Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 191 - Su Xiulan Ngidam


PPFC 191 - Su Xiulan Ngidam


Beberapa saat setelah dirinya keluar kamar, Fei Chen memberi isyarat pada Jia Li agar mengikutinya. Keduanya menuju kolam air panas dan kembali melakukan pergumulan hebat disana.


Setelah membuat Liu Xianlin lemas, Fei Chen kembali mengarungi tubuh indah Jia Li penuh gairah. ******* Jia Li terdengar, keduanya terbakar gairah dan terus memacu mengejar kenikmatan.


“Chenchen... Uuuuhh... Sssshhhh... Pelan-”


Fei Chen merasakan miliknya dicengkeram kuat oleh inti Jia Li. Fei Chen terus mempercepat temponya dan memperdalam hujamannya membuat Jia Li melenguh panjang.


“Jangan digigit akh! Geli... Sssshhhh.” Jia Li dibuat tidak berdaya atas perlakuan Fei Chen pada gunung kembarnya, “Aaahhhssss.”


Fei Chen terlihat sangat menikmati setiap keindahan tubuh Jia Li yang seindah giok ini. Gadis itu ikut menggoyangkan pinggulnya dan sesekali dia melakukan gerakan menekan, memutar dan itu membuat Fei Chen semakin gemas padanya.


“Lili, milikmu terlalu sempit ugh! Mendesahlah sayang dan sebut namaku!”


“Aaaah... Ah... Chenchen.”


Fei Chen menghujamkan tubuhnya lebih dalam dan tersenyum saat Jia Li memeluk tubuhnya begitu erat. Keduanya mengatur nafas menikmati pelepasan mereka. Terlihat nafas Jia Li terdengar berat dengan tubuh yang gemeteran.


“Istirahatlah Lili.”


“Emmm...”


“Chenchen, ular berkepala tumpul itu masih berdiri haaah... Haaah... Dasar tidak jujur. Kau masih ingin bukan?” Jia Li mendorong pelan tubuh Fei Chen membuat Fei Chen duduk di tepi kolam air panas dan dirinya langsung membenamkan kepalanya kesana.


“Lili... Sssshhh...” Kenikmatan yang Jia Li berikan membuat Fei Chen mendesis.


“Mmmmm... Emmmm...” Jia Li tersenyum manis dan itu membuat Fei Chen menekan kepalanya.


Mata Jia Lin mendelik sebelum akhirnya dia terbatuk-batuk dan tersedak. Segera dia memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya dan memukul perut Fei Chen.


“Emmm...” Jia Li cemberut dan membuat Fei Chen mengecup keningnya.


“Sini aku mandikan. Kau pandai memanjakan suamimu ini sayang.” Hanya mendengar ucapan ini seketika Jia Li rela Fei Chen melakukan apa saja pada tubuhnya.


Melihat Jia Li sudah lemas, Fei Chen memandikannya dan membawanya kedalam kamar lalu menidurkan gadis tersebut. Fei Chen sebenarnya masih ingin melanjutkan karena darah dalam tubuhnya sangat istimewa namun matahari sudah mulai menampakan sinarnya.


Walaupun Su Xiulan sudah berusaha semaksimal mungkin namun wanita ini mengakui keperkasaan Fei Chen. Dia tidak bisa menjadikan alasan dirinya yang sedang hamil tidak bisa membuatnya mengimbangi permintaan Fei Chen.


Begitu juga dengan Liu Xianlin dan Jia Li. Keduanya sudah berusaha semaksimal mungkin bahkan mencoba apa yang dilakukan oleh Su Xiulan, namun tetap saja Fei Chen masih perkasa dan tidak terkalahkan.


Saat pagi Fei Chen benar-benar kewalahan atas permintaan Su Xiulan yang memintanya mencarikan jambu biji dan mangga muda, selain itu wanita ini melarang Fei Chen menyuruh para pelayan ataupun dayang istana untuk membantunya.


Fei Chen memanjakan Su Xiulan selama seharian sebelum akhirnya Su Xiulan memberikan waktu kepada Fei Chen agar menjalankan tugasnya sebagai suami kepada istrinya yang lain.


“Aku akan fokus pada kandungan kita. Jadi kau harus bersabar Chen‘gege, jika kau tidak bisa menahannya kau bisa memintaku untuk menggigit milikmu itu hihi...” Su Xiulan tertawa jahil seraya mengelus perutnya. Fei Chen hanya tersenyum dan memeluk tubuh Su Xiulan dari belakang.


“Malam ini aku akan setara denganmu, sayang. Terimakasih Guru nakalku karena telah mengandung anakku...” Fei Chen berbisik mesra dan membuat Su Xiulan tersipu malu.


“Gu-Guru nakal?” Ekspresi lucu Su Xiulan membuat Fei Chen memeluknya erat penuh kelembutan.


Tak lama para pelayan datang ke ruangan singgasana itu. Mereka memberitahu Su Xiulan jika air bunga persik telah siap. Su Xiulan langsung bangkit dan memberikan kecupan pada pipi Fei Chen sebelum berjalan dituntun para pelayan istana.


‘Xiu‘er aku mengetahui dirimu tidak ingin terlibat dengan Lima Raja Iblis Agung dan itu alasan mengapa kau meninggalkan San Zhu...’ Fei Chen memijat keningnya karena Ling Ye memberikan dokumen mengenai sosok salah satu anggota inti yang dimiliki Lima Raja Iblis Agung memilki kemampuan Pendekar Dewa.


“Orang yang telah bertemu denganku hanyalah pionnya. Bahkan pionnya saja sudah meratakan beberapa kota dan membuat kekacauan. Aku ingin menikmati waktuku sebentar disini sebelum kembali berkelana...” Fei Chen mengusap wajahnya sebelum berjalan menuju ruangan atas Istana Ma.


Fei Chen sudah menyuruh Ning Guang, Yin Jinxia, Ling Ye dan Qiao Mi untuk bersiap melakukan ritual Teknik Dunia Jiwa Yin Yang. Sedangkan Liu Xianlin dan Jia Li memberikan waktu pada Fei Chen agar bisa memberikan perhatiannya pada empat istrinya yang lain.


Beruntung tujuh istri Fei Chen ini saling mengerti dan membuat kepenatan serta masalah yang menumpuk dipikirannya menghilang.


Kamar pertama yang dia datangi adalah milik Ning Guang. Banyak urusan pribadi mereka berdua yang belum tuntas dan malam ini dia akan menuntaskannya hingga Ning Guang lemas tidak berjalan dan tidur diranjang selama seharian penuh.


“Permaisuri...” Fei Chen mengetuk pintu dan tak lama pintu kamar itu terbuka memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang menggunakan pakaian tipis berwarna putih dan transparan.


Fei Chen menahan salivanya melihat keindahan tubuh Ning Guang yang berisi. Sulit dipercaya jika wanita paruh baya dihadapannya berumur empat puluh tahun dan masih perawan karena statusnya adalah janda walaupun dia seorang Permaisuri Kekaisaran Ma sekalipun.


“Aku sudah menunggumu, Chen‘er...”


Mendengar sambutan itu Fei Chen tersenyum dingin, “Chen‘er? Sepertinya aku harus mengajarimu cara memanggil suamimu dengan benar...” Fei Chen mendekati Ning Guang dan langsung menutup pintu kamar tersebut.