
PPFC 359 - Iblis Kembar Air
ROAAARRR!!!
Suara raungan Naga terdengar dan membuat pria kembar itu tersentak kaget. Segera kedua pria kembar itu memakai pakaiannya dan hendak mengikat tubuh wanita yang tergeletak lemas, namun sebuah cahaya berwarna merah tiba disekitar mereka.
“Lihat apa yang kalian berdua lakukan!” Suara seorang pemuda terdengar. Sebelum menyadari apa yang terjadi, sebuah api hitam yang tidak panas namun sangat menutupi tubuh wanita itu layaknya dinding penghalang.
Kedua pria kembar yang dikenal sebagai Iblis Kembar Air atau Rei Bersaudara langsung menarik katana mereka. Keduanya melepaskan aura mematikan dan menatap tajam pemilik sumber suara yang tidak lain adalah Fei Chen.
“Gindaman, dia adalah Onigari! Kebetulan sekali! Hal baik selalu berdatangan setelah kita menemukan selir Gara Kagura, kita juga menemukan Onigari! Mari bunuh dia Saudaraku!” Rindaman melepaskan aura tubuhnya dan melapisi katana miliknya menggunakan aura.
Nampak petir melapisi katana milik Rindaman. Tak lama Gindaman melakukan hal yang sama dan api mulai melapisi katana miliknya. Kedua pria kembar itu sangat percaya diri dapat membunuh Fei Chen.
“Aku akan memotong tubuhnya dan membakarnya, lalu memberikan dagingnya pada penduduk kota hahaha!” Gindaman mengering lebar dan langsung melompat ke arah Fei Chen dengan serangan yang mematikan.
“Rencana yang bagus Gindaman!” sahut Rindaman.
Fei Chen menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, “Aku pikir kalian lebih kuat dari ini. Membantai orang tak bersalah dan bertindak seperti binatang. Aku akan membuat kalian mati dengan menderita...”
“Coba saja kalau bisa!” Gindaman mengarahkan tebasan api miliknya.
Fei Chen melapisi kedua tangannya dengan Qi dan langsung mencengkeram bilah katana tajam Gindaman. Lalu dengan cengkeraman yang kuat, Fei Chen menghancurkan katana tersebut dan langsung mencekik leher Gindaman.
“Tidak mungkin! Ugh!” Gindaman tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
Fei Chen menyeringai dari balik topengnya, “Kepala atau perut?!” Fei Chen bertanya sambil melepaskan Energi Iblis yang sangat besar.
Gindaman dibuat merinding saat merasakan tekanan tersebut. Bukan hanya Gindaman saja, bahkan Rindaman yang biasanya akan melakukan serangan dari belakang dan mendadak tidak dapat menggerakkan tubuhnya karena ketakutan.
‘Tidka, aku harus bergerak atau Gindaman akan mati!’ Rindaman berteriak dalam hatinya dan mencoba menggerakkan tubuhnya.
Sementara itu Gindaman menatap Fei Chen yang mencekik lehernya.
“Untuk... Apa aku memilih-”
“Jawab saja!” Fei Chen tidak membiarkan Gindaman membantah dan langsung mengeluarkan api merah dari telapak tangannya yang mencekik leher Gindaman.
“Argh!” Gindaman berteriak kesakitan saat merasakan api merah membakar lehernya.
Walau sudah melapisi lehernya dengan aura yang besar, tetap saja rasa sakit yang amat mengerikan membuat Gindaman berteriak.
Fei Chen tidak peduli dan tidak bersimpati. Dia kembali berkata dengan dingin, “Pilih kepala atau perut?!”
Kali ini Gindaman yang sudah ketakutan bahkan merasa kewarasannya berangsur-angsur menghilang karena rasa takut.
Jika Iblis Kembar Air dikenal sebagai sosok keji saat membunuh korbannya bahkan jika korban itu perempuan, keduanya akan menyiksa dan memperkosa mereka. Namun kekejian keduanya tidak berarti di hadapan Fei Chen.
Karena Fei Chen akan memburu Iblis seperti Rindaman dan Gindaman. Bahkan kepercayaan diri kedua pria kembar benar-benar dihancurkan dalam sekejap oleh Fei Chen.
Gindaman yang begitu ketakutan menjawab perlahan, “Aku... Aku pilih perut...” Gindaman memilih perut dengan harapan Fei Chen melepaskan cekikan di lehernya.
Fei Chen memang melepaskan cekikan lehernya namun telapak tangannya menyentuh perut Gindaman dan mengeluarkan api hitam yang langsung membakar perut tersebut.
“Apa ini?!” Gindaman merasa api hitam tersebut tidak panas, namun dalam kurun waktu tiga detik panas yang teramat mengerikan menjalar di tubuhnya.
“Argh! Kau! Keparat kau Onigari!” Gindaman mengutuk perbuatan Fei Chen yang membakar perutnya.
Fei Chen tersenyum dingin, “Kau tahu, pria kembar sialan. Kau tidak akan pernah merasakan penderitaan korbanmu sampai kau merasakan penderitaan itu sendiri. Jadi merangkak dan matilah dengan menderita.”
Rindaman yang melihat saudaranya menderita langsung dapat menggerakkan tubuhnya dan membantunya. Namun Fei Chen menahan dan menyerangnya tidak membiarkan Rindaman menolong Gindaman.
“Kau menghalangiku! Aku harus menolong saudaraku jika tidak dia akan mati!” Rindaman berteriak lalu melayangkan tebasan petir pada Fei Chen.
Keduanya melakukan pertukaran serangan yang singkat sebelum Fei Chen melepaskan dua tebasan yang memotong kedua kaki Rindaman.
“Lebih baik kau menggeliat di tanah dan melihat saudaramu itu mati secara perlahan!” Setelah berkata demikian Fei Chen melepaskan tendangan pada kepala Rindaman hingga pria itu tersungkur di tanah dan hanya bisa melihat Gindaman tersiksa.
“Kau! Keparat sialan kau benar-benar keji!” Rindaman mengutuk Fei Chen dan terus menghinanya.
Fei Chen tidak peduli dan mengabaikan perkataan mereka. Dia menjentikkan jarinya dan membuat sang wanita yang tergeletak lemas melihat kedua orang yang memperkosanya menderita.
“Nyonya, lihat kedua orang ini. Apakah kau merasa lega mereka mendapatkan balasannya?” Fei Chen bertanya pada wanita tersebut dan tidak ada jawaban.
Wanita itu hanya menatap Rindaman dan Gindaman kosong. Namun jauh didalam lubuk hatinya, wanita itu merasa lega dan senang karena kedua orang yang menyiksa dan memperkosanya telihat sangat menderita.
“Kau, pilih kepala atau perut?” Fei Chen sekarang berdiri didepan Rindaman.
Rindaman yang tersulut emosi menatap Fei Chen penuh kebencian. Kedua kakinnya sudah dipotong dan dirinya sekarang hanya bisa melata tidak jelas dan berteriak hina pada Fei Chen.
“Aku akan-” Sebelum Rindaman kembali berteriak pada dirinya, Fei Chen menginjak kepala pria itu.
“Diam! Aku memintamu memilih kepala atau perut tetapi kau berteriak kasar padaku! Jadi tidak ada pilihan lain bukan?!” Fei Chen mengeluarkan Pedang Sembilan Petir dan melapisi bilah pedangnya dengan petir berwarna ungu.
Setelah Fei Chen mengangkat kakinya yang menginjak kepala Rindaman, segera Rindaman mendongak menatap marah Fei Chen.
Namun sedetik setelah Rindaman menatap marah Fei Chen, Pedang Sembilan Petir masuk kedalam mulutnya dan menembus tenggorokannya.
Fei Chen terus menusuk hingga ke perut lalu dia menariknya secara perlahan sebelum tubuh Rindaman meledak dan hancur berkeping-keping.
“Aku kelepasan...” Fei Chen mengumpat karena dia ingin menyiksa Rindaman lebih lama namun dia tidak dapat mengendalikan dirinya.
Sementara Gindaman yang masih belum mati melihat saudaranya meninggalkan dirinya terlebih dahulu dengan cara yang paling mengerikan.
“Bunuh... Bunuh... Aku...” Gindaman memohon agar Fei Chen segera membunuhnya.
Fei Chen mengabaikan Gindaman dan mendekati sang wanita. Dengan penuh hati-hati Fei Chen melapisi tubuh wanita itu menggunakan kain.
“Nyonya, semua akan baik-baik saja. Dua orang yang telah membuatmu menderita telah mati...” Fei Chen berkata sambil menutupi tubuh wanita itu menggunakan kain.
Tak sengaja jari Fei Chen menyentuh tangan wanita tersebut. Saat itu juga dia merasakan hal yang sama saat diirnya menyentuh Futaba.
‘Tubuh wanita ini... Tubuhnya sama seperti Nyonya Futaba. Jika Nyonya Futaba bagaikan langit, maka Nyonya ini adalah bumi. Sepertinya energi Yin dalam tubuhnya masih tersegel sama seperti Nyonya Futaba...’ Fei Chen membatin dan memejamkan matanya.
‘Tidak, aku tidak boleh memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kenapa aku jadi teringat perkataan Kakak Zhu...’ Fei Chen kembali membatin saat San Zhu mengejek dirinya Biaya Sialan.
Fei Chen sendiri mengetahui jika Futaba dan wanita yang dia tolong ini memiliki sebuah tubuh istimewa dimana nadi dalam tubuh mereka berdua dapat membantu Fei Chen mengontrol petir didalam Pedang Sembilan Petir bahkan mengendalikannya.
“Nyonya, aku akan pergi. Tetapi sebelum itu aku ingin memastikan kau baik-baik saja dan tidak melakukan tindakan konyol seperti bunuh diri.” Fei Chen berdiri dihadapan wanita itu dan menatapnya tajam.
Wanita tersebut terisak, “Hiks... Hiks... Hiks... Semua pria sama saja! Aku adalah wanita kotor dan murahan! Aku diperkosa dan menjadi korban justru tidak pernah mendapatkan kebahagiaan!”
Fei Chen sebenarnya ingin segera kembali menemui San Zhu dan Futaba, namun melihat wanita ini menangis akhirnya Fei Chen menundanya.
Cukup lama wanita itu menangis sebelum akhirnya tenang. Wanita itu berbicara lembut dengan Fei Chen. Dan akhirnya Fei Chen mau tidak mau mendengarkan wanita itu menceritakan masa lalunya kepada Fei Chen.
“Nyonya, jangan menceritakan masa lalumu pada orang yang baru kau temui. Beruntung aku tidak seperti mereka dan memanfaatkan kondisimu.” Fei Chen menegur wanita paruh baya yang ternyata bernama Sayuri Chiaki ini.
Sayuri yang berumur empat puluh tahun itu ternyata adalah salah satu istri Gara Kagura. Saat masih gadis Sayuri direnggut kesuciannya oleh Gara yang umurnya lebih pantas menjadi Ayahnya terlebih saat itu Sayuri merupakan kekasih dari adik Gara Kagura yang bernama Jugo Kagura.
Tentu saja saat mendengar hal ini Fei Chen seperti menemukan sebuah informasi yang sangat langka.
“Aku menjadi korban. Saat aku menjelaskan kepada orang itu, dia menatapku jijik dan menghinaku...” Sayuri menggumam sendiri dan merasakan depresi yang sangat hebat.
Fei Chen yang mengerti membiarkan Sayuri berbicara sendiri hingga akhirnya wanita itu tenang.
“Kau Onigari bukan? Apa kau tidak ingin menikmati tubuhku? Laki-laki seperti binatang dan mereka hanya bisa membuka kepuasan.” Sayuri menatap Fei Chen tajam dan rendah.
Fei Chen menghela nafas dan menjawab, “Nyonya, aku tidak akan melakukan suatu hubungan jika wanita itu tidak menerima kondisiku. Baiklah aku akan memberitahumu sesuatu tentang diriku karena kau menceritakan masa lalumu padaku...”
“Aku memiliki istri lebih dari dua puluh. Mereka semua menerima diriku apa adanya. Apa menurutmu aku tertarik memanfaatkan kondisimu yang menyedihkan ini?” Pengakuan Fei Chen justru membuat Sayuri mencibir.
“Kau sama seperti binatang yang dulu menghancurkan hidupku. Merebut dan memaksa wanita untuk menjadi istrinya.”
Fei Chen tidak menggubris ucapan Sayuri. Keduanya lama berbincang sebelum akhirnya Fei Chen membawa Sayuri ke Gunung Menangis.
Sayuri terkejut karena saat dirinya meminta Fei Chen untuk membawanya ke tempat yang jauh dan tidak ada orang sama sekali, Fei Chen justru membawanya ke tempat indah yang bernama Gunung Menangis.
“Nyonya, tempat ini sangat istimewa untukku. Aku hanya membawa orang yang mendapatkan kepercayaan hatiku ke tempat ini. Bisa dikatakan tempat ini adalah sebuah tempat aku dan semua istriku melakukan kegiatan suami istri.” Fei Chen berkata dengan jujur dan membuat Sayuri tercengang.
“Ini...” Sayuri bisa melihat Fei Chen tulus membantunya. Namun Fei Chen terlihat sama sekali tidak berniat memanfaatkan kelemahan dirinya.
____
Penulis mengucapkan :
"𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐑𝐚𝐲𝐚 𝐈𝐝𝐮𝐥 𝐅𝐢𝐭𝐫𝐢, 𝟏 𝐒𝐲𝐚𝐰𝐚𝐥 1443 𝐇 / 2022 𝐌"
𝐓𝐀𝐐𝐎𝐁𝐁𝐀𝐋𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇𝐔 𝐌𝐈𝐍𝐍𝐀 𝐖𝐀 𝐌𝐈𝐍𝐊𝐔𝐌 𝐁𝐀𝐑𝐀𝐊𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇𝐔 𝐅𝐈𝐈𝐊𝐔𝐌
MINAL AIDZIN WAL FAIZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
SAM ILFAR