
PPFC 210 - Keheningan Malam
Dalam kamar sederhana namun terlihat begitu nyaman terlihat Murong Liuyu sedang duduk di kursi dan menghadap kearah jendela.
Gadis itu terlihat cantik dan anggun dengan balutan gaun. Kecantikan Murong Liuyu tetap terlihat walaupun tubuhnya melemah ataupun wajahnya memucat.
“Bocah tengik itu sudah berubah. Hanya karena dia menjadi seorang Kaisar Ma, dia menjadi arogan dan aku hanyalah korban,” ucap Murong Liuyu yang merasa gelisah karena mulutnya menolak namun perasaannya tidak berbohong.
“Senior Murong, apa kau sedang membicarakan diriku ini.” Fei Chen membuka pintu dan langsung menghampiri gadis tersebut.
Murong Liuyu mencibir kesal, “Siapa lagi jika bukan dirimu. Jadi setelah menjadi Kaisar Ma dan Patriark Istana Naga Neraka Terdalam, kau bisa seenaknya mengajak wanita tidur di ranjangmu?!”
“Tidak. Kau selalu berprasangka buruk padaku.” Fei Chen menanggapi sambil tersenyum kecut.
“Sangat tidak meyakinkan ucapan dari pria yang memiliki tujuh istri!”
“Aku hanya bersikap seperti ini dihadapan orang yang mendapatkan kepercayaan hatiku.”
“Eh?” Murong Liuyu hendak mengatakan sesuatu namun seketika dia terdiam saat melihat pipi Fei Chen berdemu merah.
‘Eh tunggu sebentar. Aku tidak salah lihat bukan?’ Jantung Murong Liuyu berdegup kencang karena ekspresi Fei Chen sangat menggemaskan.
‘Seingatku dia tidak pernah memasang ekspresi seperti ini...’ Murong Liuyu kembali teringat akan ucapan Fei Chen barusan.
“Kau memiliki perasaan padaku?!” pekik Murong Liuyu karena terkejut.
“Suaramu terlalu keras, Senior Murong!” Fei Chen mendecakkan lidahnya dan menggaruk kepalanya.
“Hah? Tidak bisa dipercaya!” Murong Liuyu hendak berdiri namun tubuhnya lunglai. Fei Chen menahannya dan membawanya ke ranjang.
“Sudah berapa wanita yang mendengar rayuan darimu?” Murong Liuyu menatap tajam Fei Chen yang duduk di samping dirinya.
“Aku pernah mendengar ini sebelumnya...”
Murong Liuyu yang berbaring menatap Fei Chen yang jelas tidak berbohong. Dirinya ingin mengatakan terimakasih pada pemuda itu, namun mengingat sifat Fei Chen yang menjengkelkan membuat gadis itu semakin angkuh.
Seketika suasana dikamar itu menjadi hening. Fei Chen atau Murong Liuyu tidak berbicara sepatah kata pun, keduanya membisu dengan pikiran yang terbang jauh ke masa lalu.
Dalam keheningan itu suara tawa Murong Liuyu memecahkan segala keheningan.
“Aku masih ingat jelas bagaimana dirimu yang terlalu naif dan sangat tengil untuk seukuran seorang bocah.” Sengaja Murong Liuyu mengejek.
“Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mengingat itu sangat memalukan.” Fei Chen mengatakan itu lalu mendecakkan lidahnya mengingat betapa naif dirnya dimasa lalu dan sangat percaya diri dengan sifat arogannya.
Keduanya tertawa kecil mengingat pertemuan pertama mereka. Benih cinta dihati Murong Liuyu terus bertambah begitu juga dengan Fei Chen.
Saat mereka berdua kembali terdiam, Murong Liuyu merasakan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya dan tak lama jantungnya terasa akan dihancurkan oleh remasan tangan.
“Junior Fei... Jangan sentuh tubuhku. Aku ingin mati dalam keadaan suci.” Murong Liuyu memejamkan matanya dan menahan rasa sakit dengen menggigit bibir bawahnya.
Saat pandangan matanya semakin buram, Murong Liuyu merasakan ada kelembutan dibibirnya. Matanya melebar saat mengetahui Fei Chen mengecup bibirnya lembut dan menindih tubuhnya penuh kasih sayang.
“Aku akan bertanggung jawab...” Hanya itu kata yang keluar dari Fei Chen sebelum membimbing dirinya menuju sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
‘Emmmm...’ Murong Liuyu hanya bisa pasrah saat Fei Chen mulai menjamah tubuhnya.
Sama sekali tidak ada tenaga ataupun perlawanan berarti dari Murong Liuyu. Kelembutan dan tatapan teduh Fei Chen membuat Murong Liuyu semakin hanyut saat pemuda itu terus menyusuri lekuk tubuhnya yang terjaga dan masih suci ini.
“Teknik Dunia Jiwa Yin Yang...”
Murong Liuyu membuka matanya sayu dan alangkah terkejutnya saat mengetahui tubuh Fei Chen tanpa sehelai pakaian. Wajah Murong Liuyu menegang dan khawatir saat Fei Chen menindih tubuhnya dan mengusap wajahnya.
“Aku mencintaimu, Yu‘er...”
Di keheningan malam itu suara tangisan dan pekikan seorang gadis terdengar sebelum suara itu berubah menjadi erangan yang menawan.
Murong Liuyu hanya pasrah saat mengetahui dirinya tidak lagi perawan. Pemuda yang mengukung tubuhnya menyerap seluruh racun didalam tubuhnya bersamaan dengan pelepasan indah yang dia rasakan.