Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 93 - She Peng


PPFC 93 - She Peng


OPENING ARC 4 - RUNTUHNYA AMBISI SANG PENGUASA


Fei Chen terbang dengan kecepatan tinggi dan berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh saat malam hari. Tidak banyak halangan yang berarti dalam perjalanan menuju Kekaisaran Jia.


“Seharusnya sudah dekat. Sepertinya tindakanku ini sangat efektif karena mereka tidak mengirim pasukan ke Kekaisaran Chu lagi...”


Fei Chen sudah menghabisi setiap pasukan militer Kekaisaran Jia yang menuju Kekaisaran Chu. Kemampuan pasukan itu masih jauh dibawahnya dan Fei Chen dapat mengatasi mereka dengan mudah.


Seperti biasa Fei Chen selalu mengorek informasi dari pasukan militer yang akan dia bunuh.


Sekitar 20 tahun yang lalu Kekaisaran Jia mengalami pergejolakan hebat. Kaisar Jia yang bernama Jia Song dibunuh secara tragis termasuk anggota keluarga Jia. Istri Jia Song yakni Jia Minyue dikabarkan melarikan diri, sedangkan adik angkat Jia Minyue yang bernama Jia Minji diangkat sebagai permaisuri Kaisar Jia sekarang.


Setelah mengetahui kebenaran ini dari salah satu prajurit, Fei Chen berulang kali mengerutkan keningnya dan dia semakin yakin jika Jia Li memiliki hubungan erat dengan Jia Song dan Jia Minyue.


“Sepertinya padang rumput disana adalah perbatasan Kekaisaran...”


Tanpa Fei Chen ketahui sesuatu telah terjadi pada Jia Li dan Hong Zi Ran. Fei Chen bergegas menuju Kekaisaran Jia melewati padang rumput yang membentang luas.


Dalam perjalanan Fei Chen sesekali beristirahat untuk mengisi perutnya lalu mengolah pernafasan. Seperti biasa Fei Chen selalu giat melatih pernafasan.


Mengingat jarak Kekaisaran Chu dan Kekaisaran Jia amatlah jauh, Fei Chen menggunakan segenap kemampuannya untuk terbang dengan kecepatan tinggi ataupun berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh.


Hingga akhirnya Fei Chen sampai di sebuah diujung perbatasan. Pepohonan tinggi menjulang dan terlihat jelas ada sebuah jalan yang langsung menuju ke beberapa kota di Kekaisaran Jia.


Fei Chen menyipitkan matanya saat melihat bayangan sejumlah orang. Dia berinisiatif untuk mendekat dan melihat jelas apa yang terjadi dibawah sana.


Terlihat dua pria menyerang pemuda yang terlihat telah babak belur tanpa belas kasih. Fei Chen tidak menunjukkan ekspresi untuk membantu. Bagaimanapun dia juga sudah berulang kali membunuh orang tanpa belas kasih dan sadis.


“Gunung Cakrawala Hitam telah berakhir! Era kalian telah musnah! Terlebih saat sampai sepertimu memimpin sekte itu!” Kini pria lainnya ikut menyerang menggunakan goloknya yang berwarna biru.


“Ingin menyelamatkan Ibumu? Dia sudah menjadi mainan kami, She Peng!” Pria yang menggunakan golok berwarna biru menambahkan.


Pemuda bernama She Peng berteriak, “Kalian benar-benar telah melewati batas! Bukankah kalian dari aliran putih?! Keparat, aku akan membunuh kalian semua!”


Senyuman tipis menghiasi wajah Fei Chen. Kurang lebih dia mengerti garis besarnya dan turun dengan kecepatan tinggi menuju lokasi pertarungan sambil mengolah pernafasan.


Saat kedua golok itu hendak menebas kepala She Peng, Fei Chen sudah berdiri dihadapan mereka semua.


TRANG!!!


Kedua golok itu patah menjadi dua bagian saat menyentuh leher Fei Chen. Semua orang yang melihat itu terkejut karena kehadiran Fei Chen yang secara tiba-tiba terlebih kedua golok pria itu tidak mempan menebas lehernya.


“Bagaimanapun mungkin?! Kami berdua adalah Golok Kembar!”


Fei Chen menatap dingin kedua pria itu sambil melepaskan Aura Raja Naga, “Golok Kembar? Aku tidak mengenal nama itu. Jadi kalian semua ingin mati dengan cara apa?”


“Siapa kau?! Untuk apa kau menolong pendekar dari aliran hitam seperti dia?!”


She Peng menatap Fei Chen yang telah menyelamatkan hidupnya, ‘Siapa dia? Aku tidak mengenalnya sama sekali.’


“Aku? Kalian bisa beranggapan aku adalah temannya. Sudah seharusnya seorang teman harus saling menolong bukan?” Dengan ekspresi kosong itu Fei Chen mengatakan hal tersebut dan membuat Golok Kembar menyerangnya.


“Berhenti mengatakan hal keren dengan tampan santaimu itu sialan!”


“Aku akan membuat wajahmu dipenuhi luka!”