Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 289 - Lantai 7 Reruntuhan Dewi Iblis


PPFC 289 - Lantai 7 Reruntuhan Dewi Iblis


“Mao Ruyue, aku mengetahui semuanya. Kau mengendalikan tubuh Xiu‘er dimalam itu bukan?” Sebuah pertanyaan yang membuat Mao Ruyue kesulitan berdalih itu membuat Fei Chen tersenyum sinis.


Fei Chen semakin dekat dengan Mao Ruyue dan saat jarak keduanya hanya beberapa langkah, Mao Ruyue bangkit berdiri dari kursi singgasana dan memberi tanda pada Fei Chen agar tidak mendekatinya.


“Jangan mendekat!”


“Hah? Apa-apaan reaksimu itu?!” Fei Chen menatap santai Mao Ruyue.


Tak lama sebuah meja tersaji didepannya sebagai pembatas mereka berdua dan sebuah kursi singgasana yang lain tercipta. Fei Chen dengan santai duduk di kursi singgasana dan menatap tajam Mao Ruyue.


“Jawab pertanyaanku Mao Ruyue...” Fei Chen berkata dengan nada dingin dan menambahkan, “Apa kau memiliki perasaan padaku?”


Seketika wajah Mao Ruyue memucat, “Tidak... Aku tidak memiliki perasaan sedikitpun padamu manusia rendahan...”


“Aku... Aku hanya...” Mao Ruyue ingin mengatakan sesuatu namun suaranya tertelan ludah tenggorokannya.


“Sebenarnya aku tertarik padamu. Apa kau bisa berhenti menghisap energi kehidupan Xiu‘er? Sebagai gantinya, aku ingin kau bangkit dan menjadi pendamping hidupku. Sebuah tawaran yang menarik bukan?” Fei Chen dengan sengaja mengatakan itu untuk melihat reaksi Mao Ruyue.


“Cukup!” Reaksi Mao Ruyue nampak marah namun semu merah terlihat diwajahnya, “Kau sudah bertindak kurang ajar manusia rendahan! Apa kau tidak sadar siapa yang ada di hadapanmu ini?!”


Fei Chen memukul meja dengan pelan dan menjawab, “Aku mengingatnya, Mao Ruyue. Kau adalah wanita yang kewalahan melayaniku bukan?”


Mao Ruyue merapatkan giginya mendengar jawaban Fei Chen. Sosok Dewi Iblis ini hendak menyerang Fei Chen namun tak lama dia menahannya.


“Ada apa? Kenapa tidak jadi menyerangku?” Fei Chen berdiri dan menatap dingin Mao Ruyue.


“Mao Ruyue, jika aku dapat membangkitkan rohmu, apa kau bersedia menjadi pendamping hidupku?” Fei Chen bertanya dan menatap Mao Ruyue tajam.


“Sungguh menggelikan! Jika Rohku bangkit, maka aku adalah seorang Dewi! Tidak ada dalam sejarah peradaban Dunia Dewa, seorang Dewi menikah dengan manusia!” Mao Ruyue mengejek Fei Chen.


“Tidak ada yang tidak mungkin, Mao Ruyue. Kita sudah melakukannya. Aku rasa kau tidak akan pernah bisa melupakannya. Apa kau tidak bisa jujur pada dirimu sendiri?” Fei Chen membalas sengit dan membuat Mao Ruyue mengusap wajahnya.


“Baiklah, aku mengakui semuanya! Apa kau puas manusia rendahan?! Tapi jangan salah sangka karena pertarungan itu tidak dapat dihitung! Kau belum mengalahkanku!” Mao Ruyue tersenyum sinis dan berdiri lalu dengan berani mendekati Fei Chen.


“Menjadi pendamping hidupmu ya? Apa yang kau bisa berikan padaku maharnya?” Mao Ruyue menyentuh pundak Fei Chen dan berbisik menantang.


Fei Chen menjawab, “Apa kau tertarik dengan nyawaku. Jika kau tertarik, aku akan memberikannya secara sukarela.”


Fei Chen mengira Mao Ruyue akan langsung mengejek dirinya, namun reaksi wanita ini tidak terduga. Ekspresi wajah tercengang dengan tatapan tidak percaya.


“Hmmm...” Fei Chen memegang tangan Mao Ruyue dan menarik wanita itu kedalam pelukannya.


“Kenapa wajahmu terlihat ragu?” Sengaja Fei Chen menghembuskan nafasnya secara kasar pada leher Mao Ruyue.


“Kau! Beraninya kau menyentuh tubuhku!” Mao Ruyue mendorong tubuh Fei Chen penuh tenaga yang dipenuhi Qi.


Fei Chen tersenyum tipis, “Kau tidak mengakuinya, tetapi di hatimu kau dipenuhi keraguan. Baiklah, aku mengerti. Terserahmu ingin menerimaku atau tidak, namun setelah aku memutuskan kau akan menjadi pendamping hidupku maka kau akan mendapatkannya Mao Ruyue.”


Mendengar ucapan Fei Chen membuat Mao Ruyue melepaskan Energi Iblis. Mao Ruyue nampak kesal dan langsung menjentikkan jarinya menciptakan seribu pedang berwarna hitam.


“Sepertinya tidak ada cara lain selain membungkammu, manusia rendahan!” Mao Ruyue mengayunkan tangannya.


Seketika seribu pedang hitam menyerbu Fei Chen dari berbagai arah. Dengan kecepatan tinggi seribu pedang hitam tersebut bergerak mencoba menghunus perut Fei Chen.


“Ya, sepertinya memang tidak ada pilihan lain selain membuatmu percaya padaku.” Fei Chen tersenyum dan langsung menyambut serangan Mao Ruyue.


Saat Fei Chen berhasil menghancurkan seribu pedang hitam yang diciptakan Mao Ruyue, tubuh Fei Chen tiba-tiba terasa ditekan kebawah. Mao Ruyue tersenyum sinis dan memegang leher Fei Chen lalu mencekiknya.


Dengan kecepatan tinggi Mao Ruyue terjun kebawah bersama Fei Chen. Tubuh Fei Chen dibanting Mao Ruyue dengan sangat keras ke tanah dan membuat Fei Chen mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya.


“Rupanya kau cukup lemah, manusia rendahan! Bukankah kau menyandang gelar Raja Neraka? Apa hanya segini perkembanganmu? Mao Ruyue mengejek Fei Chen yang terbaring diatas tanah.


‘Dia berniat membunuhku...’ Fei Chen membatin dan merasakan seluruh tubuhnya yang terasa nyeri.


Sambil bangkit berdiri, Fei Chen menemukan sekarang dirinya berada di sebuah hutan dimana lokasinya sama persis seperti Gunung Menangis.


Fei Chen menatap air terjun dan danau, kemudian mengalihkan pandangannya pada Mao Ruyue yang melayang di udara.


“Jadi ini lantai kedelapan ya? Untuk apa kau membawaku kemari Mao Ruyue? Apa kau ingin membunuhku?” Fei Chen melompat dan terbang menuju Mao Ruyue.


“Ini adalah lantai kedelapan. Kau sudah semakin dekat dengan lantai terakhir. Aku turut berduka karena setelah ini kau akan benar-benar mati.“ Mao Ruyue berkata dengan nada mengejek dan kembali menjentikkan jarinya.


Fei Chen langsung mengayunkan pedangnya saat hembusan angin kencang menerpa tubuhnya. Walaupun sudah mengantisipasi, namun pipi dan lengannya terkena sayatan angin dari hembusan angin tersebut.


‘Kemampuannya sangat merepotkan! Sial!’ Fei Chen mengumpat saat melihat Mao Ruyue yang meremehkan dirinya.


Fei Chen yang merasakan hembusan angin mendekat segera mengayunkan pedangnya kembali dan itu membuat Mao Ruyue tertawa.


“Kau benar-benar menyedihkan, manusia rendahan!“ Kembali Mao Ruyue menjentikkan jarinya dan seketika sebuah hembusan angin yang lebih besar menerpa tubuhnya.