Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 266 - Dibalik Ruangan


PPFC 266 - Dibalik Ruangan


“Chen‘er, terimakasih karena telah menyelamatkan Ho‘er...” Ji Xiuha menatap lembut Fei Chen yang duduk di sampingnya.


Pemuda itu tersenyum tipis sebelum menjawab, “Sudah menjadi tanggung jawabku Bibi Ji.”


“Maksudmu?” Ji Xiuha menaikan alisnya atas ucapan Fei Chen tersebut. Fei Chen tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan.


“Bibi Ji, kau tidak perlu terlalu memikirkannya.”


Ji Xiuha menggelengkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya pada Fei Chen.


“Tentu aku memikirkannya. Chen‘er, dimalam itu kita telah melewati batas. Walaupun aku seorang janda yang memiliki satu anak, aku juga seorang wanita. Aku tidak memungkiri jika itu juga adalah kesalahanku, tetapi jika kau menyuruhku untuk melupakannya maka aku akan melupakan semuanya.” Ji Xiuha memalingkan wajahnya setelah mengatakan hal itu.


Fei Chen tersenyum dan memegang tangan Ji Xiuha lembut, “Aku juga tidak bisa melupakan malam itu, Bibi Ji. Sebagai seorang pria aku akan bertanggung jawab. Asal kau tahu, sejak malam itu diriku memandang dirimu sebagai seorang wanita.”


Wajah Ji Xiuha memerah mendengar ucapan Fei Chen. Wanita paruh baya itu berusaha menyembunyikan wajahnya namun telapak tangan Fei Chen menangkap lembut dan mengusapnya.


“Jangan... Chen‘er...” lirih Ji Xiuha dan segera berdiri.


“Kita kekamarku. Bawalah Ho‘er,” ucap Ji Xiuha.


Ji Xiuha berjalan meninggalkan Fei Chen yang duduk tersenyum menatapnya ditaman. Wanita paruh baya sempat berhenti seolah memberinya tanda sesuatu sebelum kembali berjalan.


Hanya dengan tatapan Ji Xiuha, Fei Chen mengerti dan langsung berjalan pelan menuju kamar yang disiapkan untuk Ji Xiuha.


Fei Chen menaruh tubuh Ji Ho diatas ranjang lalu menatap Ibunya. Dengan tatapan teduh Fei Chen mendekat dan berbisik lembut.


“Bibi Ji, apa tidak apa malam-malam kau menyuruhku masuk kedalam kamarmu?” tanya Fei Chen.


Wajah Ji Xiuha semakin memerah saat Fei Chen menggodanya.


“Chen‘er, apa kau serius tentang ucapanmu itu? Jawab dengan jujur!” Tiba-tiba Ji Xiuha mengeraskan suaranya karena terlalu gugup.


Fei Chen memberi isyarat agar jangan berteriak pada wanita paruh baya tersebut.


“Bibi Ji jangan berisik...”


“Fei Chen, sekarang kita membicarakan hubungan serius. Tatap mataku.”


Ji Xiuha dengan berani menatap dalam Fei Chen. Wanita paruh baya itu membutuhkan kepastian dari pemuda dihadapannya.


Fei Chen menghela nafas panjang dan menatap Ji Xiuha lebih dalam.


“Baiklah, aku tidak menyangkal jika diriku menyukaimu Ji Xiuha. Aku tidak peduli dengan statusmu. Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu dan Ho‘er, jadi sekarang apa kau puas?”


Ji Xiuha melebar matanya mendengar jawaban Fei Chen. Mulutnya terbuka tak bersuara dan sedetik kemudian Fei Chen mengecupnya.


“Mmmmssss... Chen‘er...” Ji Xiuha terkejut namun akhirnya dia memejamkan mata saat melihat tatapan teduh Fei Chen.


Ji Xiuha membiarkan Fei Chen memperdalam kecupannya. Namun dengan cepat dia tersadar bahwa mereka berdua berada didalam kamar yang masih ada Ji Ho.


“Chen‘er, jangan disini...” ucap Ji Xiuha menenangkan Fei Chen.


“Bibi Ji...” Fei Chen tersenyum melihat ekspresi Ji Xiuha tersipu malu. Mengira Ji Xiuha akan menolak, namun wanita paruh baya itu justru menerima ramah dirinya.


Fei Chen membisikkan sesuatu pada Ji Xiuha dan keduanya berjalan menuju sebuah ruangan sempit yang satu ruangan dengan kamar Ji Xiuha. Didalam sana Fei Chen memeluk tubuh Ji Xiuha dan kembali menempelkan bibirnya pada bibir indah Ji Xiuha.


Keduanya memejamkan mata menikmati sensasi indah yang baru saja keduanya ungkapkan. Tubuh Ji Xiuha terhimpit ke dinding saat Fei Chen meraba badannya dan memperdalam ciumannya.


Nampak Ji Xiuha terkejut dan panik namun dominasi Fei Chen membuat perlawanannya melemah. Berulang kali Ji Xiuha mengingatkan Fei Chen tentang keberadaan Ji Ho saat pemuda itu terus memburu mulut dan menggerayangi tubuhnya.


Detak jantung Ji Xiuha berdebar saat genggaman tangan Fei Chen dibukit kembarnya. Wanita paruh baya itu memberanikan diri membalas lebih dalam ciuman Fei Chen hingga kedua mata mereka saling memandang penuh kasih sayang sebelum pagutan terlepas.


“Aaaahhh...” Nafas Ji Xiuha tidak beraturan dan merasa begitu malu karena menikmati perlakuan Fei Chen.


Ji Xiuha berulang kali memejamkan mata untuk menenangkan dirinya dan tak lama dia merasakan sentuhan jari telunjuk Fei Chen dibibirnya. Pemuda itu tersenyum hangat padanya lalu memeluk tubuhnya erat.


Fei Chen tidak mengatakan apapun, namun perlakuan hangat ini bagi Ji Xiuha adalah kebutuhan yang selama ini dia cari. Kehangatan Fei Chen dan rasa sayang pemuda itu membuat Ji Xiuha meraba dada Fei Chen lembut.


“Chen‘er...” Ji Xiuha mengambil inisiatif untuk berjinjit dan mengecup bibir Fei Chen.


Mendapatkan tawaran dari Ji Xiuha membuat Fei Chen memejamkan matanya dan menerima. Tangannya memegang pinggang Ji Xiuha dan mulai mengelusnya.


Erangan panas Ji Xiuha mulai terdengar saat ciuman Fei Chen menjadi agresif dan membuat lawannya kesulitan bernafas. Fei Chen tidak berhenti justru terus meraba tubuh Ji Xiuha.


Sentuhan dibadan dan dadanya membuat tubuh Ji Xiuha menggeliat. Gaun yang dikenakannya sudah acak-acakan tidak karuan. Fei Chen dengan mahir mengangkat pakaian atas Ji Xiuha dan memperlihatkan dua gundukan yang langsung menyembul didepan wajahnya.


Wajah Ji Xiuha merah padam saat melihat kedua asetnya menggantung dihadapan mata Fei Chen. Tangannya berusaha menutupi namun Fei Chen menahannya.


“Chen‘er... Mmmm...” Ji Xiuha menggelengkan kepalanya, “Ini memalukan...”


Tentu saja Ji Xiuha merasa malu karena ujung gundukan kenyalnya mengeras dihadapan Fei Chen. Pemuda itu justru tersenyum dan langsung memburu lehernya memberikan tanda kepemilikan disana.


“Sangat indah sayang. Kau adalah wanitaku, biarkan aku menjamah nya...” Hembusan nafas Fei Chen di lehernya membuat Ji Xiuha memejamkan mata.


Ji Xiuha merasa sangat geli saat telinga dan lehernya digigit Fei Chen, terlebih jari Fei Chen memainkan ujung gundukan kenyalnya dengan sangat mahir. Tanpa sadar mulut Ji Xiuha terbuka lebar dan tak bersuara menikmati pelepasannya.


Fei Chen tersenyum dan membiarkan tubuh Ji Xiuha ambruk terduduk di lantai. Dengan santai dirinya melepaskan seluruh pakaiannya hingga sebuah keperkasaan berdiri didepan wajah Ji Xiuha yang sedang terengah-engah.


“Chen‘er?” Nampak Ji Xiuha kebingungan namun kedua bola matanya menatap kagum keperkasaan dan kegagahan Fei Chen.


“Bibi Ji...” Fei Chen mengelus kepala Ji Xiuha dan mendekatkan wajah keibuan itu menuju intinya.


Langsung Ji Xiuha memalingkan wajah dan menahan badan Fei Chen dengan kedua tangannya yang lemas.


“Chen‘er... Aku tidak pernah...”


Fei Chen menunduk dan melepaskan seluruh pakaian Ji Xiuha lalu dengan cepat dia memasukkan satu jarinya menuju lembah sempit milik Ji Xiuha.


“Ooohhh! Chen‘er!”


Fei Chen terus mengobrak-abrik pertahanan Ji Xiuha dengan mulut yang terus menikmati kemulusan leher Ji Xiuha.


“Bibi Ji... Keluarkan sayang...” lirih Fei Chen sambil menggigit telinga Ji Xiuha.


Ji Xiuha menggelengkan kepalanya dan memegang erat kedua tangan Fei Chen sebelum menjerit pelan. Fei Chen tersenyum dan kembali membisikkan sesuatu ditelinga Ji Xiuha.


Ji Xiuha menggelengkan kepalanya karena merasa aneh dan ragu. Namun Fei Chen terus membujuknya hingga akhirnya sekarang dirinya duduk bersimpuh dihadapan Fei Chen yang berdiri dengan gagah.


Dengan penuh keraguan Ji Xiuha menggenggam inti Fei Chen yang mengeras. Wajahnya sudah merah padam saat telapak tangan Fei Chen membelai rambutnya seolah-olah menyuruhnya untuk memanjakan keperkasaannya.


‘Sangat keras dan besar... Bahkan berurat...’ Ji Xiuha menelan ludah dan tanpa sadar menggerakkan tangannya maju mundur.


Fei Chen yang melihat hal ini memajukan tubuhnya hingga ujung intinya menampar lembut pipi Ji Xiuha.


“Chen‘er... Ini... Ini sangat memalukan...”


Fei Chen tidak menjawab melainkan tersenyum pada Ji Xiuha dan membuat wanita paruh baya itu menelan ludah. Mulut Ji Xiuha terbuka dan mencoba menelan sesuatu yang lebih besar dari mulutnya.


Fei Chen tidak agresif dan membiarkan Ji Xiuha berusaha karena kenikmatan yang dia dapatkan melebihi perkiraannya.


“Tunggu sebentar Bibi Ji...” Fei Chen menahan Ji Xiuha dan mengangkat kaki kirinya sambil memposisikan miliknya melakukan penyatuan.


“Akh! Chen‘er?! Tunggu... Tunggu kenapa kakiku diangkat?! ” Ji Xiuha memprotes.


Fei Chen tersenyum dan mengecup singkat bibir Ji Xiuha sambil menggesekkan milik mereka.


“Nikmati saja sayang...”


“Tetapi Ho‘er...”


Berbeda dengan Fei Chen yang sudah ingin mengarungi tubuh Ji Xiuha sekarang, Ji Xiuha mengingatkan akan kegiatan yang akan mereka lakukan.


“Tenang saja Bibi Ji...” Fei Chen membungkam mulut Ji Xiuha dan melakukan penyatuan.


“Uhmmm... Akh!” Mata Ji Xiuha terbuka lebar saat merasakan dinding intinya penuh. Terlebih Fei Chen sudah menggerakkan tubuhnya.


“Mmmppph!” Ji Xiuha memberontak namun itu membuatnya hampir terjatuh sehingga akhirnya Ji Xiuha memeluk erat tubuh Fei Chen.


Fei Chen melepaskan ciumannya dan mengecup mata Ji Xiuha lembut, “Milikmu sempit Bibi Ji... Maaf tadi aku terlalu memaksa...”


Ji Xiuha hanya diam dan menggumam tidak jelas saat Fei Chen mengangkat kedua kakinya. Dengan hujamam yang semakin dalam membuat Ji Xiuha memekik tidak karuan.


Fei Chen menikmati sensasi cengkeraman erat milik Ji Xiuha yang sangat memanjakannya.


“Bagaimana Bibi Ji? Enak?” Fei Chen tersenyum melihat ekspresi Ji Xiuha.


Ji Xiuha menggelengkan kepalanya karena dibawah sana miliknya semakin mencengkeram erat milik Fei Chen. Pemuda itu langsung menghujamkan tubuhnya sedalam mungkin hingga keduanya mencapai pelepasan secara bersamaan.


“Aaaahh... Chen‘er... Kamu...” Ji Xiuha ingin marah namun sekarang dirinya benar-benar merasa kepuasan batin yang belum pernah dia dapatkan.


Keduanya menatap satu sama lain dengan nafas yang tidak karuan. Ji Xiuha sudah lemas sedangkan Fei Chen yang memiliki kondisi Tubuh Raja Neraka tetap saja perkasa.


Fei Chen memaksa Ji Xiuha membelakangi nya dan kembali mengarungi tubuh indahnya. Ji Xiuha pasrah walaupun telah menolak.


“Ah...aah...”


“Ibu! Suara apa itu?!”


Seketika Fei Chen berhenti bergerak dan menatap Ji Xiuha yang merangkak dibawahnya. Miliknya justru semakin keras begitu juga dengan milik Ji Xiuha yang semakin mencengkeram erat.


“Chen‘er, berhenti...” Ji Xiuha hendak berdiri namun Fei Chen menahannya dan menggelengkan kepalanya.


“Ho‘er... Ibu melihat tikus Nak... Tikus ini... Oooh!” Ji Xiuha mencoba menjawab namun justru melenguh karena Fei Chen tiba-tiba menghentakkan tubuhnya, “Tikusnya... Sssshhh... Panjang...”


Ji Ho yang baru terbangun menguap, “Panjang? Tikusnya? Apa Ibu perlu bantuan?”


“Tidak... Tidak perlu... Ibu bisa mengatasinya sendiri... Ssshhh...”


Ji Xiuha mendelik karena Fei Chen semakin bersemangat mengarungi tubuhnya.


“Ya sudah. Aku ngantuk...” Ji Ho menguap dan kembali tertidur tanpa mengetahui Ji Xiuha yang sedang bertarung hebat dengan Fei Chen.


“Akh! Chen‘er! Pelan!” Ji Xiuha menggelengkan kepalanya saat Fei Chen membuat tubuhnya terguncang.


Fei Chen mengerang hebat dan memeluk tubuh Ji Xiuha dari belakang. Ji Xiuha memejamkan mata saat dirinya kembali mencapai pelepasan dan merasakan siraman hangat kedua didalam rahimnya.


“Terimakasih sayang... Tadi sangat nikmat...” Fei Chen berbisik ditelinga Ji Xiuha sambil menggerakkan tubuhnya pelan.


“Chen‘er, lain kali jangan lakukan itu... Aku takut Ho‘er mengetahuinya...” lemas Ji Xiuha menanggapi.


Fei Chen membantu Ji Xiuha berdiri dan memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut.


“Aku mengerti Bibi Ji...”


Keduanya saling meraba sebelum akhirnya Ji Xiuha tertidur disamping Ji Ho. Fei Chen tersenyum menatap ekspresi Ji Xiuha yang puas.


“Sebelum ke Kekaisaran Kai, aku akan menikahi kalian semua.” Fei Chen berkata sendiri sebelum keluar kamar Ji Xiuha dan menuju ruangan pribadinya.


Suasana malam itu membuat Fei Chen tersenyum sendiri karena akan melakukan sesuatu yang baru dengan Ji Xiuha.


Saat pikirannya melamun mengenai dirinya yang akan bertambah umur, Fei Chen merasakan hawa keberadaan seseorang mendekat.


“Yang Mulia Fei... Aku Guan Ai, apa aku mengganggumu?” Suara seorang wanita terdengar dari balik pintu ruangan pribadinya.


Fei Chen menjawab santai, “Masuklah Bibi Guan.”


Seketika Guan Ai masuk dan menutup pintu. Lalu berjalan mendekati Fei Chen yang duduk di kursi singgasana.


“Apa yang ingin kau bicarakan denganku tengah malam begini?” Fei Chen menatap tajam Guan Ai walaupun dia mengetahui apa yang Guan Ai pikirkan.


“Aku tidak bermaksud-” Suara Guan Ai terdekat.


“Yang Mulia Fei, aku... Aku ingin mengucapkan terimakasih secara langsung padamu, tetapi beberapa jam sebelumnya aku melihatmu masuk kedalam kamar Nyonya Ji dan aku tidak sengaja mendengar suara jeritan disana...” Guan Ai dengan tatapan penuh kecurigaan dan tajam membuat Fei Chen menelan ludah.


‘Sial! Aku terlalu menikmatinya!’ Fei Chen mengumpat.


“Apa yang akan orang-orang pikirkan jika mengetahui hal ini Yang Mulia Fei?” ujar Guan Ai.


Fei Chen menghela nafas, “Bibi uan, bukankah kau ingin mengucapkan terimakasih padaku. Tetapi kau sekarang seperti ingin mengancamku?”


Guan Ai mendekati Fei Chen dan tersenyum tipis, “Yang Mulia, jangan lupa jika dirimu telah menjamah tubuhku. Kau sudah menolongku dan aku ingin kau bertanggung jawab Yang Mulia...”


Guan Ai tanpa ragu duduk dipangkuan Fei Chen dan tersenyum manis, “Aku tidak keberatan jika harus berbagi. Dikamar itu kau mengatakan akan menerima wanita yang mencintaimu tulus dan menerima kondisimu bukan? Apa aku termasuk kriteria itu?”


Awalnya Fei Chen bingung dengan sikap Guan Ai. Namun mengingat hubungan keduanya kebelakang membuat Fei Chen tersenyum.


“Aku tidak akan memaafkan dirimu yang merenggut Ying‘er. Tetapi sekarang aku akan mengatakan sekali lagi, terimakasih karena telah menyelamatkanku dan Ying‘er...” ucap Guan Ai lirih.


“Aku tidak keberatan. Jadi apa kau akan memaafkanku Nyonya Guan?” Fei Chen menghembuskan nafasnya ke leher Guan Ai dan memegang kedua paha wanita itu.


Guan Ai tersenyum menantang, “Aku akan memaafkanmu jika kau membawaku terbang seperti yang kau lakukan pada Nyonya Ji.”


Mendengar itu Fei Chen menggelengkan kepalanya.


“Kenapa?” Guan Ai heran karena Fei Chen seolah-olah menertawakannya.


“Tidak, Bibi Guan. Aku hanya penasaran apakah kau memiliki tenaga untuk menerima permintaan maafku. Aku tidak akan berhenti dan akan terus meminta maaf padamu walaupun kau sudah memafkanku.”


Guan Ai menggerakkan pinggulnya dan memegang wajah Fei Chen.


“Jangan remehkan diriku, Chen‘er!” Guan Ai langsung memburu bibir Fei Chen dengan agresif. Sementara kedua bongkahan padatnya merasakan keperkasaan Fei Chen.


‘Benda ini... Sejak malam itu aku selalu membayangkannya...’