
PPFC 332 - Sepenggal Kisah Bibi Luo Dan Chen‘er
Sementara Luo Rou membaca isi Gulungan Dewi Bulan, Fei Chen mengantar Qie Shie ke Lentera Seribu Pedang menggunakan Portal Teleportasi.
Sesampainya di dalam Paviliun Pedang Cinta, Fei Chen langsung mencium bibir Qie Shie dan disambut hangat wanita paruh baya tersebut. Suasana semakin memanas saat Fei Chen meraba gundukan kenyal milik Qie Shie yang masih kencang dan padat.
“Emmm...” Qie Shie terlihat menikmati permainan Fei Chen dan dia membalas dengan sentuhan lembut dicelah paha Fei Chen.
Namun Fei Chen melepaskan ciumannya dan mengecup kening Qie Shie lembut, “Besok aku kemari, Bibi Qie.”
“Malam ini aku akan berpamitan dengan Bibi Luo. Dia terlihat menjauhiku, padahal aku hanya ingin berpamitan tetapi dia menjaga jarak.” Fei Chen mengeluh dan membuat Qie Shie yang lebih pendek darinya mengelus kepalanya.
“Buat aku percaya padamu Chen‘er.” Qie Shie membenamkan kepala pemuda itu kedadanya, namun tangan Fei Chen justru meraba lembahnya.
“Chen‘er, kamu di kasih dada malah minta ************... Sssshhh...” Qie Shie segera mendorong tubuh Fei Chen.
Sedangkan Fei Chen hanya tersenyum tipis sebelum kembali ke Benteng Lembah Pedang melewati Portal Teleportasi.
“Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta pada pemuda yang lebih pantas menjadi anakku...” Qie Shie menggumam dan akan merias diri secantik mungkin untuk Fei Chen.
Tidak pernah Qie Shie sangka jika dirinya akan jatuh kepelukan Fei Chen yang merupakan seorang pemuda pembunuh anak dan suaminya.
____
Luo Rou sudah membaca Gulungan Dewi Bulan namun tidak menyangka jika Tubuh Dewi Bulan bagaikan tungku benang Qi dan aura yang tidak terbatas.
Akhirnya setelah selesai membaca, Luo Rou memasak makan malam untuk dirinya dan Fei Chen mengingat Qie Shie telah kembali.
Namun dalam hatinya Luo Rou merasa curiga karena menyadari gerak-gerik mencurigakan Qie Shie.
‘Apa Shieshie menggoda Chen‘er?’ Batin Luo Rou dipenuhi pertanyaan yang menumpuk.
Selesai memasak Luo Rou menunggu kedatangan Fei Chen namun pemuda itu tak kunjung datang sehingga dirinya memutuskan untuk mandi.
Setelah mandi Luo Rou membuka kamar Fei Chen dan duduk diranjangnya. Parasnya yang menawan dan cantik dipenuhi kegelisahan, Luo Rou tidak pernah menyangka begitu gelisah dan khawatir karena Fei Chen.
“Kenapa aku jadi seperti ini?” Luo Rou menggerutu dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang Fei Chen lalu memejamkan matanya.
Namun beberapa saat suara pintu terbuka disusul suara penuh keramahan yang menyebut namanya, “Bibi Luo...” Seketika Luo Rou duduk di tepi ranjang dan menatap Fei Chen gelisah.
“Chen‘er? Sudah pulang rupanya. Kenapa tidak mengetuk pintu?” Luo Rou bertanya.
“Bibi, ini kamarku bukan? Seharusnya aku yang bertanya mengapa Bibi disini?” Fei Chen menjawab. Sebenarnya dia merasakan hawa keberadaan Luo Rou didalam kamarnya, namun dia tidak menyangka Luo Rou akan menatapnya seperti ini, sebuah ekspresi dan tatapan yang sama seperti Liu Xianlin saat gelisah akan perasannya.
“Bibi hanya ingin memastikan kau menata kamarmu dengan rapi Chen‘er...” Luo Rou menjawab.
Lalu Fei Chen duduk disamping wanita paruh baya tersebut dan memegang lembut tangannya menggenggam erat lalu berbisik lirih.
“Bibi, maaf jika aku ada salah denganmu. Kenapa kau terlihat seperti menjaga jarak dariku?”
Luo Rou memalingkan wajahnya sehingga leher jenjangnya diterpa hembusan nafas Fei Chen.
“Chen‘er, aku ini Bibimu jangan bertindak jauh!” Tiba-tiba Luo Rou mendorong tubuh Fei Chen tanpa sadar.
“Maaf...”
Luo Rou tidak berani menatap Fei Chen. Sekarang dirinya dipenuhi sejuta kebimbangan untuk bertanya kepada Fei Chen mengenai perasaan pemuda tersebut.
“Chen‘er, boleh Bibi bertanya?” tanya Luo Rou dan Fei Chen menjawab.
“Boleh, Bibi Luo...”
“Bagaimana perasaanmu terhadap Bibi?” Seketika ruangan kamar Fei Chen hening karena pertanyaan Luo Rou.
“Bibi, aku selalu kagum padamu sejak kecil. Aku tidak pernah sekalipun menganggapmu sebagai Ibu angkatku. Kau harus tahu, aku selalu memandangmu sebagai seorang wanita. Aku tidak menyadari perasaan itu saat kecil, tetapi seiring pertumbuhanku aku sadar jika aku tidak ingin pria lain memilikimu Bibi...” ucap Fei Chen sambil memegang kedua tangan Luo Rou.
“Aku benar-benar ingin kau menjadi milikku Bibi. Aku mencintaimu Luo Rou...” Setelah itu Fei Chen mengecup tangan Luo Rou.
Jantung Luo Rou berdetak kencang tak tentu arah saat mendengar pengakuan Fei Chen.
“Chen‘er, buang perasaanmu. Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri.” Luo Rou mengelak dan menepis perasaan Fei Chen.
“Bibi, apa kau tidak memiliki perasaan khusus sedikitpun padaku?” Fei Chen menatap hangat Luo Rou dan membuat wanita paruh baya itu menundukkan kepalanya.
“Chen‘er, ini tidak bisa. Bibi juga mencintaimu tetapi ini salah...” Luo Rou meneteskan air mata saat tanpa sadar mengungkapkan perasaannya. Pipinya disentuh Fei Chen lembut.
Fei Chen mengangkat wajah cantik Luo Rou yang indah seperti wanita berumur dua puluhan tahun. Sedetik kemudian dia mengecup bibir Luo Rou dengan lembut.
“Bibi, kamu cantik...” puji Fei Chen memandang wajah ramah Luo Rou yang cantik itu.
“Chen‘er, kenapa tiba-tiba mencium Bibi?” balas Luo Rou lembut. Bagaimanapun barusan adalah pertama kalinya bibirnya bersentuhan dengan bibir lawan jenisnya.
Fei Chen hanya tersenyum penuh kehangatan dan merengkuh tubuh Luo Rou lalu mengelus kepala wanita paruh baya itu. Setelah tatapan mereka bertemu, Fei Chen mencium lembut bibir Luo Rou.
“Mmmmssshh...” Luo Rou memberontak namun tidak sekuat tenaga. Perasaannya campur aduk sekarang. Satu sisi dia merasa begitu bahagia karena pria yang pertama kali menyentuh tubuhnya adalah Fei Chen, namun sisi lainnya menepis bahwa Fei Chen tidak boleh melakukan hal ini padanya.
“Chen‘er, berhenti... Bibi risih Aaaahhh!” Luo Rou berharap Fei Chen berhenti namun pemuda itu justru menggenggam buah dadanya yang indah.
“Chen‘er!” bentak Luo Rou membuat Fei Chen berhenti.
“Bibi, apa kau mencintaiku?” Fei Chen memeluk erat tubuh Luo Rou dan berbisik lembut ditelinga wanita paruh baya tersebut.
“Aku... Aku mencintaimu... Chen‘er...” Dengan latah Luo Rou menjawabnya layaknya anak kecil. Sedetik kemudian wanita paruh baya itu kembali meneteskan air mata tanpa sadar.
Fei Chen mengelus kepalanya dan mengangkat tubuh Luo Rou.
“Chen‘er, kau mau membawa Bibi kemana?” tanya Luo Rou dan dengan cepat mengalungkan kedua tangannya pada leher Fei Chen.
Fei Chen tersenyum hangat, “Ke kamarmu Bibi.”
Jantung Luo Rou semakin berdetak kencang saat Fei Chen membawa tubuhnya ke dalam kamar pribadinya. Apa yang dilakukan pemuda itu adalah membaringkan tubuhnya penuh kasih sayang lalu menindih tubuhnya dan melanjutkan apa yang sempat tertunda.
Berulang kali Fei Chen memuji keindahan dan kecantikan Luo Rou saat menjamah bagian terlarang wanita paruh baya tersebut. Sementara pemberontakan Luo Rou semakin lemah saat jari-jemari Fei Chen yang begitu handal menjamah tubuhnya.
Tanpa Luo Rou sadari sekarang dirinya sudah polos begitu juga dengan pemuda yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
Mereka berdua saling menatap tubuh polos masing-masing tanpa mengatakan apapun. Keduanya terpaku akan keindahan pahatan tubuh masing-masing.
‘Tubuh Chen‘er sangat bagus... Dan kenapa miliknya jadi sebesar itu?’ Luo Rou membatin mengingat Fei Chen kecil. Secara naluriah Luo Rou ingin merasakan hal ini walaupun batinnya bergejolak.
Fei Chen mendekat dan kembali mencium bibir Luo Rou sembari terus mengelus-elus gundukan kenyal kencang Luo Rou. Wanita paruh baya yang ditindih Fei Chen tersebut membalas lemah dan hanya bisa pasrah saat sekarang salah satu gundukan kenyal miliknya yang terjaga menjadi santapan bibir Fei Chen, sedangkan yang satunya diremas penuh kelembutan.
“Emmm...Chen‘er...” Tubuh Luo Rou menggeliat karena kenikmatan yang diberikan Fei Chen.
Luo Rou berusaha menolak tetapi tubuhnya berkata lain sehingga bibirnya terkunci rapat untuk membentak pemuda itu. Bahkan Luo Rou tidak peduli lagi jika erangannya terdengar.
Sekarang Fei Chen memposisikan dirinya melakukan penyatuan. Luo Rou panik dan menahan tubuh Fei Chen yang mengukung tubuhnya.
“Bibi, izinkan aku menjadi yang pertama untukmu sayang...” Fei Chen menggigit daun telinga Luo Rou lembut setelah berbisik mesra.
Sekarang leher Luo Rou menjadi incarannya dan bekas tanda kepemilikan Fei Chen penuh disana. Luo Rou hanya mengerang dan dipenuhi sejuta kebimbangan saat melihat kebawah sana.
Tanpa menunggu jawaban Luo Rou, Fei Chen sudah menggesekkan tubuhnya. Lembab dan licinnya lembah surgawi Luo Rou membantunya melakukan penyatuan.
Wajah Luo Rou menegang dan sedetik kemudian alisnya mengerut dengan mulut yang terbuka lebar.
“Haaakkksss! Aduh sakit!”
Fei Chen mengelus wajah Luo Rou dan membenamkan tubuhnya lebih dalam lagi hingga dia melihat darah tanda pecahnya mahkota Luo Rou yang telah dijaga selama ini oleh wanita paruh baya itu.
“Terimakasih sayang...” Fei Chen mencium bibir Luo Rou saat wanita paruh baya itu menangis.
Elusan tangan Fei Chen yang menghapus air matanya membuat Luo Rou tenang. Namun dia tidak pernah menyangka jika Fei Chen akan merenggut keperawanannya.
“Perih, Chen‘er...” keluh Luo Rou karena merasakan tubuhnya penuh.
Fei Chen menatap wajah cantik itu dan berbisik lembut, “Tahan sebentar Bibi... Aku akan memasukannya lebih dalam lagi...”
Luo Rou menggelengkan kepalanya lemah dan meringis kesakitan saat Fei Chen membenamkan tubuhnya lebih dalam memasuki rongga lembah surgawi miliknya.
Sementara Fei Chen merasakan miliknya di cengkeraman sangat erat sehingga membuatnya ingin bergerak diatas tubuh wanita paruh baya tersebut, Luo Rou justru merasakan sangat sakit dicelah pahanya karena seperti ditusuk kayu besar.
Beberapa menit kemudian buliran air mata Luo Rou pecah seiring gerakan yang dilakukan Fei Chen diatas tubuhnya. Fei Chen terus mengukung tubuh Luo Rou penuh kelembutan dan membuat tubuh Luo Rou mulai ramah menerima dirinya.
Akhirnya erangan yang saling bersahutan memenuhi kamar Luo Rou. Keindahan yang Luo Rou rasakan membuatnya lupa bahwa pria yang merenggut kesuciannya adalah Fei Chen.
Hingga tengah malam tiba, pekikan Luo Rou menggema diiringi erangan Fei Chen. Luo Rou memeluk erat Fei Chen saat pemuda itu menghujamkan tubuhnya sedalam mungkin menyemburkan benih-benih cintanya pada rahim Luo Rou.
Nafas keduanya tidak beraturan dengan tubuh yang saling memeluk satu sama lain. Namun selang beberapa saat tangisan Luo Rou pecah karena menyesali perbuatannya membiarkan Fei Chen merenggut kesuciannya.
“Bibi...”
“Pergi! Biarkan aku sendiri!” Luo Rou berteriak histeris dan membuat Fei Chen memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut.
“Aku tidak akan pergi, aku akan bertanggung jawab. Maaf, apa aku menyakitimu?” Fei Chen justru memeluk tubuh Luo Rou dari samping dan tidur seranjang dengan wanita paruh baya tersebut.
“Bibi, jangan menangis sayang...”
Luo Rou mulai mengendurkan perlawanannya karena perlakuan hangat Fei Chen. Akhirnya kedua insan manusia berbeda usia itu tertidur pulas menikmati perasaan hangat dan nikmat yang menerpa tubuh mereka.
Saat pagi tiba, Fei Chen terbarung lebih dulu dan melihat Luo Rou tertidur lemas sambil memeluk tubuhnya. Wajahnya sembab akibat perbuatannya.
‘Apa aku bermimpi semalam? Aku tidak pernah menyangka akan melakukan itu dengan Bibi...’ Batin Fei Chen dipenuhi perasaan bersalah namun dia tidak menyesal sedikitpun.
Justru Fei Chen semakin yakin menjadikan Luo Rou sebagai istrinya yang kesebelas.
“Emmm... Bau busuk apa ini?” Luo Rou terbangun dengan sulit. Dia melihat tubuhnya dan tubuh Fei Chen di penuh cairan hitam.
“Bibi, sekarang kutukanku lenyap...” Fei Chen bisa merasakan keuntungan melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang dengan Luo Rou sang pemilik Tubuh Dewi Bulan.
Benang Qi dalam tubuhnya meningkat pesat sedangkan Luo Rou melihat gambaran tentang kehidupan Fei Chen mulai dari kecil sampai sekarang membuat wanita itu semakin membuka hatinya pada pemuda yang dia anggap sebagai anaknya sendiri.
“Bibi, mari kita mandi...” Fei Chen tersenyum dan mengangkat tubuh Luo Rou.
“Chen‘er, biarkan Bibi mandi sendiri...” ucap Luo Rou malu-malu sambil menutupi dadanya.
“Tidak, aku ingin kita mandi berdua Bibi,” jawab Fei Chen.
Fei Chen tersenyum tipis saat keperkasaannya kembali menegang karena melihat ekspresi malu Luo Rou.
Didalam kamar mandi erangan Luo Rou kembali terdengar sebelum akhirnya keheningan memenuhi Aula Pedang Bunga.