Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 38 - Teknik Pedang Langit


PPFC 38 - Teknik Pedang Langit


“Guru, kenapa terus menatap murid?” Fei Chen memasang ekspresi risih karena Feng Lao daritadi terus menatap dirinya.


“Tidak, Chen‘er. Baru saja kutinggal beberapa minggu, kau telah berkembang sangat pesat dan sepertinya Li‘er menjadi termotivasi. Hanya saja aku bisa merasakan detak jantungmu suaranya sama seperti mendiang anakku ataupun mendiang muridku. Chen‘er, katakan padaku apakah kau memiliki luka dalam?”


Feng Lao jelas menatap Fei Chen penuh kekhawatiran. Kedua bola mata renta itu menggambarkan kesedihan dan penyesalan.


Sebenarnya Fei Chen ingin menanyakan tentang anak dari Feng Lao yang bernama Feng Xinrui serta mendiang murid Feng Lao, tetapi Fei Fhen mengurungkan niatnya.


“Guru, mungkin sudah waktunya. Maafkan jika murid berkata lancang, sekarang Guru telah mendapatkan kepercayaan murid.” Fei Chen tersenyum tipis dan menjelaskan kepada Feng Lao tentang kondisi tubuhnya serta masa lalu dan tujuannya hidup.


Mendengar semua itu nafas Feng Lao terhenti, tak lama Feng Lao mencengkeram kedua bahu Fei Chen erat.


“Chen‘er, kau harus tetap hidup. Asal kau tahu, seorang pendekar berkemampuan tinggi yang hebat sangat wajar jika memiliki istri lebih dari satu. Kau harus menemukannya sebelum usiamu menginjak dua puluh tahun,” ujar Feng Lao.


Fei Chen memberitahu tentang kondisi tubuhnya dan itu membuat mata Feng Lao berlinang air mata.


“Untuk beberapa bulan kedepan aku akan melatih kalian berdua sebelum aku pergi meninggalkan sekte untuk menghadapi Manusia Buas bersama aliansi.”


Feng Lao tidak berbasi-basi dan langsung mengajak Fei Chen serta Jia Li untuk berlatih.


Dalam kurun waktu setahun, Fei Chen dan Jia Li dilatih dengan keras oleh Feng Lao. Tak jarang Jia Li mengeluh sedangkan Fei Chen terlihat sangat menikmati porsi latihan yang semakin hari semakin berat.


Fisik Fei Chen dan Jia Li ditempa dengan keras sehingga pembentukan tulang dan otot-otot dalam tubuh keduanya terbentuk dengan baik. Setelah melatih fisik, keduanya melakukan latih tanding menghadapi Feng Lao dan mengolah seni nafas serta melatih jiwa mereka.


Bela diri tangan kosong serta ilmu pedang menjadi latihan utama mereka. Walaupun Fei Chen dan Jia Li bekerjasama, keduanya tetap tidak bisa mengalahkan Feng Lao.


Hingga tak terasa setahun telah berlalu, Fei Chen dan Jia Li telah berkembang semakin pesat. Fei Chen sekarang berusia tiga belas tahun, sedangkan Jia Li berusia lima belas tahun.


Postur tubuh Fei Chen semakin tinggi dan parasnya juga semakin rupawan, begitu juga dengan Jia Li yang terlihat semakin cantik dan manis serta aura kebangsawanan terlihat sangat kental.


“Sebelum pergi, aku akan mengajarkan Teknik Pedang Langit pada kalian berdua. Li‘er sudah menguasai dua jurus dan aku akan mengajarkan ini padamu juga, Chen‘er.”


Feng Lao menjelaskan jika Lembah Pedang memiliki tiga teknik pedang yang menjadi ciri khas sekte ini. Tiga diantara lain adalah Teknik Pedang Langit, Teknik Pedang Matahari dan Teknik Pedang Bulan.


Setiap teknik pedang itu terdiri tiga jurus. Feng Lao sudah mengajarkan jurus pertama dan kedua Teknik Pedang Langit, Mengoyak Langit dan Langit Hitam.


“Li‘er, coba gerakan jurus pertama dan jurus kedua dari Teknik Pedang Langit.” Feng Lao menyuruh Jia Li memberikan contoh kepada Fei Chen.


“Baik, Kakek Feng.” Jia Li maju dan menarik pedangnya sebelum memperagakan jurus pertama Teknik Pedang Langit yang bernama Mengoyak Langit.


Gerakan Jia Li sangat gemulai namun bertenaga. Permainan pedangnya indah dan terlihat jelas jika gadis manis itu telah berlatih dengan keras selama beberapa bulan belakangan ini.


Fei Chen memperhatikan dengan baik permaian pedang Jia Li dan dia mengetahui dengan jelas tentang usaha Jia Li yang berlatih keras.


Setelah Jia Li selesai memperagakan jurus pertama Teknik Pedang Langit, Fei Chen terlihat sudah memahami seluruh permaian pedang itu lebih cepat dari yang diperkirakan Feng Lao.


Bagi Fei Chen lebih sulit memperagakan Teknik Pedang Raja Neraka dibandingkan Teknik Pedang Langit.


“Bagus Li‘er. Jadi apa kau sudah paham sampai dimana Chen‘er?” Feng Lao menyuruh Fei Chen memperagakan gerakan yang barusan digerakkan oleh Jia Li.


Fei Chen tidak menjawb melainkan langsung memperagakan jurus pertama Teknik Pedang Langit. Aksi Fei Chen ini membuat nafas Jia Li terhenti untuk sesaat karena dirinya saja butuh satu bulan untuk menguasai seluruh gerakannya namun Fei Chen tidak sampai satu hari bahkan satu jam sekalipun.


Feng Lao dibuat berdecak kagum bahkan Luo Rou yang sedang melihat dari teras Paviliun Pedang Langit ikut berdecak kagum melihat permainan pedang Fei Chen.


“Chen‘er, kau memang sangat berbakat.”


Feng Lao menggelengkan kepalanya setelah Fei Chen menguasai jurus pertama Teknik Pedang Langit, Mengoyak Langit.


‘Bahkan dia memperagakannya lebih mahir dari murid-murid di Lembah Pedang. Dia setara dengan Tetua.’ Feng Lao membatin dan memperhatikan Fei Chen dan Jia Li.


Selanjutnya Feng Lao kembali menyuruh Jia Li memperagakan jurus kedua Teknik Pedang Langit, Langit Malam.


Sama seperti sebelumnya Fei Chen dapat menguasai jurus kedua Teknik Pedang Langit dengan mudah.


“Chenchen, sebenarnya kau ini manusia atau Dewa? Aku saja mempelajari Langit Malam selama dua bulan penuh dan kau...” Jia Li sudah sangat kesal sehingga dia memukul dada Fei Chen.


Mendengar itu Jia Li melunak, “Tetapi aku ingin kau menahan diri. Setidaknya kau berpura-pura bodoh.”


“Itu tidak mungkin.” Fei Chen menyentil kening Jia Li membuat gadis manis itu menendang perutnya.


Feng Lao yang melihat tingkah keduanya menggelengkan kepalanya sebelum menegur keduanya untuk memperhatikan dirinya yang akan memperagakan jurus terakhir Teknik Pedang Langit, Naga Petir Mengarungi Langit.


Saat Feng Lao memperagakan jurus tersebut, suasana mencekam karena tekanan aura mengerikan. Permainan pedang Feng Lao sangatlah tegas dan mematikan membuat Fei Chen dan Jia Li terpana melihatnya.


“Ketiga jurus ini jika kalian meningkatkan kemampuan kalian dan terus mengasah teknik ini, maka kalian bisa bertarung menggunakan pedang sesuka hati kalian. Layaknya pedang jika tidak asah maka akan semakin tumpul, begitu juga dengan ketiga jurus tadi jika kalian tidak menguasainya secara sempurna maka jurus tersebut hanya serangan kosong yang bahkan tidak bisa membunuh penjahat rendahan sekalipun.”


Selesai memperagakan, Feng Lao berkata demikian. Kemudian dia menyuruh Fei Chen dan Jia Li memperagakan jurus terakhir Teknik Pedang Langit.


Butuh waktu satu hari bagi Fei Chen untuk menguasainya, sedangkan Jia Li seminggu berkat kerja kerasnya yang ingin diakui Fei Chen.


Melihat perkembangan Jia Li membuat Feng Lao tersenyum bangga karena potensi Jia Li semakin hari semakin terlihat berkat adanya sosok Fei Chen.


Kini Fei Chen telah mencapai Pendekar Agung Tahap Menengah dan Jia Li telah mencapai Pendekar Kaisar Tahap Akhir. Perkembangan Jia Li berkat sumber daya dan latihannya, sedangkan Fei Chen berkat bakat dan kondisi tubuhnya.


Layaknya pedang bermata dia itulah kondisi tubuh Fei Chen. Bahkan Feng Lao menjadi pesimis karena dirinya berada tiga diatas Fei Chen yakni Pendekar Bumi Tahap Menengah.


Feng Lao juga mendengar jika Fang Huo sama seperti dirinya telah mencapai Pendekar Bumi Tahap Menengah.


“Baiklah, kita tidak akan bertemu dalam waktu yang tidak menentu. Jaga diri kalian baik-baik Li‘er, Chen‘er.” Feng Lao mengelus kepala Jia Li dan Fei Chen secara bersamaan, “Aku titip mereka berdua, Rou‘er.”


Luo Rou menganggukan kepalanya lembut dan menjawab, “Aku akan menjaga mereka layaknya anakku sendiri, Patriark.”


“Kakek, jangan lupa makan yang teratur dan harus berhati-hati selama menjalankan misi, ” ujar Jia Li mengingatkan.


“Li‘er, kakekmu ini hanya pergi sebentar. Kau terlalu berlebihan.” Feng Lao mencubit pipi Jia Li dan tertawa kecil.


“Guru, bawalah ini.” Fei Chen memberikan sejumlah Pil Embun Bintang kepada Feng Lao.


Seketika Feng Lao tersedak bahkan Luo Rou dan Jia Li tercengang melihat telapak tangan Fei Chen penuh dengan Pil Embun Bening.


“Chen‘er kau tidak mencuri bukan?” tanya Feng Lao penuh curiga.


“Tidak, Guru. Aku membuatnya sendiri.” Fei Chen menjelaskan jika selama dirinya mengurung diri dikamar dia mempelajari resep membuat Pil Embun Bening.


“Satu bulan aku hanya bisa membuat dia Pil Embun Bening. Padahal seharusnya aku bisa membuat sepuluh dalam sehari, sepertinya aku tidak berbakat di bidang pengobatan.” Fei Chen menggaruk kepalanya karena tidak ada reaksi dari Feng Lao.


‘Sehari membuat sepuluh? Apa yang Chen‘er katakan? Bahkan seorang ahli pengobatan sekalipun butuh waktu setahun untuk membuat satu sampai lima Pil Embun Bening dan kau Chen‘er mampu membuat dua Pil Embun Bening dalam sebulan, kau benar-benar jenius berbakat.’


Feng Lao menolak pemberian Fei Chen namun Fei Chen tetap memaksanya sehingga Feng Lao menerimanya. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Fei Chen menceritakan kepada Feng Lao, Jia Li dan Luo Rou tentang sumber daya yang dia simpan di Cincin Ruang saat dirinya berhasil lolos dari maut saat pembantaian.


Ketiganya mempercayai cerita Fei Chen dan pada akhirnya Feng Lao menerima Pil Embun Bening pemberian Fei Chen sebelum berpamitan.


Setelah kepergian Feng Lao, Fei Chen dan Luo Rou mengobrol. Luo Rou mengajarkan Fei Chen tentang kebaikan bahkan wanita itu tidak ingin Fei Chen sombong karena kejeniusannya dan selalu hormat bersikap sopan pada yang lebih tua.


“Bibi Luo, aku harus memilih orang dewasa yang pantas mendapatkan penghormatan dariku.” Jawaban Fei Chen membuat Luo Rou meremas rambutnya.


“Tidak boleh seperti itu, Chen‘er.”


“Semua tergantung dari cara mereka memperlakukanku, Bibi Luo.” Fei Chen tersenyum dan membuat Luo Rou menghela nafas.


“Bibi Luo...”


“Ada apa?”


Luo Rou menatap wajah Fei Chen yang terlihat seperti anak yang bersedih. Walaupun hanya sekilas tetapi Luo Rou jelas melihat ekspresi sedih Fei Chen sebelum berganti dengan senyuman.


“Bibi Luo, jika aku berbuat kesalahan dan bertindak tidak semestinya, tolong tegur dan marahi aku seperti yang mendiang Ibuku lakukan.”


Setelah mengatakan itu Fei Chen pergi meninggalkan Luo Rou yang tersenyum ramah menatap punggungnya.


“Dia ingin merasakan kasih sayang...“ Luo Rou bergumam pelan dan mengerti perasaan Fei Chen yang begitu merindukan kasih sayang orang tua.