
PPFC 116 - Wanita Pertama
Setelah mengetahui cara untuk menuju Benua Tujuh Bintang, Fei Chen membuat sebuah portal di dalam ruangan Ling Ye tanpa izin gadis tersebut.
“Apa kau akan pergi?” Ling Ye bertanya.
“Ya, aku akan pergi. Kali ini aku benar-benar akan menuntaskan ambisiku.” Fei Chen menjawab sambil menatap lurus wajah Ling Ye.
“Hubungan palsu kita juga telah berakhir...” Ling Ye nampak sedih dan membuat Fei Chen tersenyum tipis.
“Kenapa tersenyum?” Ling Ye mengangkat alisnya dan menatap tajam Fei Chen.
“Tidak, hanya saja kau terlibat berbeda dan tidak seperti sebelumnya yang terlihat seolah-olah telah mengendalikan diriku.” Jawaban Fei Chen membuat Ling Ye semakin malu.
“Kamu!” Ling Ye memukul dada Fei Chen sebelum akhirnya gadis itu memeluk tubuh Fei Chen.
“Saat di rumah hiburan kau mengatakannya bukan? Kita bisa mengenal lebih dekat...” Ling Ye memeluk Fei Chen semakin erat, “Aku akan menunggumu, aku mencintaimu Fei Chen...”
Wajah Fei Chen memerah, ‘Sial! Dia terlihat sangat manis!’
Fei Chen membalas pelukan Ling Ye dan berbisik lembut, “Terimakasih Ye‘er...”
Wajah Ling Ye merah padam saat mendengar Fei Chen mengatakan itu. Sebelum pemuda itu pergi, Ling Ye memberitahu Fei Chen mengenai apa yang terjadi di Kekaisaran Ma khususnya yang menimpa keluarga Liu.
Mendengar cerita Ling Ye membuat Fei Chen mengepalkan tangannya dengan erat.
“Kakak Shan sudah menyiapkan Elang Halilintar. Kau bisa menggunakannya Chen‘gege...” Ling Ye bertingkah manja dan mengantarkan kepergian Fei Chen.
Kepergian Fei Chen hanya dilihat oleh Ling Han, Ling Shan dan Ling Ye.
“Kakak Shan, Paman Han, Ye‘er, aku pergi...”
Fei Chen duduk diatas punggung Elang Halilintar sebelum Elang Halilintar terbang dengan kecepatan tinggi menuju keatas.
“Kakak Liu, tidak kusangka itu yang terjadi pada keluargamu...” Fei Chen menajamkan matanya sebelum kembali berkata, “Aku akan memberi hukuman pada mereka semua!”
“Siapa yang ingin kau hukum, suami manisku?”
Fei Chen hampir meloncat dari punggung Elang Halilintar saat berada diatas awan Su Xiulan sudah duduk didekatnya.
“Kau!” Fei Chen ingin mengumpat karena Su Xiulan selalu saja melakukan tindakan yang membuatnya waspada.
“Bukan kau tapi Su Xiulan, suami manisku. Panggil aku Xiu‘er...”
Su Xiulan mencubit gemas pipi Fei Chen lalu duduk dipangkuan pemuda itu dengan santainya.
“Siapa yang menyuruhmu duduk dipangkuanku?” Fei Chen sebal dengan tindakan Su Xiulan dan hanya bisa diam saat Su Xiulan sudah duduk dengan tenang dipangkuannya.
“Apa kau lupa sekarang aku adalah orang yang akan mengajarimu Qi? Jadi diam dan dengarkan penjelasanku... Lagipula bukankah ini saat yang tepat bagi kita untuk mengakrabkan diri...”
Su Xiulan menyandarkan badannya pada dada Fei Chen lalu kedua tangannya memegang tangan Fei Chen dan mengarahkannya untuk memeluk perutnya.
Su Xiulan tertawa cekikikan mendengar suara ludah Fei Chen. Sengaja dia menggoyangkan pinggulnya dan membuat deru nafas Fei Chen memburu.
“Dasar suami manisku yang nakal...”
“Aku juga pria normal... Berhenti melakukan tindakan bodoh...”
“Baiklah, sekarang katakan padaku mengenai tujuanmu.”
Su Xiulan tersenyum mengetahui ekspresi Fei Chen yang di matanya sangat menggemaskan untuk terus dia goda.
Fei Chen memberitahu semuanya kepada Su Xiulan karena Su Xiulan merupakan orang yang terkena kutukan sama seperti dirinya.
“Hidup kita benar-benar persis. Jadi bisa dikatakan aku adalah wanita pertamamu bukan? Apa yang sebenarnya para Dewa pikirkan, mereka memberikan kutukan konyol pada kita...” Su Xiulan tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Membalaskan dendam, menghentikan Sembilan Kekacauan Surgawi dan mencari Sembilan Pusaka Dewa serta menantang Dunia Atas...“ Su Xiulan tertawa cekikikan setelah mengatakan itu.
“Sayangku, kau sangat ambisius.”
“Berhenti bercandanya, aku serius dan aku mempercayaimu. Tidak peduli apa tujuanmu, sekali kau menjadi wanitaku, aku tidak mengizinkanmu melakukan hal bodoh tanpa sepengetahuanku.”
“Apa kau berpikir aku akan selingkuh?”
“Siapa yang tahu?”
Fei Chen menatap mata Su Xiulan saat kepala wanita itu mendongak keatas.
“Sekarang giliranmu. Aku sudah mengatakan semuanya dengan jujur, tetapi kau belum...”
Su Xiulan tersenyum hangat dan membaringkan tubuhnya lalu menidurkan kepalanya dipangkuan paha Fei Chen.
“Berhenti melakukan hal yang aneh.” Fei Chen heran dengan sikap usil Su Xiulan.
“Hihi... Aku mengerti...” Akhirnya Su Xiulan duduk disebelah Fei Chen bercerita tentang dirinya.
Keduanya sama-sama tersenyum kecut dan Elang Halilintar terus terbang meninggalkan Benua Sembilan Petir menuju Benua Tujuh Bintang.
***
ARC 4 - RUNTUHNYA AMBISI SANG PENGUASA END
Bonus Picture
[Qiu Nue, Umur 17 Tahun, Peramal Hitam] [Sumber : Pinterest]
[Zhou Yinru, Umur 40 Tahun] [Sumber : Pinterest]