Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 275 - Benci Jadi Cinta, Qiao Ling.


PPFC 275 - Benci Jadi Cinta, Qiao Ling.


Setelah meninggalkan Kota Yangping, Fei Chen pergi menuju Ibukota Yangdian bersama Qiao Ling. Butuh waktu sekitar sehari untuk Qiao Ling terbangun setelah dibuat pingsan oleh Fei Chen.


Dalam perjalanan Qiao Ling lebih banyak diam dan sesekali tersipu malu saat keduanya beristirahat. Namun setelah pergi meninggalkan Kota Yangping selama dua hari, Fei Chen meminta Qiao Ling untuk terbang dibawah gendongannya.


“Untuk... Untuk apa aku melakukan itu?” Tentu saja Qiao Ling menolak.


“Lambat. Kau membebaniku. Selagi kita berada disini, bisa saja Senior-”


“Cukup! Aku mengerti dan jangan berbicara lagi!” Qiao Ling membentak hingga membuat Fei Chen terdiam.


Fei Chen berjongkok dan menoleh, “Naiklah.” Melihat ini Qiao Ling menghela nafas.


“Depan atau belakang? Kenapa kau menghela nafas?” Fei Chen memprotes dan membuat Qiao Ling menaikan alisnya kesal.


“Diam! Aku akan naik!” Qiao Ling memeluk tubuh Fei Chen dari belakang. Sentuhan kedua tangan Fei Chen yang melingkar dikedua pahanya membuat wajah Qiao Ling memerah.


“Pegangan yang erat.” Perintah Fei Chen dan segera Qiao Ling melakukannya.


Fei Chen hendak melompat namun dia mengurangkan niatnya saat punggungnya terasa bersentuhan dengan keindahan kenyal milik Qiao Ling. Keduanya terdiam lama sebelum akhirnya Qiao Ling menjitak kepala Fei Chen cukup keras.


PLETAK!”


“Kenapa menjitak kepalaku?!” Fei Chen kembali memprotes.


Qiao Ling dengan kesal menjawab, “Kau mencari kesempatan bukan? Cepat turunkan aku!”


“Berhenti memberontak! Apa kau tidak sadar tubuhmu itu...” Fei Chen tidak melanjutkan perkataannya karena mengingat peringatan dari Qiao Mi tentang wanita yang membenci saat sang pria mengatakan tentang berat badannya.


“Tubuhku kenapa? Jawab kenapa diam?!” Qiao Ling melotot tajam dan membuat Fei Chen menghela nafas panjang.


“Pegangan. Kita akan pergi.” Setelah menghela nafas panjang Fei Chen terbang dengan kecepatan tinggi menuju Ibukota Yangdian.


Qiao Ling memeluk tubuh Fei Chen erat begitu juga dengan Fei Chen yang memegang kedua paha Qiao Ling erat. Keduanya sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun dalam perjalanan kali ini.


‘Ini sangat canggung... Kenapa dia tidak berbicara padaku? Dasar lelaki membosankan...’ gerutu Qiao Ling dalam hati.


Sementara itu Fei Chen berpikir dalam hati, ‘Aku telah bersumpah pada Mi‘er akan menanggung hidup mereka. Jika Senior Ju Ling Shui jatuh ke tangan sialan itu... Aku...’


Fei Chen tiba-tiba merapatkan giginya dan mendecakkan lidahnya. Perbuatannya ini membuat Qiao Ling yang awalnya diam menjadi buka suara.


“Kenapa tiba-tiba berdecak kesal?” tanya Qiao Ling pada Fei Chen dengan tatapan tajam.


“Aku hanya sedang kesal.” Fei Chen menjawab singkat dan mempercepat langkahnya menapaki udara.


____


Dengan kecepatan yang dilakukan Fei Chen bahkan keduanya tanpa melakukan istirahat, Fei Chen berhasil sampai di Ibukota Yangdian dalam waktu enam saja setelah melakukan perjalanan dua hari bersama Qiao Ling.


“Andai saja seperti ini maka akan cepat. Oh iya aku hampir melupakannya. Tiga hari lagi...” Fei Chen mengingat bahwa tiga hari umurnya bertambah satu tahun.


Fei Chen sendiri sebenarnya tidak peduli, namun karena sisi kekanak-kanakannya muncul dalam sisi dinginnya membuat Fei Chen mengingat akan perkataan Qie Shie.


“Tiga hari lagi... Ada apa?” Qiao Ling bertanya dan Fei Chen meminta gadis itu turun.


“Aku berumur delapan belas tahun.” Fei Chen menjawab singkat dan membuat Qiao Ling menggelengkan kepalanya tidak percaya.


“Bocah ya? Aku tidak peduli dengan sindiranmu itu. Daripada itu untuk apa aku meminta hadiah darimu?” Jawaban Fei Chen membuat Qiao Ling menggerutu kesal.


“Kau!”


“Ssst...”


Saat Qiao Ling menatapnya tajam segera Fei Chen memberikan isyarat pada Qiao Ling agar diam. Fei Chen mengetahui akses masuk kedalam Ibukota Yangdian sangat sulit sehingga hal ini membuat Fei Chen berpikir keras.


“Sial, sepertinya aku harus menunggu-” Belum menyelesaikan ucapannya Fei Chen tersenyum tipis dan kembali berkata, “Sepertinya tidak perlu menunggu. Deshe, apa sudah selesai?”


“Tuanku, Tuanku. Aku menyelesaikannya lebih cepat.” Deshe langsung mengubah wujudnya menjadi kecil dan melata ke kepala Fei Chen.


“Ular ini berbicara? Apa dia peliharaanmu? Bukankah dia ini sangat lucu?” Qiao Ling menatap gemas Deshe seolah-olah ingin menerkamnya.


“Perkenalkan gadis ini Saudari Qiao Ling...” Fei Chen memberitahu Deshe mengenai identitas Qiao Ling.


"Oh, jadi dia gadis beban yang emosional itu Tuanku?”


Fei Chen terdiam saat mendengar tanggapan Deshe tentang Qiao Ling. Saat menoleh kearah Qiao Ling, Fei Chen melihat aura pembunuh dan tatapan penuh kemarahan Qiao Ling pada Deshe.


“Ular kecil... Coba katakan sekali lagi yang barusan kau katakan padaku?” Melihat Qiao Ling saat ini membuat Fei Chen menghela nafas panjang.


Sedangkan Deshe dengan santai menjawab, “Gadis beban yang emosional-” Sebelum Deshe selesai menjawab, sebuah pukulan mengarah pada belahan rambut Fei Chen tempat dimana Deshe berada.


Fei Chen memegang tangan Qiao Ling karena menyadari Deshe bersembunyi.


“Kenapa menahanku? Biarkan aku menghancurkan tubuh ular kecil ini?!” Qiao Ling memprotes aksi Fei Chen ini.


"Tenang... Tenanglah Saudari Qiao Ling. Bisa saja kau memukul kepalaku.” Fei Chen mencoba menenangkan Qiao Ling hingga akhirnya gadis itu tenang.


“Deshe, jangan mengatakan hal yang aneh lagi. Sekarang aku ingin kau melakukan hal yang sama dengan di Kota Yangping agar aku bisa menyusup dengan mudah ke kota ini.” Fei Chen berkata pada Deshe dan dijawab dengan sigap oleh ular berwarna putih tersebut.


"Baik, Tuanku.”


Fei Chen sudah mengetahui lokasi Reruntuhan Dewi Iblis yang jaraknya lumayan jauh dari Ibukota Yangdian. Sebelum menuju Reruntuhan Dewi Iblis, Fei Chen ingin membuat kekacauan dengan membinasakan Tujuh Bunga Iblis.


“Saudara Fei, untuk apa kau melakukan semua ini? Bukankah tidak baik mencampuri urusan masalah orang lain?” Saat Fei Chen memperhatikan Deshe yang sudah bergerak menuju gerbang utama Ibukota Yangdian, tiba-tiba Qiao Ling bertanya.


“Apa kau berhak mengatakan itu?” Fei Chen justru kembali bertanya.


“Apa maksud perkataanmu?” balas Qiao Ling tajam.


“Dengar, mereka sudah mengusikku bahkan menyentuh orang-orangku. Aku tidak berbelas kasih pada orang yang berani mengusik dan menyerangku.”


Setelah menjawab Fei Chen memejamkan matanya mencoba merasakan hawa keberadaan Ju Ling Shui.


“Saudari Qiao Ling, saat Deshe membuat


n kita akan masuk kedalam kota. Jadi jangan menghambatku,” ucap Fei Chen sambil membuka matanya secara perlahan.


“Hah? Kau! Aku tidak menghambatmu!” Qiao Ling terlihat kesal pada Fei Chen, namun gadis ini tidak dapat menghentikan debaran jantungnya karena berbincang dengan Fei Chen.


Saat sebuah teriakan dan amukan Deshe dalam wujud normal, seketika para pendekar Tujuh Bunga Iblis yang berada di Ibukota Yangdian berdatangan ke gerbang masuk.


“Mari pergi!” Bersamaan dengan itu Fei Chen dan Qiao Ling masuk kedalam tengah-tengah kekacauan tersebut tanpa sepengetahuan para pendekar Tujuh Bunga Iblis.