
PPFC 281 - Debut Dua Gadis
Fei Chen mencium bibir Qiao Ling dan menikmati kemolekan tubuh Gu Shi. Perlawanan lemah keduanya membuat Fei Chen semakin merajalela.
Qiao Ling masih amatir namun setelah mendapatkan arahan Fei Chen, gadis yang usianya dua puluh dua tahun itu mulai membalas ciuman Fei Chen lebih intens.
Sedangkan Gu Shi menahan kedua tangan Fei Chen yang menikmati bukit kembarnya. Awalnya Gu Shi menolak, namun lama-kelamaan perlakuan tangan Fei Chen pada bukit kembarnya membuat Gu Shi lupa segalanya.
“Aaaahh...” Gu Shi mengeluarkan suara menggoda saat ujung bukit kembarnya mengeras.
Fei Chen melepaskan ciumannya dan berbaring, kemudian dengan santai dia berkata, “Kalian berdua manjakan diriku...”
Qiao Ling menelan ludah saat keperkasaan Fei Chen yang keras dan besar bergoyang dihadapannya, sedangkan Gu Shi yang mendengar kata-kata Fei Chen seperti tersihir dan langsung melepaskan pakaiannya satu demi satu sebelum memegang inti Fei Chen.
“Jangan terburu-buru...” Fei Chen terkejut karena Gu Shi berniat langsung duduk menunggangi tubuhnya.
Dengan lembut Fei Chen berbisik dan membuat Gu Shi mengikuti arahannya. Gu Shi mencium lembut bibir Fei Chen dan memegang inti Fei Chen sambil menggerakkan tangannya.
Melihat ini Qiao Ling ikut melepaskan seluruh pakaiannya dan ikut menggenggam inti Fei Chen. Mata Qiao Ling dan Gu Shi saling berpandangan tepat setelah Gu Shi melepaskan ciuman.
‘Keras sekali... Dasar lelaki ini! Apa dia tidak pernah menatapku sebagai perempuan?!’ Qiao Ling membatin dan merasakan cemburu karena Fei Chen tidak melakukan sesuatu yang seperti pemuda itu lakukan pada Yang Xiaomi.
Sementara itu Gu Shi membatin penuh kekaguman, ‘Ini sangat besar... Apa ini akan baik-baik saja? Nyonya Xiaomi memberikan hatinya pada Tuan Fei. Aku tidak keberatan jika harus berbagi dengan Nyonya Xiaomi.’
Setelah itu Qiao Ling dan Gu Shi sama-sama memburu bibir Fei Chen. Dengan gemas Fei Chen menerima ajakan keduanya secara bergantian.
Tangan Fei Chen sendiri sibuk meremas bukit kembar kedua gadis itu secara bergantian. Milik Qiao Ling jauh lebih besar namun bukan berarti milik Gu Shi yang kecil.
Qiao Ling menyodorkan bukit kembarnya pada wajah Fei Chen begitu juga dengan Gu Shi. Secara bergantian Fei Chen melahap bukit kembar kenyal dan ujungnya yang berwarna merah muda.
“Aaaahhhh... Kau menggigitnya kasar...” Qiao Ling tiba-tiba menggenggam erat inti Fei Chen saat mulut Fei Chen menggigit ujung gunungnya.
Tak la giliran Gu Shi yang mengeluarkan suara manja, “Eh... Aaahhh... Tuan Fei... Kau menghisapnya seperti bayi...”
“Panggil aku Gege... Mengerti?” Fei Chen memeluk tubuh keduanya dan dijawab anggukan kepala oleh Qiao Ling dan dan Gu Shi.
Setelah itu Fei Chen meminta keduanya melakukan sesuatu pada intinya. Awalnya Qiao Ling terkejut dan menolaknya namun melihat Gu Shi tidak keberatan membuat Qiao Ling ikut merangkak mengagumi bentuk inti keperkasaan Fei Chen dari dekat.
Gu Shi yang pertama kali mencoba memanjakan inti Fei Chen. Berulang kali Fei Chen meringis kesakitan dan memegang kepala Gu Shi.
“Jangan digigit... Kau boleh menghisapnya Shi‘er..”
Mendengar ucapan Fei Chen membuat Gu Shi melakukannya dan hal itu membuat Fei Chen mengerang kenikmatan. Namun tak lama mulut Gu Shi tersedak dan mengeluarkan buih, lalu Qiao Ling yang penasaran langsung melahap dan tersedak.
“Uhuk! Uhuk.... Mmmm...”
Qiao Ling begitu lembut dan membuat Fei Chen menekan pelan kepala gadis itu. Keduanya secara bergantian sebelum Fei Chen berdiri dihadapan mereka berdua dan tersenyum.
Qiao Ling dan Gu Shi sama-sama kebingungan saat Fei Chen meminta keduanya membuka mulut. Alangkah terkejutnya Qiao Ling dan Gu Shi saat wajah mereka basah bahkan rambut dan mulut mereka juga terkena semburan maut.
“Telan...” Fei Chen berjongkok dan memeluk tubuh keduanya.
Keduanya menurut saja sebelum akhirnya tubuh Fei Chen didorong Gu Shi untuk berbaring. Dengan langkah yang berani Gu Shi berniat lebih dulu melakukannya, namun Qiao Ling menahannya.
"Shishi, aku dulu.” Mengingat Qiao Ling lebih tua darinya membuat Gu Shi menurut.
“Baiklah, Kakak Lingling. Tetapi cepatlah, aku ingin merasakan hal yang sama seperti Nyonya Xiaomi.” Gu Shi menjawab duduk melihat Qiao Ling yang berjongkok diatas tubuh Fei Chen.
‘Ternyata kegiatan ini membuat mereka saling mengenal...’ Fei Chen membatin dan menelan ludah saat melihat bagaimana lembah sempit Qiao Ling bersentuhan dengan bendanya yang keras dan besar.
“Terlalu besar... Gege...” Qiao Ling mengeluh dan merasakan keraguan. Hal itu membuat Fei Chen memegang bokong Qiao Ling dan membantunya.
Pinggul Qiao Ling turun secara perlahan dan saat benda keras menyeruak masuk, Qiao Ling berniat berdiri namun tiba-tiba tangan Fei Chen menahan pinggulnya dan memaksanya untuk masuk.
"Tahan Ling‘er...”
“Aduh... Aaah... Ini terlalu besar...” Lemas Qiao Ling merasakan sakit saat mengetahui inti Fei Chen berhasil masuk. Tubuhnya ambruk menindih Fei Chen.
“Lemaskan tubuhmu sayang...” Fei Chen mengusap punggung mulus Qiao Ling dan menggerakkan pinggul gadis itu hingga akhirnya Qiao Ling memekik.
"Haaakkk!” Fei Chen dan Qiao Ling saling menatap satu sama lain sebelum bibir keduanya menyatu.
Detik itu Fei Chen berhasil memecahkan kesucian Qiao Ling. Cukup lama Fei Chen diam sebelum akhirnya Qiao Ling mengambil inisiatif dengan bergerak naik turun secara lembut.
“Aaah... Ah...”
Qiao Ling terlihat mulai menikmati dan merangkak diatas tubuh Fei Chen. Dengan memperlihatkan keindahan bukit kembarnya, Qiao Ling mulai mengayunkan bokongnya lebih cepat.
Fei Chen ******* bukit kembar yang terpampang dihadapannya dan memegang pinggul Qiao Ling yang bergerak naik turun di atasnya.
“Mmmmsssss.... Aaaah... Gege...”
Gerakan Qiao Ling semakin cepat sebelum akhirnya gadis itu menjerit kecil dan ambruk menimpa tubuh Fei Chen.
Milik Fei Chen masih keras dan pemuda itu menatap Gu Shi yang menunggu giliran. Sambil membaringkan tubuh Qiao Ling, Fei Chen bangkit dan meminta Gu Shi merangkak diatas tubuh Qiao Ling.
“Eh?” Qiao Ling terkejut melihat Gu Shi merangkak diatas tubuhnya.
Dengan lutut sebagai tumpuan Gu Shi memperlihatkan kemolekan bokongnya pada Fei Chen. Pemandangan ini membuat Fei Chen memegang pinggul Gu Shi dan menggesekkan bendanya diujung milik Gu Shi yang masih sempit dan rapat.
Fei Chen menganggukkan kepalanya, “Tahan sebentar Shi‘er...” Ujung bendanya mulai terbenan dan membuat Gu Shi menjerit.
“Akh! Sakit! Aduh! Chen‘gege!”
Fei Chen mendiamkan miliknya di sana dan meremas bokong Gu Shi sambil melihat bagaimana intinya yang dibasahi darah segar dan buih cinta.
“Kau bisa melanjutkannya Chen‘gege...” ucap Gu Shi setelah mencoba beradaptasi dengan benda keras di tubuhnya.
Setelah beberapa menit Fei Chen menggerakkan tubuhnya dan membuat Gu Shi mulai merasakan kenikmatan.
“Aduh! Aaaah!” Racau Gu Shi tidak jelas saat Fei Chen menghentakkan tubuhnya.
Fei Chen merasakan sensasi yang luar biasa dan membuatnya bersemangat. Bunyi deritan ranjang menggema diiringi suara erangan Gu Shi yang berisik.
Gerakan Fei Chen semakin cepat dan tak lama mulut Gu Shi terbuka lebar. Fei Chen tersenyum melihat tubuh Gu Shi ambruk disamping Qiao Ling.
“Sudah pagi...” Fei Chen menatap kearah jendela saat sinar matahari menampakkan diri.
Qiao Ling yang sudah basah membuka kedua pahanya mengundang Fei Chen. Dengan senang hati Fei Chen mendekat dan menekuk kedua kaki Qiao Ling sebelum melakukan penyatuan.
“Aaah... Pelan sayang!” Qiao Ling menggelengkan kepalanya kesana kemari saat Fei Chen mengarungi tubuhnya dengan sentakan kasar.
“Aaaahhh.. Mmmm... Gege... Gege...” Qiao Ling sama seperti Gu Shi yang begitu berisik menikmati kegiatan ini.
Fei Chen hanya tersenyum tipis dan bergerak lebih cepat sambil menghisap leher jenjang Qiao Ling.
“Aaaahhhssss.... Haaakkk!”
Qiao Ling memelik berulang kali saat akan mendapatkan pelepasan. Fei Chen yang mengerti mempercepat temponya dan terus bergerak mengukung tubuh Qiao Ling sebelum akhirnya keduanya melakukan pelepasan secara bersamaan.
“Aaahhhh... Haaaaah...” Nafas Qiao Ling tersengal-sengal dan membuat Fei Chen melepaskan penyatuan.
Setelah Qiao Ling lemas, giliran Gu Shi mengambil inisiatif untuk memanjakan Fei Chen.
“Kenapa masih berdiri?” Gu Shi nampak bingung dan memegang inti Fei Chen.
“Apa kau masih sanggup sayang?” Fei Chen berbaring dan melihat Gu Shi yang merangkak diatas tubuhnya.
Dengan lembut Gu Shi menurunkan pinggulnya melakukan penyatuan. Mulut Gu Shi terbuka saat merasakan miliknya penuh dan tidak ada celah ruang yang tersisa.
Gerakan naik turun Gu Shi sangat pelan dan lembut. Fei Chen tidak bergerak dan hanya melihat bagaimana kedua bukit kembar bergoyang kesana-kemari.
“Mmmm.... Aaaah!”
Saat Gu Shi hendak mencapai pelepasan, Fei Chen menghentakkan tubuhnya keatas dan menahan pinggul Gu Shi.
Tubuh Gu Shi ambruk menimpa Fei Chen. Mengetahui hari sudah pagi, Fei Chen berniat mengarungi tubuh keduanya, namun Gu Shi dan Qiao Ling sudah lemas.
“Sudah... Gege...” Qiao Ling merapatkan kedua pahanya saat Fei Chen mau menindih tubuhnya.
“Chen... Chen... Chen‘gege benar-benar perkasa...” puji Gu Shi saat mengetahui milik Fei Chen masih keras.
“Sepertinya aku melewatkan sesuatu...”
Saat Fei Chen sedang mengobrol dengan Qiao Ling dan Gu Shi, suara Yang Xiaomi terdengar.
“Nyonya Xiaomi? Ini... Aku tidak bermaksud-”
“Aku mengerti, Shi‘er...” Yang Xiaomi membuka kedua pahanya dan tersenyum.
“Aku sudah lelah...” Qiao Ling memejamkan mata lalu menatap sayu Fei Chen yang menindih tubuh Yang Xiaomi.
Pagi itu Fei Chen melakukan pelepasan didalam tubuh Yang Xiaomi sebelum mengakhiri kegiatan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang.
Melihat Qiao Ling dan Gu Shi tertidur bahkan Yang Xiaomi yang lemas tidak dapat berjalan membuat Fei Chen menetap di Penginapan Bunga Cinta hingga hari menjelang siang.
“Bagaimana? Apa kau menyukainya?” Fei Chen menatap sinis Kang Feihu sambil mengeluarkan sebuah api hitam dari telapak tangan kanannya.
“Bunuh aku...“ Mental Kang Feihu hancur dan dengan cepat Fei Chen mengarahkan api hitam di telapak tangan kanannya pada badan Kang Feihu.
“Kalau begitu lenyap dan matilah.”
Setelah itu Fei Chen pergi meninggalkan Penginapan Bunga Cinta dan melihat kekacauan yang terjadi di Ibukota Yangdian. Kemunculan Bei Ping dan Deshe membuat para penduduk tenang.
Bei Ping mengatakan kepada penduduk bahwa semua kekacauan yang terjadi demi menggulingkan kekuasaan Yang Ergou.
“Tetapi rumah kita sudah hancur...”
“Bukankah tidak ada penduduk yang mati selain pendekar Tujuh Bunga Iblis?”
Semua orang menatap ke alun-alun dimana Bei Ping berbicara diatas kepala Deshe yang sedang dalam wujud besar.
Fei Chen yang melihat ini langsung bergerak menuju Reruntuhan Dewi Iblis.
“Badanku lumayan pegal...” Fei Chen mengeluh saat pinggangnya terasa encok.