
PPFC 248 - Rumah Hiburan Temari
Didalam Rumah Hiburan Temari terlihat banyak samurai Organisasi Sakura Darah yang berjaga dan mendominasi bangunan tersebut walaupun didalam sana hanya ada Yoshimitsu dan Kurose yang mewakili Organisasi Sakura Darah.
Yoshimitsu dan Kurose nampak begitu menikmati pelayanan wanita penghibur disana. Keduanya bahkan memaksa beberapa pelayan sebelum akhirnya wanita dengan lekuk tubuh menggoda datang menghampiri tamu yang membuatnya jengah.
Mata Kurose menatap nanar wanita yang tidak lain adalah Ameko. Tubuh matang di usia empat puluh dua tahun membuat Kurose menelan ludah.
Kurose ingin menyergap Ameko namun dia mengetahui Ameko memiliki kemampuan bertarung yang sama dengan Yoshimitsu. Selain itu Kurose ingin mengumpulkan tenaganya setelah mendapatkan pelayanan dari wanita penghibur di Rumah Hiburan Temari.
“Jadi dimana wanita bernama Ichiba? Yoshimitsu, jangan bilang kau tidak menepati janjimu.” Kurose terlihat menatap dingin Yoshimitsu sebelum mengalihkan pandangannya menatap Ameko tidak berkedip.
Ameko yang mengetahui niat Kurose berdecak kesal dan membatin, ‘Dasar pria tua! Palingan setelah aku membuka kimonoku, dia akan langsung keluar! Mereka semua lemah! Tidak ada satupun pria yang dapat memuaskanku!’
Ameko menatap kesal Kurose lalu mengalihkan pandangannya pada Yoshimitsu.
“Nyonya Ameko, kita sudah membuat perjanjian bukan? Jika Nyonya Ichiba tidak kau dapatkan, maka dirimu akan menggantikan Nyonya Ichiba melayani Tetua Kurose. Tidak hanya Tetua Kurose tetapi aku juga.” Yoshimitsu tersenyum mengejek.
“Jangan lupa kau masih hidup sampai sekarang karena bantuan ku. Seperti biasa, kau cukup melayani ku Ameko.” Yoshimitsu mendekati Ameko.
Nampak Ameko langsung duduk didepan Kurose dan menaikan salah satu kakinya, hingga terlihat kaki kanannya menimpa kaki kirinya.
Paha putih mulus Ameko membuat Kurose kembali berdiri begitu juga dengan Yoshimitsu. Ameko sudah terbiasa melayani Yoshimitsu selama ini dan para petinggi Organisasi Sakura Darah serta petinggi Gagak Hitam, namun mereka semua tidak dapat memuaskan Ameko.
Tubuh Ameko terbilang spesial karena Ameko memiliki Tubuh Dewi Hujan. Saat Yoshimitsu dan Kurose mendekati Ameko, beberapa samurai Organisasi Sakura Darah datang menyeret seorang gadis berumur dua puluh tahun.
“Ampun! Jangan bawa aku! Hiks!” Gadis itu menangis dan memohon namun dua samurai yang mengangkat tubuhnya justru membantingnya ke lantai dengan kasar.
Yoshimitsu tersenyum lebar. Setelah mengetahui bahwa Ameko tidak mengenal Ichiba ataupun mengetahui keberadaan Ichiba, tidak sengaja Yoshimitsu melihat gadis tersebut yang sedang berjalan ditengah kota.
Yoshimitsu menyuruh anggota Organisasi Sakura Darah menangkap gadis itu dan membawanya ke Rumah Hiburan Temari untuk dia persembahkan pada Kurose.
“Diam! Jangan memberontak! Inilah akibat kau memberontak!” Samurai yang membawa tubuh gadis itu membentak.
“Hiks... Hiks... Hiks..” Gadis itu hanya bisa menangis dan ketakutan. Tubuhnya terasa sakit karena dibawa secara paksa oleh para samurai itu.
“Berhenti menangis! Lebih baik kau bersiap melayani Tetua Kurose!” Bentak samurai yang lainnya.
Segera Yoshimitsu memberi tanda pada samurai yang membawa tubuh gadis itu untuk pergi.
“Kalian telah melakukan tugas dengan baik. Sekarang kembalilah dan berjaga didepan.” Yoshimitsu sendiri tidak ingin Ameko jatuh ke tangan Kurose sehingga dia menawarkan gadis ini pada Kurose.
Kebuasan Kurose tidak berhenti pada satu wanita saja. Mengetahui Yoshimitsu memberikan gadis itu padanya, Kurose ingin menikmatinya bersama Ameko.
Sebenarnya Ameko ingin menyelamatkan gadis itu. Dia mengenal sosok sang gadis karena merupakan anak dari wanita kenalannya.
’Kenapa Hinatsuru berkeliaran? Apa yang sedang kau lakukan Emi? Tidak ada pilihan lain, aku harus menyelamatkan Hinatsuru.’ Ameko berniat memberikan pelayanan terbaik pada Kurose dan Yoshimitsu demi sang gadis.
Setelah mengetahui bahwa Ameko ada diruangan yang sama dengannya, gadis bernama Hinatsuru itu hendak meminta pertolongan namun Ameko mendelik tajam padanya.
‘Bibi Ameko! Tolong aku!’ Hinatsuru membatin sambil menggelengkan kepalanya dan menangis.
Ameko menghela nafas panjang lalu berjalan mendekati Kurose dan Yoshimitsu.
“Tuan Kurose, bagaimana jika kita ke ranjang hangat kita.” Suara menggoda manja Ameko membuat Kurose beralih menatap tubuh matang menggoda sang pemilik Rumah Hiburan Temari.
Yoshimitsu melebar matanya merasakan kecemburuan yang luar biasa. Selama ini Yoshimitsu mengira hanya dirinya yang menikmati keindahan dunia bersama Ameko, namun tanpa sepengetahuan Yoshimitsu, Ameko hidup penuh ancaman sehingga dia terpaksa melakukan hubungan badan dengan para petinggi Gagak Hitam dan Organisasi Sakura Darah.
Kurose yang sudah dikuasai birahi langsung memeluk tubuh Ameko. Sontak saja Ameko terkejut dan merasa jijik karena tubuh indahnya diraba Kurose, namun Ameko yang pandai berakting langsung menuntun Kurose menuju kamar.
Yoshimitsu yang gelap mata menarik tangan Hinatsuru dan ikut menuju kamar yang digunakan Ameko dan Kurose bergelut.
Berbeda dengan Ameko dan Kurose, Yoshimitsu mematung merasa kecewa karena melihat Ameko melayani Kurose. Sedangkan Hinatsuru berniat melarikan diri namun ditahan oleh Yoshimitsu.
‘Sial! Sial! Sial! Aku akan melampiaskannya pada gadis ini!’ Yoshimitsu memeluk tubuh Hinatsuru selama beberapa detik dan hendak melancarkan aksinya, namun pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Hadetaka yang tengah bersiul.
“Hadetaka!” Yoshimitsu terkejut.
Sedangkan Hadetaka menghela nafas ringan saat melihat Ameko yang bertenaga sedangkan Kurose yang terlihat loyo.
“Ada apa kau kemari Hadetaka?” Yoshimitsu bertanya.
“Sebaiknya kita bicara diruangan atas. Tetua Kurose, anda juga ikut. Aku menemukan lokasi Ichiba dan Onigari.” Hadetaka berkata dengan nada memerintah dan membuat Kurose tidak menyukainya.
Namun karena mendengar nama Ichiba, Kurose jadi tidak marah dan menahan luapan emosinya. Kurose mencoba bangkit berdiri dan tersenyum menatap Ameko yang menyelimuti tubuh indahnya.
“Tuan Kurose, anda mau kemana?” Ameko bertanya.
Ameko pura-pura tersipu malu dan lemas. Hal ini membuat kepercayaan diri Kurose semakin jad. Kurose dengan bangga berkata bahwa dia akan menemui Ichiba dan meminta wanita itu melayaninya.
Ameko yang mendengar itu cemberut, “Padahal sudah denganku. Apa tidak lelah Tuan Kurose?”
Padahal Ameko sendiri sama sekali tidak bergairah apalagi kelelahan melayani Kurose. Namun aktingnya sempurna dan membuat Kurose percaya.
“Kau terbaik Ameko. Aku tidak akan bosan untuk mendapatkan pelayananmu. Tenang saja, aku bisa membagi waktu untuk melayanimu dan wanitaku yang lain.” Dengan bangga Kurose berkata demikian dan itu membuat Ameko meludah tanpa sadar.
“Cuih!”
Sontak saja hal ini membuat Kurose dan Yoshimitsu menatap wanita itu tajam, sedangkan Hadetaka menahan tawa.
“Kenapa kau membuang ludah Ameko?” Kurose bertanya.
“Kau terlihat kesal Ameko...” Yoshimitsu merasa aneh karena sekilas melihat ekspresi kesal Ameko yang tidak pernah lihat.
‘Ekspresi barusan seolah-olah dia tidak puas... Apa aku yang salah melihat karena terlalu cemburu pada Tetua Kurose...’ Yoshimitsu membatin dipenuhi pertanyaan.
Ameko mengumpat dalam hati karena tidak dapat menahan untuk meludah setelah mendengarkan perkataan Kurose yang dengan bangganya meninggikan dirinya sendiri.
“Aku merasa mual, makanya membuang ludah.” Ameko tersenyum semanis mungkin dan membuat kedua pria itu percaya.
“Aku pikir kau cemburu hahaha...” Kurose tertawa dan berjalan tanpa sehelai benang menuju Hadetaka.
“Baiklah, saatnya mendapatkan pelayanan hebat dari wanita bernama Ichiba.” Kurose berkata penuh percaya diri dan tenggelam dalam kenikmatannya sendiri.
Yoshimitsu langsung mengikuti Kurose meninggalkan Hinatsuru yang gagal dia sentuh.
Setelah kepergian mereka, Ameko kembali pada jati dirinya dan langsung menghampiri Hinatsuru.
“Hinatsuru, sebaiknya kau bersamaku terlebih dahulu sampai mereka pergi.” Ameko berkata sambil mengelus kepala Hinatsuru.
“Hiks... Hiks... Tetapi aku membuat Bibi Ameko menjadi wanita kotor karena mencoba menyelamatkanku.” Hinatsuru menangis dan merasa bersalah.
Ameko tersenyum kecut, “Aku sudah kotor Hinatsuru. Tidak perlu menyalahkan dirimu. Lagipula milik pria tua itu sepele dan dia lemah.”
Ameko menunjukan jari kelingkingnya dan tertawa kecil, “Semua pria sama saja!”
Lalu Ameko berjalan menuju sebuah ruangan yang dipesan oleh seseorang. Ameko mengetahui dari Hadetaka jika orang yang memesan ruangan itu adalah sosok Onigari dan berharap bisa mendapatkan pelayanan dari pemilik Rumah Hiburan Temari.
Sebelum memasuki ruangan khusus yang biasa digunakan untuk dirinya melayani para petinggi Gagak Hitam, Ameko mengantar Hinatsuru menuju kamarnya.
“Bibi...” Hinatsuru nampak ketakutan.
Namun Ameko dapat menenangkan Hinatsuru yang ketakutan.
“Hinatsuru, tenang saja. Bibi tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu.” Ameko tersenyum hangat sebelum pergi meninggalkan Hinatsuru didalam kamarnya.
Sedangkan Hadetaka yang mengantar Kurose dan Yoshimitsu dikejutkan dengan sosok seekor Naga kecil yang terbang.
“Apa-apaan ini?! Apa kau mencoba menipuku Hadetaka?! Dimana Ichiba?! Kenapa disana ada Naga... Naga? Tidak itu ular kecil!” Kurose nampak emosi karena mengira Hadetaka mengerjainya.
Hadetaka sendiri sangat yakin Fei Chen ada di ruangan ini.
“Mari masuk.” Setelah Hadetaka berkata demikian, mereka terjebak dalam sebuah ilusi.
‘Tugasku selesai. Tuanku, kau sepertinya kau akan menikmati penderitaan mereka.’ Naga kecil itu membatin.
Naga kecil yang tidak lain adalah Yulong langsung membekukan tubuh mereka bertiga. Tanpa perlu mengotori tangannya sendiri Fei Chen memerintahkan Yulong sang Naga Giok untuk membunuh mereka bertiga.
Sementara Fei Chen yang menyembunyikan hawa keberadaannya didalam ruangan itu, Hadetaka, Yoshimitsu dan Kurose tidak menyadari apapun yang telah terjadi pada tubuh mereka, ketiganya mati dalam keadaan tubuh membeku yang hancur berkeping-keping.
Mengetahui hawa keberadaan Hadetaka, Yoshimitsu dan Kurose yang lenyap, Fei Chen tersenyum dan melepaskan topengnya. Sama halnya dengan Hadetaka yang tidak menyadari Fei Chen akan membunuhnya, Fei Chen juga tidak menyadari bahwa Hadetaka berniat membuatnya percaya padanya.
Dengan menyuruh Ameko secara diam-diam untuk melayani Onigari, Hadetaka berharap hal ini bisa membuat Fei Chen semakin terbuka padanya. Namun semua itu terlambat karena sekarang Hadetaka sudah mati, sedangkan Fei Chen akan mendapatkan pelayanan yang Hadetaka berikan untuknya.
‘Tuanku, aku pamit undur diri.’ Yulong ingin segera kembali karena berniat menempa kekuatannya ke tingkat tertinggi untuk membantu Fei Chen.
“Pergilah Yulong. Aku mengerti apa yang kamu pikirkan. Aku senang karena kau ingin membantuku, aku menantikan pencapaianmu,” ujar Fei Chen yang mana itu membuat Yulong semakin bersemangat.
“Terimakasih, Tuanku. Aku tidak akan mengecewakan harapanmu. Walaupun kau lebih memanggil Deshe dan Fengxue, aku juga turut bahagia karena akhirnya dapat mengubah wujud menjadi kecil sama halnya seperti yang dilakukan Deshe.” Yulong nampak begitu gembira sebelum akhirnya tubuhnya menghilang.
Fei Chen menghela nafas melihat Yulong telah menghilang, “Naga juga bisa cemburu. Memang aku lebih banyak bergantung pada Deshe dan Fengxue, tetapi bukan berarti aku mengabaikan dirimu Yulong.”
“Kemampuanmu sangat berbeda dari mereka berdua. Aku sangat yakin aku akan sangat membutuhkanmu di pertempuran nanti.” Fei Chen berkata sambil membakar es yang membekukan tubuh Kurose, Yoshimitsu dan Hadetaka.
Saat Fei Chen selesai menghilangkan jejak kematian Kurose, Yoshimitsu dan Hadetaka, dia dikejutkan dengan suara ketukan pintu ruangan.
“Bolah aku masuk?”
Fei Chen segera menoleh saat mendengar suara wanita. Pandangan Fei Chen tenang berbeda dengan wanita berumur dua puluh tahun yang memiliki lekuk tubuh menggoda terkejut saat melihat paras Fei Chen.
“Oni... Onigari? Apa benar anda Tuan Onigari?” Wanita yang tidak lain adalah Ameko bertanya.
Fei Chen mengerutkan keningnya karena Ameki mengetahui identitasnya.
“Bagaimana bisa kau tahu jika diriku ini adalah Onigari?” Fei Chen ingin memastikan apakah ada yang berkhianat kembali padanya.
“Tuan Hadetaka mengatakan padaku bahwa Tuan Onigari berada diruangan ini. Dia ingin aku melayanimu, Tuan Onigari.” Ameko tidak keberatan jika harus melayani pria setampan Fei Chen.
“Oh...” Fei Chen tidak menyangka Hadetaka akan melakukan ini pada dirinya.
Tanpa menunggu jawaban darinya, Fei Chen melihat Ameko menutup rapat-rapat ruangannya.
“Aku mandi dulu Tuan.” Ameko masuk kedalam kamar mandi karena ingin bersih dan wangi saat melayani Fei Chen.
“Sekarang tinggal menemui Takamura.” Fei Chen pergi meninggalkan ruangan kamar dan bergegas keluar.
Diluar Fei Chen dihadang ratusan samurai Organisasi Sakura Darah karena memakai topeng dengan Iblis yang tersenyum menyeringai.
“Onigari! Apa yang kau lakukan ditempat ini?!” Salah satu samurai langsung menarik katana dan menatap dingin Fei Chen.
“Apa yang ingin aku lakukan? Tentu saja membunuh dua orang yang ada didalam dan tergila-gila pada wanita.” Setelah mengatakan itu Fei Chen melihat kemarahan anggota Organisasi Sakura Darah yang tersisa.
“Kalian telah menyiapkan makam untuk kalian sendiri.” Fei Chen menarik Pedang Sembilan Petir dan menyambut serangan yang dilepaskan para samurai.