
PPFC 288 - Lantai 6 Reruntuhan Dewi Iblis
Fei Chen mematung dan tidak dapat menggerakkan tubuhnya saat dihadapannya muncul sosok wanita yang tidak lain adalah Mao Ruyue sang Dewi Iblis.
“Ilusi yang kuciptakan tidak dapat kau patahkan bukan? Kau telah berkembang pesat, tetapi dimataku kau sangat lemah manusia rendahan!” Mao Ruyue tersenyum mengejek dan memegang perut Fei Chen dengan telapak tangannya.
“Dilantai selanjutnya kita akan berbincang hangat, manusia rendahan. Ada yang ingin ku tanyakan padamu karena kau telah sejauh ini untuk mengambil pusaka paling berharga milikku.” Mao Ruyue menambahkan.
Lalu Mao Ruyue mengalirkan aura tubuhnya ke telapak tangan kanannya yang memegang perut Fei Chen. Seringai kejam Mao Ruyue menatap Fei Chen yang meringis karena merasakan sakit didalam perutnya.
“Sampai bertemu lagi, manusia rendahan.”
Setelah itu hawa keberadaan Mao Ruyue lenyap. Fei Chen berteriak keras saat perutnya terasa seperti ingin meledak. Dan benar saja selang beberapa detik dentuman ledakan menggema dari dalam perutnya.
Fei Chen ambruk ke tanah dengan mulut yang mengeluarkan cairan hitam. Mao Ruyue dengan kejam mengalirkan Hawa Iblis Sejati kedalam titik-titik meridian didalam tubuh Fei Chen.
Benang Qi dalam tubuh Fei Chen menyerap Hawa Iblis Sejati dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Fei Chen mengerang kesakitan dan menghantamkan kepalan tangannya ketanah berulang kali.
Lalu selang beberapa menit kemudian Fei Chen merasa tenang walaupun seluruh tubuhnya terasa nyeri dan sulit digerakkan.
“Wanita itu! Dia ingin membunuhku!” Fei Chen mengepalkan tangannya dan melepaskan api hitam yang membara.
“Suamiku, kau terlihat sangat menyedihkan...”
“Bukankah kau sangat percaya diri Chen‘er, tetapi sifat aslimu sangat menyedihkan. Kau tidak lebih dari seorang pria yang merengek menjual ketampananmu pada wanita yang lebih tua bukan?”
Fei Chen tercengang saat melihat sosok sumber suara tersebut. Terlihat didepan sana Su Xiulan dan Ying Xie berdiri menatap dirinya tanpa ekspresi.
“Xiu‘er... Guru...” Fei Chen latah berkata karena melihat Su Xiulan dan Ying Xie berdiri dihadapannya.
“Karena kelemahanmu dan tanggung jawabmu, aku harus berpisah dengan Long‘er. Kau benar-benar pria yang menyedihkan. Andai saja-”
“Hentikan!” Fei Chen tidak ingin Su Xiulan melanjutkan perkataannya.
Sekarang Fei Chen terjerat dalam dunia ilusi yang diciptakan Mao Ruyue. Dengan menghadirkan Su Xiulan dan Ying Xie di hadapannya, Mao Ruyue berhasil mempermainkan emosi Fei Chen.
Melihat Fei Chen yang terlihat syok membuat Su Xiulan tertawa mengejek.
“Kau tidak akan pernah mencapai dan menyelamatkan apapun! Kau hanya akan membuat orang disekitarmu menderita dan yang terparah kau mempermainkan perasaan seorang wanita! Aku harap orang sepertimu mati saja!”
Su Xiulan tertawa mengejek Fei Chen dan melempar selendangnya kearah langit. Seketika selendang Su Xiulan melayang di udara dan terlihat seperti menajam.
“Marilah, Suamiku!”
Selendang tersebut bergerak dengan cepat menuju Fei Chen dan mengenai perutnya secara telak. Fei Chen tidak menghindar dan membiarkan tubuhnya menjadi bulan-bulanan serangan yang dilepaskan Su Xiulan.
“Kenapa kau tidak menghindar dan menyerang balik Suamiku? Apa hanya karena Istrimu?!” Su Xiulan menatap Fei Chen penuh kebencian dan melepaskan Qi yang besar dari dalam tubuhnya.
Fei Chen dibuat terkapar diatas tanah dengan serangan selendang Su Xiulan. Tidak berhenti sampai disitu Su Xiulan mengikat tubuh Fei Chen menggunakan selendang yang dipenuhi Qi.
“Tidak menjawab dan tidak berbicara! Sepertinya kau akan mati ditanganku sekarang juga!” Su Xiulan menyeringai dan mengepalkan tangannya.
Seketika selendang yang melilit tubuh Fei Chen mengecil seolah ingin menghancurkan tubuh Fei Chen berkeping-keping. Darah yang bercucuran memenuhi langit saat selendang itu mengecil.
Namun bukan karena berhasil menghancurkan tubuh Fei Chen melainkan karena selendang itu terpotong-potong. Su Xiulan tersenyum lebar melihat Fei Chen mengangkat Pedang Raja Neraka dan memotong selendangnya.
“Lihat dirimu ini berani mengarahkan pedangnya pada seorang wanita! Kau sungguh pria yang ringan tangan!” Su Xiulan tertawa mengejek dan menggerakkan selendangnya sesuka hati untuk menyerang Fei Chen.
Ying Xie yang awalnya diam akhirnya ikut berkata, “Murid yang tidak berguna! Aku tidak pernah mengajarinya untuk menyerang seorang wanita!”
Fei Chen yang mendengar itu dari Ying Xie merasa sakit. Walaupun sekarang dia sadar semuanya hanyalah ilusi namun melihat dua sosok yang berharga dalam hidupnya berkata demikian membuat Fei Chen frustasi.
Fei Chen akhirnya memilih untuk menyerang. Dia sadar jika kedua sosok dihadapannya menghilang maka dirinya akan dapat pergi dari lantai ini dan menemukan Mao Ruyue.
Butuh Qi yang besar untuk mempersingkat jarak dengan Su Xiulan dan Ying Xie. Setiap Fei Chen mendekat, selendang milik Su Xiulan bergerak menyerangnya. Kemudian Ying Xie memanipulasi api hitam untuk membakar tubuhnya.
Pertarungan sengit itu terjadi dalam beberapa menit dan menimbulkan kerusakan yang besar. Fei Chen dibuat tidak dapat memberikan serangan dari jarak dekat atau melepaskan serangan penghabisan.
Fei Chen terdiam dan berhenti bergerak saat mendengar Ying Xie berkata demikian. Terlebih melihat Ying Xie tertawa mengejeknya membuat Fei Chen memejamkan mata.
‘Guru tidak akan pernah berkata seperti itu! Semua ini hanyalah ilusi!’ Fei Chen mencoba menenangkan dirinya dan menguatkan batinnya.
“Kekacauan terjadi dimana saja! Kau hendak menyelamatkan orang-orang namun pada akhirnya kau membiarkan orang-orang terbunuh! Dan yang paling menyedihkan adalah kejadian baru-baru ini! Kau asyik bermain dengan seorang perempuan dan menyuruh ular putih peliharaanmu membantai orang-orang!” Ying Xie kembali mengatakan hal yang membuat Fei Chen mematung dan tidak dapat membantah.
“Aku sungguh menyesal memiliki murid sepertimu Chen‘er!” Ying Xie menambahkan.
Su Xiulan ikut tertawa mengejek dan menanggapi, “Aku sendiri menyesal menikah dan mengajarinya menjadi orang yang kuat, Xiexie.”
“Aku turut bersimpati padamu, Xiuxiu.”
Fei Chen yang mendengar dua sosok itu berbicara akhirnya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Hal ini membuat Su Xiulan dan Ying Xie.
“Apa yang kau ketawakan?!” Su Xiulan menatap dingin Fei Chen.
“Sepertinya muridku yang satu ini sudah gila. Ini hal yang wajar karena sejak kecil dia sudah sangat menyeduh bukan Xiuxiu?” Ying Xie tersenyum mengejek.
“Cukup. Terserah apa yang kalian berdua katakan tentang diriku ini. Aku sama sekali tidak peduli. Istriku ataupun Guruku tidak akan pernah mengatakan hal itu.” Fei Chen tersenyum sinis dan membuat keduanya geram.
“Kalau begitu aku tidak akan segan membunuhmu!” Su Xiulan mengarahkan selendangnya yang ujungnya menajam kearah perut Fei Chen.
Sedangkan Ying Xie menciptakan satu pedang api hitam yang melayang di udara lalu dengan kecepatan tinggi, pedang api hitam itu menembus perut Fei Chen bersamaan dengan selendang Su Xiulan yang menembus perut pemuda tersebut.
Fei Chen hanya tersenyum hangat saat melihat ekspresi tidak percaya Su Xiulan dan Ying Xie.
“Suami yang bodoh! Kenapa kau tidak menghindar hah?!” Su Xiulan mempertanyakan sikap Fei Chen.
“Apa kau ingin mati?” Ying Xie menatap tajam Fei Chen.
“Ini adalah kelemahan terbesarku. Bukan hanya kalian, tetapi aku tidak bisa melukai orang yang berharga dalam hidupku.” Fei Chen menjawab lalu darah segar mulai keluar dari dalam mulutnya.
Tak lama tubuh Fei Chen ambruk kedepan bersamaan dengan runtuhnya langit serta hancurnya tanah tandus yang menjadi tempat pertarungannya ini.
Fei Chen merasakan dirinya akan benar-benar mati saat pandangan matanya terasa begitu gelap. Sensasi dingin yang merayapi kulitnya dan berbisik di sela-sela tulangnya membuat Fei Chen tersenyum.
‘Ilusi yang sangat menyakitkan...’ Fei Chen membatin menikmati setiap rasa sakit yang menerpa tubuhnya.
Tak lama pandangan matanya terasa cerah dan Fei Chen menemukan dirinya berada diatas awan. Hamparan langit yang membentang luas tersaji didepan matanya.
“Aku mengira diriku ini akan benar-benar mati...” Fei Chen memeriksa seluruh tubuhnya yang sama sekali tidak terluka.
“Sungguh sebuah drama yang menarik bukan manusia rendahan?”
Mendengar suara yang tidak asing ini membuat Fei Chen mencari sosok pemilik sumber suara tersebut. Fei Chen menemukan Mao Ruyue yang duduk di kursi singgasana yang melayang di atas langit.
“Kita bertemu lagi, manusia rendahan.”
“Kita bertemu lagi, wanita sialan!”
Fei Chen dan Mao Ruyue sama-sama berkata. Berbeda dengan Fei Chen yang tersenyum sinis, Mao Ruyue justru mengerutkan keningnya menatap Fei Chen penuh amarah.
“Wanita sialan katamu?! Sepertinya kau ingin mati diatas langit ini ya?!” Mao Ruyue langsung mengeluarkan aura pembunuh yang membuat tubuh Fei Chen terpental jauh kebelakang.
“Kenapa kau tidak bisa tenang, Mao Ruyue?” Fei Chen menahan hembusan aura pembunuh yang mematikan dan pada akhirnya bisa berdiri dengan tenang setelah mendapatkan seluruh kesadarannya.
“Apa kau melupakan hubungan kita?” Fei Chen tersenyum lebar dan seketika Mao Ruyue terdiam.
“Apa... Apa maksudmu manusia rendahan? Kau pasti gila karena mendengar istri dan gurumu mengejekmu... Ya, kau pasti gila.” Mao Ruyue terbata-bata membalas ucapan Fei Chen.
Dan itu membuat Fei Chen tertawa kecil, “Kau sudah membuatku syok. Kau harus mengetahui hal itu. Dan satu lagi, apa kau ingin aku membuatmu mengingatnya? Jangan pura-pura lupa Mao Ruyue.”
Fei Chen melangkah mendekati Mao Ruyue dan membuat Mao Ruyue salah tingkah. Melihat ini membuat Fei Chen membatin.
‘Lihat, dia benar-benar berkepribadian ganda.’