Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 216 - Pembalasan Sempurna


PPFC 236 - Pembalasan Sempurna


Penginapan Bulan Kembang, Kota Hongan.


Terlihat di lantai atas penginapan Hong Zi Ran dan Ji Guang Kang sedang menikmati teh dan hidangan yang disajikan oleh penginapan. Hong Zi Ran tidak menaruh curiga terhadap Ji Guang Kang yang sudah menaruh bubuk perangsang di makanan ataupun di dalam minuman.


“Ran‘er, andai saja saat itu aku menyampaikan perasaanku lebih cepat mungkin aku tidak harus terluka seperti ini... Tetapi aku berjanji akan membuatmu bahagia. Tidak peduli sepahit apapun masa lalumu, mari kita lupakan itu dan menatap masa depan Ran‘er.” Ji Guang Kang memegang kedua tangan Hong Zi Ran lalu menatap teduh wanita tersebut.


“Kang‘gege, jika bukan karena dirimu aku tidak akan membuka hatiku. Tolong buat aku percaya...” Hong Zi Ran menjawab perasaan Ji Guang Kang dengan buliran air mata.


Tatapan teduh Ji Guang Kang berubah saat melihat Hong Zi Ran menggenggam tangannya erat. Dengan penuh kelembutan Ji Guang Kang membawa Hong Zi Ran berdiri dan secara perlahan mempersingkat jarak.


“Ran‘er...” Ji Guang Kang memeluk Hong Zi Ran penuh gairah dan membuat wanita paruh baya itu tersentak kaget.


“Kang‘gege, apa yang kau lakukan?” Hong Zi Ran memberontak namun hanya dengan bersentuhan saja tubuhnya merasa panas dan gatal.


Terlebih saat Ji Guang Kang membalikkan tubuhnya dan memeluknya dari depan. Pria itu menyeringai dan menggigit daun telinga Hong Zi Ran sembari meremas gundukan kenyal yang terbungkus gaun.


“Aaahhhsss...” Lenguhan panjang Hong Zi Ran membuat Ji Guang Kang semakin larut dan membawa tubuh wanita itu kedalam kamar.


‘Aneh, kenapa tubuhku terasa sangat panas...” Hong Zi Ran merasakan lembahnya telah basah bahkan ujung gunungnya juga mengeras.


Melihat senyuman licik Ji Guang Kang membuat Hong Zi menggelengkan kepalanya.


“Tidak mungkin...”


“Terlambat Ran‘er, aku akan membuatmu menjadi wanitaku!” Ji Guang Kang melepaskan pakaiannya dan hendak mendekati ranjang namun suara ketukan pintu kamar membuyarkan gairahnya.


“Bibi Hong...” Suara yang tidak asing di telinga Hong Zi Ran membuat wanita itu tersenyum lega.


“Chen‘er!”


Ji Guang Kang membuka pintu dan seketika melihat pemuda berparas tampan yang menjentikkan jarinya. Pemuda itu adalah Fei Chen yang langsung menggunakan Ilusi Naga Giok.


Dengan membuat Hong Zi Ran tertuju padanya serta mengincar Ji Guang Kang yang kini berdiri di hadapannya seketika ruangan kamar itu membentuk segel ilusi.


Hong Zi Ran terkejut saat menyadari Ji Guang Kang sudah menghilang, walaupun yang sebenarnya Ji Guang Kang berdiri mematung menghadap ranjang tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.


“Akan kutunjukkan padamu perbedaan besar diantara kita...” Fei Chen mengetahui kondisi Hong Zi Ran dan langsung menutup pintu kamar penginapan rapat.


“Chen‘er, aku... Aku...” Hong Zi Ran menangis dan memeluk Fei Chen.


“Bibi Hong, kenapa kau begitu ceroboh?” Fei Chen mengelus kepala Hong Zi Ran.


Hong Zi Ran semakin terbawa suasana dan tidak bisa mengendalikan dirinya. Ditatapnya Fei Chen penuh gairah dan langsung mencium bibir pemuda tersebut.


Fei Chen membalasnya singkat dan langsung menidurkan Hong Zi Ran diranjang. Hanya dengan permainan jari dan lidahnya Hong Zi Ran sudah tergeletak lemas diatas ranjang.


Satu jam kemudian Hong Zi Ran tersadar dan menangis, sedangkan Fei Chen duduk disebelahnya dengan pakaian lengkap berbeda dengan Hong Zi Ran yang sudah acak-acakan.


“Chen‘er... Kau tega...” Hong Zi Ran mengutuk dirinya karena membiarkan Fei Chen menjamah tubuhnya.


“Lebih baik aku mengantarmu ke Benteng Lembah Pedang. Aku tidak ingin melihatmu terluka seperti ini. Bencilah aku Bibi Hong...” Fei Chen menarik lembut tubuh Hong Zi Ran dan merapikan pakaiannya.


Namun Hong Zi Ran menggelengkan kepalanya, “Tidak Chen‘er! Aku tidak ingin pergi! Aku takut!”


Fei Chen mengangkat alisnya dan mengelus rambut Hong Zi Ran penuh kasih sayang, “Kalau begitu istirahatlah, Bibi Hong. Maaf, sepertinya aku melukaimu ya?”


‘Chen‘er, kenapa kau bisa berkata seperti itu padaku?’ Batin Hong Zi Ran karena tidak menyangka Fei Chen memperlakukan dirinya begitu lembut.


Fei Chen mengangkat tubuh Hong Zi Ran dan membawanya ke kamar lain.


Hong Zi Ran tidak menolak dan tersipu malu, ‘Chen‘er tidak bersalah, tetapi ini aneh... Kenapa Chen‘er bersikap sangat perhatian padaku? Tatapannya sangat berbeda dari biasanya...’ Batin Hong Zi Ran saat Fei Chen kembali memperlakukan dirinya dengan begitu lembut.


“Maafkan aku Bibi Hong...” bisik Fei Chen sambil menatap wajah Hong Zi Ran yang sembab penuh kasih sayang.


Tak lama Fei Chen membuka pintu kamar meninggalkan Ji Guan Kang yang mengutuk keras dirinya. Fei Chen tidak peduli karena dia sendiri akan memberikan rasa sakit yang mengerikan kepada Ji Guang Kang melebihi kematian.


“Bocah keparat! Aku akan membunuhmu! Terkutuk kau! Aku akan membuat semua wanitamu menderita!” teriak Ji Guang Kang yang tidak bisa didengar siapapun selain dirinya.


Ji Guang Kang begitu marah karena Fei Chen menggagalkan rencananya bahkan saat pemuda itu kembali, Ji Guang Kang dibuat semakin marah saat Fei Chen membawa Song Na yang ternyata masih hidup.


“Chen‘er, untuk apa kau membawaku ke kamar ini?” ucap Song Na malu-malu karena Fei Chen memeluk tubuhnya dari belakang.


“Bibi Song, aku ingin...” bisik Fei Chen memohon.


“Tetapi Chen‘er, aku lelah... Bukannya kita baru saja melakukannya. Besok pagi ya?”


Bagai tersambar petir Ji Guang Kang menatap Fei Chen penuh dendam dan amarah. Pria itu tidak pernah melihat Song Na berekspresi menggoda seperti itu bahkan parahnya sekarang dirinya harus melihat Fei Chen dan Song Na yang tertidur saling berpelukan satu sama lain hingga pagi menjelang.


Saat pagi tiba Ji Guang Kang berteriak histeris dan depresi saat melihat sisi lain Song Na. Terlebih keperkasaan Fei Chen berada jauh diatasnya. Bagaikan langit dan bumi, Ji Guang Kang menerima kenyataan pahit saat harus melihat pergumulan panas Fei Chen dan Song Na.


Lenguhan manja dan gerakan indah tubuh Song Na membuat Ji Guang Kang benar-benar merasa dikalahkan secara telak oleh Fei Chen. Pemuda tanggung yang sudah memiliki sembilan istri resmi itu mendapatkan hati begitu juga tubuh Song Na.


Selesai mengarungi indahnya pagi bersama Song Na, Fei Chen mendekati Ji Guang Kang sambil tersenyum dingin.


“Itulah akibat karena berani mencari masalah denganku!” Fei Chen mengeluarkan Deshe setelah berkata demikian.


Walaupun bentuknya imut dan bikin gemas, Deshe tetap saja mematikan. Fei Chen memberikan perintah kepada Deshe agar Ji Guang Kang lumpuh karena racunnya.


Deshe menggigit leher Ji Guang Kang dan membuat pria itu tertawa layaknya orang gila. Sekarang Ji Guang Kang hanya kepada perintah Deshe dan Deshe patuh terhadap perintah Fei Chen.


“Tujuan kita selanjutnya adalah Ibukota Huayin. Tunggu Bibi Song dan Bibi Hong bangun, kita lanjutkan perjalanan kita Deshe,” ujar Fei Chen.


“Baik Tuanku.” Deshe menjawab.


Fei Chen menoleh kebelakang menatap tubuh polos Song Na yang penuh tanda kemerahan kepemilikan dirinya atas wanita paruh baya tersebut. Tidak pernah Fei Chen sangka dirinya akan melakukan hal ini dengan seorang wanita paruh baya.


‘Tidak buruk...’ batin Fei Chen sambil tersenyum tipis dan mengelus tubuh Song Na penuh kasih sayang.