Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 36 - Luo Rou


PPFC 36 - Luo Rou


Fei Chen memiliki kecocokan dengan unsur api sedangkan Jia Li memiliki kecocokan dengan unsur air. Keduanya kini sedang memakan menyerap khasiat sumber daya pemberian Feng Lao.


Fei Chen memakan Buah Roh Api sementara Jia Li memakan Buah Roh Air. Bisa dibilang Fei Chen sudah terbiasa dengan sumber daya seperti ini, dia sendiri berniat memberikan beberapa sumber daya yang dibawanya dari Gunung Menangis kepada Feng Lao.


‘Sebenarnya aku membawa buah-buahan dari Gunung Menangis, tetapi aku tidak menyangka jika sumber daya seperti ini sangatlah langka...’


Fei Chen tidak ingin mengecewakan Feng Lao dan tidak bisa mengatakan jika dirinya sudah terbiasa menikmati sumber daya seperti Buah Roh Air dan Buah Roh Api di Gunung Menangis kepada Feng Lao.


Hampir setiap hari Fei Chen dan Jia Li bermeditasi dan menyerap khasiat sumber daya pemberian Feng Lao. Perkembangan Fei Chen memanglah pesat, sumber daya yang dibagi Feng Lao dia bagikan kembali pada Jia Li.


“Chenchen, apa kau serius?” Jia Li sendiri tidak bisa menolak sumber daya pemberian Fei Chen.


“Ya, aku serius. Kau lebih membutuhkan Apel Es dan Rumput Sembilan Jiwa dibandingkan diriku.” Fei Chen memberikan Apel Es dan Rumput Sembilan Jiwa miliknya pada Jia Li.


“Lili, Ginseng Naga milikku ini bisa kau buat menjadi minuman herbal?” Fei Chen penasaran jika Ginseng Naga diolah menjadi minuman.


“Aku...” Jia Li sulit menjawab karena dirinya sama sekali tidak pandai memasak.


“Maaf, ini salahku bertanya padamu.” Fei Chen baru sadar dan mengatakan hal yang membuat Jia Li menahan malu.


“Kau sengaja mengatakan itu bukan?” Jia Li menatap sengit Fei Chen.


“Aku selalu mengira perempuan pandai memasak. Dan aku mengira kau bisa membuat minuman herbal dari Ginseng Naga. Jadi jangan salah paham, Lili.” Fei Chen menyikapi secara dewasa karena tidak ingin berdebat lebih jauh dengan Jia Li.


Saat Fei Chen dan Jia Li berbincang, sesosok wanita berumur berwajah keibuan datang menghampiri Jia Li.


“Li‘er?”


Jia Li yang sedang memukul dada Fei Chen menoleh ke arah sumber suara.


Seorang wanita berumur tiga puluh lima tahun menatap Jia Li penuh kasih sayang. Wanita itu tersenyum hangat dan memeluk tubuh Jia Li saat gadis manis itu berlari kearahnya.


“Bibi Rou!” Jia Li terisak dan mendekap tubuh wanita yang memiliki sifat keibuan itu.


“Li‘er syukurlah kau baik-baik saja...”


Jia Li sangat merindukan wanita dihadapannya, wanita yang bernama Luo Rou. Mengetahui Luo Rou berpergian mencari dirinya meninggalkan sekte membuat Jia Li khawatir saat kembali.


Fei Chen menatap Luo Rou dan Jia Li. Melihat momen ini membuat Fei Chen memalingkan wajahnya dan memilih untuk mengamati pepohonan yang ditiup sang angin.


Jia Li memiliki asal-usul yang misterius dan hanya Feng Xinrui dan Feng Lao saja yang mengetahui identitas Jia Li yang sesungguhnya.


Jia Li sudah menganggap Luo Rou dan Feng Xinrui sebagai orang tuanya, walaupun jika dirinya ini sama sekali tidak mengetahui orang tua kandungnya, karena Feng Xinrui memberitahu dirinya ditemukan di sungai saat kecil.


Luo Rou dan Feng Xinrui berada dalam satu generasi yang sama. Bisa dibilang Luo Rou memiliki perasaan khusus pada Feng Xinrui begitu juga dengan sebaliknya. Namun keduanya saling memendam rasa dan tidak ada yang mau mengungkapkan hingga kematian Feng Xinrui membuat Luo Rou frustasi.


Namun Luo Rou menjadikan Jia Li sebagai peninggalan Feng Xinrui dan alasan hidupnya.


Larut dalam pertemuan membuat Jia Li dan Luo Rou melupakan keberadaan Fei Chen. Segera Luo Rou menoleh kearah Fei Chen saat menyadari bocah itu sedang saling menatap dengan seekor kucing.


“Li‘er siapakah dia?” Luo Rou bertanya. Jia Li menjelaskan tentang sosok Fei Chen kepada Luo Rou.


“Dia Chenchen. Bibi Rou, dia yang menyelamatkanku dan mengantarku kembali kesini. Walaupun agak menyebalkan, tetapi dia orang baik.” Melihat Jia Li bersemangat saat memberitahu tentang Fei Chen padanya membuat Luo Rou tersenyum.


“Li‘er, sepertinya kau sangat menyukainya.” Luo Rou sengaja menggoda Jia Li.


“Menyukainya? Aku... Tidak-” Jia Lii tercekat karena tidak bisa menjawab.


Fei Chen yang mengetahui Luo Rou dan Jia Li sedang membicarakan dirinya langsung memperkenalkan diri.


“Salam kenal Bibi, namaku Fei Chen.” Sambil membungkuk, Fei Chen memberikan hormat pada Luo Rou.


“Chen‘er...” Luo Rou memandang Fei Chen dari atas sampai bawah. Kemudian wanita itu berjongkok dan mengelus kepala Fei Chen.


“Terimakasih sudah menjaga Li‘er.” Senyuman penuh kasih sayang tersungging dibibir Luo Rou.


“Ibu...” Fei Chen bergumam pelan.


“Ibu? Aku bukan Ibumu.” Sahut Luo Rou saat mendengar Fei Chen menggumam.


“Rou‘er, kau sudah kembali.” Feng Lao datang dari dalam bangunan Paviliun Pedang Langit menghampiri Luo Rou, Jia Li dan Fei Chen.


Luo Rou adalah anak dari sahabat Feng Lao yang merupakan Tetua Lembah Pedang, Ayah Luo Rou meninggal saat wanita itu berusia tujuh belas tahun dan sampai saat ini Feng Lao yang merawatnya.


Fei Chen tersipu malu saat Luo Rou mengelus kepalanya penuh kasih sayang. Sedangkan Jia Li terlihat begitu senang mengeledek Fei Chen.


“Sebaiknya kita kedalam, Bibi akan memasak sesuatu untuk kalian berdua.” Luo Rou mengajak Jia Li dan Fei Chen untuk masuk kedalam rumah.