
PPFC 233 - Raja Naga Dijinakkan Oleh Wanita
Selepas menemani Luo Rou yang terbaring lemas, Fei Chen menepati janjinya pada Qie Shie. Pemuda itu membawa Qie Shie menggapai alam surgawi yang belum pernah wanita paruh baya itu rasakan.
Berulang kali Qie Shie memohon untuk berhenti namun Fei Chen tetap mengarungi tubuh indahnya yang matang sebelum dirinya mencapai puncak. Akhirnya Qie Shie tertidur diatas tubuh Fei Chen dimana inti mereka saling menyatu satu sama lain.
Saat pagi tiba Fei Chen membangunkan Qie Shie dengan membelai rambutnya yang berantakan. Wanita paruh baya itu terbangun secara bertahap lalu tersenyum lemas menyapa Fei Chen.
“Chen‘er... Selamat pagi...” sapa Qie Shie.
“Pagi Bibi Qie...” Fei Chen langsung mengangkat tubuh Qie Shie dan memandikannya.
Setelah tubuh keduanya bersih, Fei Chen berjalan-jalan menikmati pemandangan dan kemajuan Lentera Seribu Pedang.
“Kenapa Matriark Qie terlihat kesusahan berjalan?”
“Lihat, dia seperti memaksakan diri untuk berjalan. Daripada itu Patriark Fei sangat tampan, aku rela menjadi selirnya yang keseratus.”
“Apa rumor itu benar jika Patriark Fei memiliki hubungan gelap dengan Matriark Qie?”
Anggota Lentera Seribu Pedang yang sekarang anggotanya semuanya adalah perempuan saling berbisik menatap kedekatan Fei Chen dan Qie Shie. Yang mana Fei Chen lebih cocok menjadi anak Qie Shie dibandingkan kekasihnya.
Fei Chen sendiri tidak peduli sedangkan Qie Shie berulang kali menggerutu kesal karena ulah Fei Chen yang tanpa ampun mengarungi tubuhnya.
“Chen‘er, dua bulan lagi umurmu delapan belas tahun bukan?” Qie Shie bertanya dan Fei Chen mengangguk pelan.
“Ada apa Bibi Qie?” Fei Chen menaikan alisnya karena kedipan mata Qie Shie yang menggoda dirinya.
“Rahasia... Nantikan saja asal kau berjanji menikahiku.” Qie Shie berkata lirih dengan suara yang manja.
“Hmmm...” Fei Chen mengangkat alisnya lalu teringat akan Su Xiulan.
“Satu bulan lagi aku akan menjadi seorang Ayah...” Fei Chen menggumam mengingat masa kehamilan Su Xiulan.
Keduanya berjalan menuju Paviliun Pedang Cinta sebelum Fei Chen membuka portal teleportasi menuju Benteng Lembah Pedang.
Sesampainya di Benteng Lembah Pedang, Fei Chen mempertemukan Qie Shie dengan Luo Rou. Sengaja dia melakukan itu karena ingin melihat bagaimana keakraban keduanya setelah dirinya mengarungi malam yang panjang dengan masing-masing wanita paruh baya tersebut.
Saat Fei Chen tersenyum tipis, aura Deshe terasa di tubuhnya dan tak lama Ular Bumi itu langsung melilit tubuh Fei Chen.
“Tuanku, aku merindukanmu!” ujar Deshe yang mengubah ukurannya sesuai badan Fei Chen.
“Deshe, apa kau sudah bosan hidup?” Fei Chen mendecakkan lidahnya kesal karena ulah Deshe.
“Chen‘er jangan bunuh ular ini!” Qie Shie menegur Fei Chen walaupun pemuda itu hanya sekedar menggertak.
“Tuanku, Tuanku, apa mereka berdua adalah calon istrimu? Mereka mengatakan itu padaku sehingga aku menuruti kata Bibi Shie. Oh iya, aku menemukan informasi tentang siapa Ji Guang Kang ataupun Hong Zi Ran, Tuanku.” Dehse bertanya sambil mengecilkan tubuhnya.
Qie Shie langsung mencengkeram tubuh Deshe dan menggesekkan tubuhnya di pipi. Sedangkan Fei Chen menatap Luo Rou yang tersipu malu dan Qie Shie secara bergantian.
“Ya, Deshe, mereka berdua adalah calon istriku jadi jaga mereka berdua baik-baik saat aku tidak ada disisi mereka.” Fei Chen mengatakan itu sambil menatap Luo Rou penuh makna.
Luo Rou semakin tersipu malu dan langsung memalingkan wajahnya. Tentu saja hal ini membuat Qie Shie menatapnya curiga.
‘Aneh... Seharusnya Rourou mengelak dan membantah tetapi sekarang dia diam saja. Terlebih ekspresinya sekarang ini... Ini tidak mungkin kan?’ Qie Shie membatin penuh tebakan tentang hubungan Fei Chen dan Luo Rou.
“Jadi aku adalah hidangan penutup...” Qie Shie menggumam pelan lalu menyuruh Deshe memperbesar badannya sedikit.
“Chen‘er, tatap mataku...” perintah Qie Shie dan Fei Chen langsung menurutinya.
“Ini belum seberapa Chen‘er setelah apa yang kau lakukan padaku?!” Qie Shie tersenyum dingin mengingat bagaimana sekarang dirinya kesusahan berjalan.
“Shieshie?” Luo Rou bisa mengetahui apa yang terjadi diantara keduanya sehingga dia memegang lengan Qie Shie erat.
“Shieshie ikut aku. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu.”
“Bibi mau kemana?” tanya Fei Chen ramah.
Luo Rou dengan lembut menjawab, “Chen‘er ini urusan wanita lebih baik kau tidak mengetahuinya. Maaf Bibi tinggal sebentar.”
Setelah itu Luo Rou membawa Qie Shie menjauh. Sedangkan Fei Chen mematung bersama Deshe yang baru saja dibanting tubuhnya oleh Qie Shie.
“Tuanku kenapa Bibi Shie sangat galak sedangkan Bibi Rou begitu lemah lembut? Oh iya aku lupa ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu Tuanku.”
Deshe melata dan mendaki tubuh Fei Chen lalu berhenti dibahu kanannya. Ukurannya yang kecil nampak menggemaskan walaupun hewan suci itu sangat berbahaya, beracun sekaligus mengerikan.
Deshe menceritakan jika Qie Shie dan Luo Rou menyuruh dirinya mengikuti jejak Hong Zi Ran. Hanya dengan menciun aroma aura Hong Zi Ran, Deshe berhasil mengetahui keberangkatan Hong Zi Ran dari Benteng Lembah Pedang menuju Bukit Hong untuk berkunjung ke makan mendiang ayahnya.
Namun Hong Zi Ran tidak mengetahui jika pria yang melamarnya adalah mata-mata pria bernama Abashiri yang merupakan petinggi Organisasi Sakura Darah yang sekarang menetap di Kekaisaran Ma.
Abashiri berhasil mendapatkan kepercayaan penduduk Xuangang dan pria itu diam-diam mengincar Xhin Li Wei. Organisasi Sakura Darah bergerak di kegelapan Kekaisaran Ma mengendalikan dunia perbudakan.
“Aku tidak mendapatkan informasi lebih jauh mengenai Organisasi Sakura Darah tetapi aku melihat pria sialan itu berbicara dengan seorang shinobi, Tuanku...” jelas Deshe.
“Shinobi ya? Mereka berusaha memperluas pengaruhnya di negeriku. Selain itu kita belum mengetahui secara pasti apa yang terjadi di Kekaisaran Kai...” sahut Fei Chen.
“Tuanku, aku juga mendapatkan informasi lain tentang Song Na. Wanita itu menjadi budak Ji Guang Kang sedangkan anaknya telah dibunuh... Kau harus memberitahu wanita itu Tuanku. Walaupun aku tidak peduli, tetapi karena melihat parasnya yang mirip Bibi Luo, aku menjadi kasihan padanya saat meronta dan menangis karena dipermainkan Ji Guang Kang...” Tiba-tiba Deshe mengeluarkan aura pembunuh.
“Lalu kenapa kau tidak menolongnya?”
“Aku hanya melindungi wanita yang sudah terikat denganmu Tuanku. Kau adalah penguasa yang berhak memiliki segalanya baik itu tahta, harta dan wanita. Tetapi aku enggan menolong orang yang tidak terikat denganmu ataupun bukan bawahanmu,” tegas Deshe menjawab.
“Kalau begitu aku ingin berpamitan dengan mereka berdua...”
Akhirnya Fei Chen menemukan informasi penting dan dia baru mengetahui Deshe mempunyai keahlian seperti ini. Semua itu berkat Qie Shie dan Fei Chen langsung berpamitan dengan kedua wanita paruh baya itu sebelum mempersiapkan bekal makanan yang dibuat Luo Rou untuk dirinya.
“Hati-hati Chen‘er. Jangan nakal saat berada diluar sana. Bibi menunggumu disini,” ucap Luo Rou gemas sambil mencubit pipi Fei Chen.
Qie Shie juga melakukan hal yang sama, “Chen‘er, ingat sayang...” Setelah mencubit pipi Fei Chen dengan gemas, Qie Shie mengelus perutnya seolah-olah memberi tanda bahwa tanda kepemilikan Fei Chen atas dirinya telah mutlak karena pemuda itu menyiram benih cintanya disana.
Luo Rou menatap Qie Shie tajam, begitu sebaliknya. Perubahan kedua wanita paruh baya itu membuat Fei Chen langsung bergegas pergi.
‘Sebaiknya aku pergi- Tunggu aura ini!’ Batin Fei Chen saat merasakan aura yang tidak asing dan aura itu adalah milik San Zhu.
“Bocah sialan! Jangan mentang-mentang aku menawarkan diri menjadi bawahanmu kau seenaknya saja mencampakkanku!” Sebuah pedang mendarat di leher Fei Chen namun pedang itu patah menimbulkan bunyi yang keras.
“San Zhu rupanya?”
“Hah? San Zhu rupanya?” San Zhu semakin kesal dengan ekspresi tidak bersalah Fei Chen. Wanita itu mendekat lalu mencekik leher Fei Chen.
“Guru- Tidak, wanita sial- Maksudku Kakak Xiuxiu sudah mengandung anakmu bahkan sebulan lagi dia akan melahirkan! Dan kau kenapa belum menyentuhku sekalipun-”
Fei Chen langsung membekap mulut San Zhu namun semuanya terlambat karena Luo Rou dan Qie Shie menatapnya tajam penuh pertanyaan.
“Chen‘er!”
Deshe yang melihat kejadian itu membatin, ‘Raja Naga dijinakkan oleh wanita ya?’