Tindakannya ini membuat Liang Cheng melakukan hal yang sama.
Kedua tapak bersentuhan dan menimbulkan gelombang kejut yang besar. Gung Taiji mampu mengimbangi serangan tapak Liang Cheng. Bisa dibilang Gung Taiji mahir dalam pertarungan tangan kosong.
“Ada apa kakek tua?” Gung Taiji melihat Liang Cheng yang tergesa-gesa karena melihat semua Tetua Istana Bunga Persik dilumpuhkan.
“Kalian benar-benar hina!” Liang Cheng nampak emosi saat mengetahui niat Hu Baohen dan Gung Taiji.
Gung Taiji tertawa lepas dan melakukan hal yang sama dengan Liang Cheng. Keduanya mulai melancarkan tapak demi tapak yang menimbulkan kerusakan dahsyat diantara pertukaran serangan yang hebat.
“Tapak Harimau Api!”
Sebuah serangan yang membara melesat cepat, Gung Taiji menangkisnya dan menyerang balik.
“Tapak Iblis Tulip!”
Menyadari Gung Taiji hendak melepaskan serangan balik, Liang Cheng sudah mengambil ancang-ancang terlebih dahulu hingga dua serangan yang dipenuhi tenaga dalam bertabrakan.
“Pukulan Raungan Raja Hutan!”
Baik Liang Cheng ataupun Gung Taiji tidak ada yang mau mengalah. Serangan demi serangan terus mereka lancarkan hingga akhirnya kekuatan Gung Taiji terlihat lebih unggul.
Liang Cheng terlihat kesulitan mengimbangi serangan Gung Taiji. Dengan tenaga dalamnya yang lebih besar dari sebelumnya, Liang Cheng kembali melepaskan salah satu jurusnya.
“Gemuruh Ledakan Beruntun!”
Kali ini Liang Cheng dapat memukul mundur Gung Taiji. Terlihat Gung Taiji tidak menyukai serangan lawannya yang terlihat lebih mendominasi itu.
“Tapak Iblis Tulip!”
Saat kedua tapak tangan bersentuhan, pergelangan tangan Liang Cheng patah sedangkan Gung Taiji hanya mundur beberapa langkah kebelakang.
“Rupanya kau lebih kuat dari yang kukira!” Gung Taiji melepaskan aura pembunuh dan melesat cepat menyerang Liang Cheng.
Perlawanan Liang Cheng lemah tidak seperti sebelumnya. Gung Taiji mengakhiri kembali melepaskan satu serangan mematikan pada Liang Cheng yang dipenuhi tenaga dalam.
“Suara Cengkeraman Maut!”
Liang Cheng berupaya menangkisnya menggunakan kekuatannya yang tersisa, “Tapak Panas Membakarnya Bumi!”
Benturan kedua serangan yang dahsyat itu dimenangkan Gung Taiji. Terlihat Liang Cheng terkapar di tanah dengan tubuh yang berlumuran darah.
“Sepertinya ini adalah perlawanan terakhir kalian...” Suara Gung Taiji berhenti saat hembusan angin yang kencang datang dari luar gerbang depan Lentera Bunga Persik.
“Jadi kalian berdua orang yang dimaksud Mo Cengfu dan Zin Mo?”
Suara pemuda yang tidak lain adalah Fei Chen membuat Hu Baohen dan Gung Taiji mengerutkan keningnya.