Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 280 - Satu Malam Empat Purnama


PPFC 280 - Satu Malam Empat Purnama


Fei Chen tenggelam dalam dahsyatnya harum tubuh Yang Xiaomi. Dekapan erat Yang Xiaomi membuat Fei Chen membalasnya dengan rabaan dikedua aset gunung kembar yang kencang dan besar.


“Kau sudah mulai bisa mengimbangiku...” Fei Chen tersenyum lalu mengecup singkat bibir Yang Xiaomi sebelum menggigit bibir bawah wanita tersebut.


Yang Xiaomi membusungkan dadanya dan sengaja memamerkan keindahan bentuknya pada Fei Chen. Bentuk yang membulat dan kencang itu membuat Fei Chen terkejut karena sebelumnya Yang Xiaomi mengaku sebagai seorang janda, namun perlawanan wanita itu seperti wanita yang baru saja mengalami malam pertama.


“Aaaahhhh... Bocah, kau nakal! Jangan digigit aduh!” Yang Xiaomi memegang kepala Fei Chen yang sibuk memberikan gigitan kecil pada gunung kembarnya.


Fei Chen sengaja mempermainkan Yang Xiaomi seperti itu hingga akhirnya nafas wanita itu mulai berat. Dengan sinis Fei Chen melirik Kang Feihu yang menatapnya penuh kebencian bahkan pria itu meneteskan air mata syok.


“Nyonya, ini sangat indah.” Fei Chen menatap nanar gunung kembar Yang Xiaomi sebelum membenamkan wajahnya disana.


Yang Xiaomi memeluk kepala Fei Chen dan mengerang, “Aaaahhh... Bocah, ini milikmu sayang...”


Fei Chen menggigit ujungnya dan menghisapnya kuat membuat Yang Xiaomi melenguh panjang. Kemudian satu tangan Fei Chen turun meraba perut dan semakin turuh membelai celah lembah suci Yang Xiaomi.


“Nyonya, lebarkan pahamu...” Fei Chen mengecup singkat bibir Yang Xiaomi setelah berkata demikian.


Sungguh beruntung nasib Fei Chen. Setelah memesan kamar Penginapan Bunga Cinta, dia mendapatkan mahkota Ju Ling Shui dan setelah tengah malam tiba dia kembali mendapatkan kesempatan untuk mengurangi indahnya Yang Xiaomi.


Yang Xiaomi gelagapan saat jari Fei Chen menyentuh celah lembah nya dan membelainya. Kenikmatan semakin menjalar di tubuh Yang Xiaomi saat jari Fei Chen mengobrak-abrik lembah sucinya.


“Aaaahhhh... Bocah apa yang kau lakukan akh?!” Nikmat tak terperikan membuat Yang Xiaomi mengeluarkan suara menggoda.


Fei Chen terus mengarungi tubuh Yang Xiaomi yang indah dan menawan. Pemandangan kulit mulus yang terawat membuat keperkasaan Fei Chen berdiri tegak dan saat Yang Xiaomi melirik kebawah alangkah terkejutnya saat mengetahui inti Fei Chen berkali-kali lipat lebih besar dari milik Kang Feihu.


"Bocah... Milikmu besar sekali... Itu berkali-kali lipat lebih besar dari milik orang itu...” Yang Xiaomi sama sekali tidak berkedip saat Fei Chen sengaja melepaskan seluruh pakaiannya.


"Nyonya, banyak wanita yang bereaksi sama sepertimu. Apa kau ragu?” Fei Chen tersenyum sinis saat melihat wajah Yang Xiaomi.


"Sudah berapa wanita yang merasakannya?” Yang Xiaomi merapatkan kedua pahanya saat Fei Chen mulai menindih tubuhnya.


“Aku tidak menghitungnya sayang...” Fei Chen menghembuskan nafasnya secara kasar pada leher Yang Xiaomi dan mulai menikmati kemulusan leher jenjang Yang Xiaomi menggunakan mulutnya.


“Aaaahhh... Kau... Jangan digigit!” protes Yang Xiaomi saat Fei Chen memberikan gigitan pada leher jenjangnya, “Nanti kelihatan!”


Fei Chen tersenyum, “Tanda kau adalah milikku Nyonya.” Tanpa menunggu lama Fei Chen menggesekkan intinya pada inti Yang Xiaomi.


“Tunggu... Ssshhh...” Yang Xiaomi kaget dan terkejut saat melihat ujung keperkasaan Fei Chen menyentuh lembah sempitnya yang kecil.


‘Tidak, aku memang sudah menikah tetapi aku masih perawan...’ Yang Xiaomi berusaha merapatkan pahanya namun terlambat Fei Chen sudah mengukung tubuhnya.


Yang Xiaomi masihlah seorang perawan walaupun umurnya tiga puluh lima tahun. Setelah menikah, suaminya dibunuh oleh Yang Ergou dan semenjak itu Yang Xiaomi membuang identitas marganya karena Yang Ergou berniat menjadikan dirinya sebagai hadiah pada Mao Gang.


“Tunggu-”


Fei Chen yang mengira Yang Xiaomi ragu langsung membungkam mulutnya lalu menggesekkan inti mereka lebih kencang.


Sendi dalam tubuh Yang Xiaomi bergetar saat melihat ujung miliknya yang sempit dan kecil merekah menyambut keperkasaan Fei Chen keras dan besar.


Fei Chen melepaskan ciumannya dan berbisik mesra, “Lemaskan badanmu Nyonya jangan terlalu tegang...”


Yang Xiaomi menurut saja dan menatap bagaimana milik Fei Chen menyeruak masuk menembus miliknya. Rasa perih dan sakit membuat Yang Xiaomi menjerit keras.


“Haaaakkk! Sakit! Aduh!”


Fei Chen terkejut saat mengetahui betapa sempitnya celah lembah Yang Xiaomi. Saat menatap kebawah seketika mata Fei Chen melebar melihat darah segar yang menandakan Yang Xiaomi seorang perawan.


“Nyonya, apa kau masih perawan? Maaf, aku tidak mengetahuinya... Aku akan bertanggung jawab...” Melihat Yang Xiaomi menangis membuat Fei Chen mengelus wajah wanita dewasa itu tanpa melepaskan penyatuan.


"Hikss.... Hikss...” Yang Xiaomi menangis dan merasakan sakit yang luar biasa saat mengetahui Fei Chen memecahkan kesuciannya.


Kang Feihu yang melihat ini sudah begitu syok. Harga dirinya diluluh lantahkan saat mengetahui inti Fei Chen lebih besar dari miliknya, terlebih Yang Xiaomi sang wanita pujaannya ternyata masihlah seorang perawan.


“Bocah... Jangan memanggilku Nyonya... Kau baru saja mengambil keperawananku sayang...” Yang Xiaomi memegang tangan Fei Chen yang mengelus wajahnya.


“Panggil namaku... Gege...”


Suara menggoda manja dan tatapan yang mengundang itu membuat Fei Chen membenamkan tubuhnya. Benda Fei Chen masuk lebih dalam membuat Yang Xiaomi memekik saat miliknya terasa benar-benar penuh dan tidak ruang.


“Xiaomi‘er, aku akan bertanggung jawab sayang...” Fei Chen mengecup bibir Yang Xiaomi dan mulai menggerakkan tubuhnya naik turun.


Yang Xiaomi memejamkan mata dan membiarkan Fei Chen mengeluarkan intinya lalu membenamkan kedalam kembali. Gerakan Fei Chen teratur membuat Yang Xiaomi menikmatinya.


“Gege... Aaaaahhh...”


“Bagaimana Xiaomi‘er?”


Yang Xiaomi menatap malu Fei Chen dan berkata, “Enak...”


Fei Chen tersenyum dan menggerakkan tubuhnya lebih cepat dari sebelumnya. Decitan ranjang akibat suara kedua paha yang beradu menggema. Tubuh Yang Xiaomi berguncang dan mulutnya merintih hebat saat Fei Chen menghujamkan tubuhnya dalam-dalam.


“Haaakk! Aku keluar!”


Mendengar Yang Xiaomi menjerit membuat Fei Chen mengangkat kedua paha wanita itu keatas pahanya. Nampak Yang Xiaomi terlihat malu saat melihat miliknya mengembang dan berusaha menelan milik Fei Chen.


"Tunggu... Ini memalu- Aduh! Aah! Ah!”


Fei Chen tidak memberikan ruang nafas untuk Yang Xiaomi dan terus memacu tubuhnya sebelum akhirnya tubuhnya bergetar hebat dan melakukan pelepasan didalam.


Fei Chen mencium bibir Yang Xiaomi menikmati kenikmatan yang menjalar tubuhnya. Yang Xiaomi dibuat lemas dan tidak bertenaga.


“Xiaomi‘er, boleh aku minta sesuatu?” Fei Chen menatap wajah Yang Xiaomi yang berkeringat dan mengelus nya.


“Minta apa Gege?”


“Berbaliklah dan merangkak...”


Bokong yang membulat mulus memperlihatkan celah yang berair itu membuat inti Fei Chen kembali mengeras.


“Gege, ini memalukan...” lirih Yang Xiaomi sambil menoleh kebelakang melihat Fei Chen yang menatap tubuhnya yang penuh kekaguman.


“Sempurna... Kau sangat cantik sayang...” Fei Chen memegang pinggul Yang Xiaomi dan melakukan penyatuan.


“Aaahhh... Gege... Pelan! Akh!” Tubuh Yang Xiaomi terlempar kedepan dan kebelakang saat Fei Chen memacu tubuhnya.


“Sempit!” Lenguh Fei Chen penuh kenikmatan saat menghentakkan tubuhnya lebih dalam membuat Yang Xiaomi menjerit hebat.


Yang Xiaomi membenamkan setengah badannya keranjang saat mengetahui kenikmatan yang menjalar diseluruh tubuhnya. Sendi-sendi dalam tubuhnya terasa lepas dan pikirannya terasa kosong saat milik Fei Chen menembus yang paling dalam miliknya.


Melihat punggung mulus Yang Xiaomi membuat Fei Chen menarik kedua tangannya lalu memeluk perutnya. Keduanya mengerang saling bersahut-sahutan dan menikmati setiap penyatuan yang mereka lakukan.


Fei Chen tidak menyadari jika Gu Shi telah terjaga dan mendengar apa yang terjadi bahkan sesekali gadis itu melirik dan pura-pura tertidur.


“Gege... Eunggg.... Aku... Aku sampai!”


Fei Chen menghentak kasar dan menindin tubuh Yang Xiaomi dari belakang menyusul pelepasan wanitanya.


Dengan nafas terengah-engah keduanya menikmati kenikmatan dalam posisi yang sama sebelum akhirnya Fei Chen membaringkan tubuhnya kesamping.


“Xiaomi‘er, mulai detik ini kau adalah milikku.” Fei Chen mengusap wajah Yang Xiaomi lalu mengecup matanya.


“Aku akan menikahimu.”


Yang Xiaomi hanya tersenyum lemas dan memeluk tubuh Fei Chen erat.


“Sudahlah... Aku tidak menyesalinya. Keperawananku direnggut Raja Neraka... Terimakasih telah membuat diriku menjadi seorang wanita. Mulai saat ini aku adalah milikmu, bocah nakal...” Yang Xiaomi memegang tangan Fei Chen dan menaruhnya di perut.


“Kau sengaja mengeluarkanmu disana bukan? Aku sedang dalam masa subur... Jadi kau harus bertanggung jawab jika aku hamil.” Yang Xiaomi mengecup pipi Fei Chen setelah berkata demikian.


“Apa kau masih mampu cantik?” Fei Chen sendiri masih ingin mengarungi malam namun Yang Xiaomi sudah lemas.


“Tidak... Jangan lagi. Aku sudah lelah. Biarkan aku istirahat. Besok jika kau memiliki waktu luang, aku siap melayanimu bocah...” bisik Yang Xiaomi mesra sebelum tertidur lemas dengan senyuman mengembang diwajahnya.


Gu Shi yang mendengar ini membatin, ‘Nyonya Xiaomi... Aku tidak salah dengar bukan? Mendengar semua ini aku... Aku merasa aneh...’


Gu Shi memegang celah pahanya dan terkejut saat mengetahui betapa basahnya dibawah sana.


“Dasar lelaki sialan! Kau melakukannya dengan seorang janda!” Gu Shi terkejut mendengar suara teriakan perempuan. Suara yang tidak asing itu adalah milik Qiao Ling yang telah bangun.


Gu Shi melirik dan menemukan Fei Chen yang duduk di tepi ranjang tanpa sehelai pakaian.


“Rupanya kau sudah bangun Saudari Qiao Ling?” Tanpa menunjukkan ekspresi bersalah Fei Chen berdiri dan memakai pakaiannya.


“Apa kau tidak sadar jika pelayan itu ada disamping-”


Qiao Ling berhenti berbicara saat melihat Gu Shi melirik Fei Chen.


“Eh?“


Fei Chen yang menyadari itu menghela nafas saat melihat Gu Shi dan Qiao Ling saling berpandangan.


“Aku akan meluruskan kesalahpahaman ini. Aku hanya membantu-”


“Cukup!” Qiao Ling tiba-tiba mendekati Fei Chen dan menatap pemuda itu tajam.


“Kau dapat menyembuhkan Racuh Iblis Melati bukan?” tanya Qiao Ling.


Fei Chen mengangguk dan membuat Qiao Ling duduk di samping pemuda tersebut.


“Jadi sekarang sembuhkan aku! Apa aku tidak menarik seperti wanita ini?!” Qiao Ling yang sudah terbakar gairah dan cemburu menunjuk Yang Xiaomi yang tertidur pulas.


“Masalahnya tidak semudah itu. Dan...” Fei Chen menatap Gu Shi yang pura-pura tertidur.


“Kalau begitu aku ingin meminta bantuan pria-” Sebelum Qiao Ling menyelesaikan ucapannya, Fei Chen memeluk tubuh gadis itu.


“Hei, jangan mengatakan itu lagi mengerti? Baiklah, kita akan memulai ritualnya.” Fei Chen berkata dengan nada ramah pada Qiao Ling lalu melirik Gu Shi.


“Nona Gu, apa kau tidak ingin ikut?”


Fei Chen tentu tidak akan melewatkan kesempatan yang datang ini. Qiao Ling menawarkan dirinya dan tentu saja dia tidak akan menolaknya.


“Aku... Aku...” Gu Shi menatap Qiao Ling yang menatapnya santai.


Kang Feihu melongo melihat hal ini dan berharap dirinya mati. Namun Fei Chen terlihat belum ingin membunuhnya.


Fei Chen menarik lembut tangan Qiao Ling dan membawa tubuh gadis itu kesamping Gu Shi.


“Aku akan menyembuhkan kalian berdua...”


Gu Shi tercengang karena dirinya belum setuju. Namun efek Racun Iblis Melati telah membuat tubuhnya panas. Paras Fei Chen yang menawan dan rupawan tentu saja membuat godaan yang Gu Shi tahan terlepas.


Seolah-olah malam masih panjang padahal beberapa jam lagi matahari terbit, Fei Chen mulai menjamah keindahan tubuh Qiao Ling dan Gu Shi yang membeku.


Tanpa perlawanan dan tanpa penolakan. Kedua gadis itu Fei Chen nikmati lekuk tubuh indahnya.


“Rileks Nona Gu jangan tegang dan Ling‘er, jangan terlalu kaku...” Fei Chen berkata dengan lembut sebelum mengecup singkat bibir Qiao Ling mengajari gadis itu sebuah pagutan indah.


Sedangkan tangan Fei Chen meraba bukit kembar Gu Shi yang belum pernah terjamah. Gu Shi yang seumuran dengannya tidak menahan kuasa saat tangan Fei Chen meremas bukit kembarnya dan mencubit ujungnya.


___



[Gu Shi, Umur 17 Tahun]