
PPFC 153 - Istana Mawar Biru
Jarak antara Lembah Naga dan Ibukota Huayin sekitar seminggu lebih jika ditempuh dengan berjalan kaki ataupun berlari, namun dengan terbang menggunakan Qi Fei Chen bersama Su Xiulan, San Zhu dan Yin Jinxia tiba lebih cepat dari perkirakan.
“Jadi ini namanya Qi? Bisakah kau ajarakan itu padaku, Kakak Xiuxiu?”
Setelah terbang selama dua hari lebih tanpa henti akhirnya Yin Jinxia akrab dengan Su Xiulan. Bahkan Yin Jinxia merasa tenang saat dalam perjalanan San Zhu menceritakan sosok Gao Lu Ma.
“Hihihi... Kau ingin belajar denganku? Tidak bisa, muridku hanyalah suamiku. Lain ceritanya jika kau meminta pada orang dingin itu.” Su Xiulan tertawa lirih sambil menunjuk Fei Chen yang terbang dengan kecepatan tinggi.
“Ah...” Yin Jinxia nampak kecewa tetapi dia sendiri terkejut karena pemuda seperti Fei Chen berhasil dijinakkan oleh Su Xiulan.
“Aku mengerti apa yang ada didalam pikiranmu, Xiaxia. Kau pasti berpikir bagaimana Naga Ganas seperti dia dapat dijinakkan oleh perempuan bukan?” San Zhu yang sedari diam ikut berbicara.
“Bukan seperti Kakak Zhuzhu...” Yin Jinxia ingin mengelak tapi pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya.
“Bocah Fei sangat unik, aku sendiri tertarik pada perkembangannya.” San Zhu tersenyum penuh arti menatap Fei Chen sebelum mengalihkan pandangannya memprovokasi Su Xiulan.
“Aku tidak ingin berdebat denganmu, San Zhu. Akhir-akhir dia menunjukkan sisi dirinya yang lain padaku. Jika kau berniat memproduksiku, kau salah orang. Level kita telah jauh berbeda.”
Ucapan Su Xiulan langsung membuat San Zhu terdiam seribu bahasa.
Disaat yang bersamaan situasi di Ibukota Huayin tidak terkendali saat Tan Wuyun memerintahkan anggotanya untuk mengusir pendekar Istana Mawar Biru dari Ibukota Huayin.
Pertempuran tidak bisa dihindari dan alasan mengapa Tan Wuyun berani melakukan pertempuran secara langsung walaupun dia pernah berkata takut terhadap sosok Ling Shan karena Raja Iblis Buas Gao Lu Ma mengatakan padanya akan datang ke Ibukota Huayin hari ini.
Didalam kediaman megah Istana Mawar Biru terlihat seorang gadis cantik yang sedang duduk santai bersama seorang wanita berumur tiga puluh lima tahun namun terlihat seumuran dengan gadis tersebut.
“Nona Muda Ling, sepertinya aku harus turun tangan karena Tan Wuyun sudah melakukan pergerakan...” Da Yan menawarkan diri untuk terjun langsung ke pertempuran.
Gadis cantik yang sedang meminum teh hangat dengan anggun itu adalah Ling Ye dan disampingnya adalah Qiao Mi.
“Aku mengizinkanmu untuk mengamuk, Paman Da.” Ling Ye sendiri tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi dengan Ibukota Huayin selama usahanya lancar.
Lalu Ling Ye menatap Qiao Mi yang diam dan tidak menanggapi perkataannya. Dalam hati dia membatin, ‘Apa benar dia berumur tiga puluh lima tahun? Bukankah ini sangat tidak adil? Lihat wajah dan kulitnya... Dia sangat cantik bagaikan seorang Dewi...’
Qiao Mi yang merasa ditatap serius oleh Ling Ye tersadar.
“Ada apa Nona Muda Ling?”
“Ah, tidak.” Ling Ye langsung mengalihkan pandangannya.
Sebuah kebetulan Ling Ye dapat bertemu dengan Qiao Mi. Setelah kepergian Fei Chen, Qiao Mi datang ke Kekaisaran Jia karena ingin memberitahu Fei Chen tentang pergerakan Raja Iblis Naga Sun Yelong.
Qiao Mi berharap Fei Chen mampu menerima takdirnya untuk memegang Pedang Sembilan Petir. Alasan Qiao Mi melakukan ini karena perasaan bersalahnya terhadap jutaan nyawa dan perasaan itu membuatnya merasa gila.
“Kakak Mimi, apa hubunganmu dengan Chen‘gege?” Ling Ye bertanya untuk memastikan.
“Aku dengan dia? Dia adalah Patriark yang hebat dan aku adalah bawahannya.” Jawaban Qiao Mi sama sekali tidak memuaskan.
‘Ini mencurigakan. Dasar buaya! Setelah merenggut ciumanku dia ternyata memiliki wanita lain!’ Ling Ye tiba-tiba merasa kesal sebelum akhirnya pintu ruangannya diketuk.
“Nona Muda Ling.”
“Suara Bibi Guan.” Segera Ling Ye membuka pintu dan melihat seorang wanita paruh baya yang merupakan seorang Permaisuri Kaisar Yin dan Ibu dari Yin Jinxia datang.
“Aku melihat Xiaxia diluar! Sepertinya kekacauan sudah dihentikan oleh orang-orang yang dibawa Xiaxia!”
“Eh?” Ling Ye terkejut mendengar ucapan Guan Ling barusan.
Guan Ling menarik tangan Ling Ye dan membawanya menuju jendela didalam kamar yang disediakan untuknya. Alangkah terkejutnya saat Ling Ye melihat orang yang membunuh Tan Wuyun dan mengakhiri pertempuran adalah Fei Chen.
“Chen‘gege!” Ling Ye tersenyum sumringah sebelum berlari menuju ruangan pribadinya membawa Qiao Mi keluar.