
PPFC 39 - Tian Zhou
Semenjak kepergian Feng Lao, Fei Chen selalu menghabiskan waktunya untuk berlatih berbeda dengan Jia Li yang mengatur waktunya untuk berlatih dan pergi menghilangkan kejenuhan dengan berjalan mengelilingi Lembah Pedang.
Luo Rou yang melihat Fei Chen terlalu fokus berlatih memberi peringatan padanya agar lebih santai.
“Bibi Luo, sebenarnya apa hubunganmu dengan Guru?” Fei Chen menghampiri Luo Rou dan bertanya karena Luo Rou terlihat seperti anak dari Feng Lao.
“Apa kau penasaran, Chen‘er? Aku tidak menyangka kau tertarik dengan masa laluku.” Luo Rou tertawa kecil dan menutup mulutnya yang memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi menggunakan telapak tangannya.
“Tidak, aku sama sekali tidak penasaran.” Luo Rou berhenti tertawa kecil mendengar jawaban Fei Chen.
“Sini duduk.” Luo Rou memberi tanda agar Fei Chen duduk disampingnya, Fei Chen pun mengikuti dan duduk disamping Luo Rou.
“Chen‘er! ” Luo Rou mencubit gemas pipi Fei Chen.
“Aku adalah anak dari kenalan Partriak. Mending Ibuku meninggal setelah melahirkan diriku dan Ayahku meninggal saat aku berusia tujuh belas tahun. Semenjak kepergian Ayahku, aku dirawat Patriark. Bagiku dia adalah sosok ayah pengganti.” Sangat singkat Luo Rou memberitahu soal dirinya.
“Apa sudah cukup, Chen‘er?” Luo Rou tersenyum ramah. Sebenarnya Luo Rou masih mengalami frustasi karena kematian Feng Xinrui, satu-satunya pelarian dirinya untuk tetap melanjutkan hidup karena Feng Xinrui pernah mengatakan pada dirinya jika Jia Li bagaikan anak kita berdua.
Beban Luo Rou sedikit terangkan setelah menceritakan sedikit tentang dirinya pada Fei Chen.
“Sudah cukup, Bibi Luo.” Fei Chen bangkit dan kembali berlatih. Melihat itu Luo Rou menggelengkan kepalanya.
Selesai berlatih, Fei Chen selalu mengobrol dengan Kucing Manis melalui telepati. Banyak informasi yang Fei Chen ketahui seputar Lembah Pedang berkat Kucing Manis yang mengisi kegiatannya dengan menguping pembicaraan anggota Lembah Pedang.
Pada awalnya Kucing Manis ataupun Pedang Gila tidak ingin membantu terlalu jauh, namun tanpa sadar keduanya membantu Fei Chen lebih jauh tanpa mereka sadari.
Bahkan Fei Chen mengetahui nama orang yang membunuh mendiang Ayah Luo Rou adalah orang-orang dari Sekte Iblis Buas yakni bawahan Raja Iblis Buas terkuatnya yang bernama Hung Shinji, Cao Zhao dan He Ce.
Selain itu Fei Chen mengetahui akal busuk Qie Xumao yang berambisi merebut posisi Feng Lao sebagai Patriark Lembah Pedang. Tetapi kemampuan Qie Xumao jauh dibawah Feng Lao bahkan secara mengejutkan kemampuan Qie Xumao kurang lebih sama seperti dirinya.
Mengingat perkataan Luo Rou agar dirinya lebih bersantai akhirnya Fei Chen memutuskan untuk pergi berjalan-jalan.
Dalam sekejap diluar Paviliun Pedang Langit menjadi sangat ramai karena sosok Fei Chen yang tidak pernah keluar kediaman memutuskan untuk pergi keluar. Para gadis terlihat mengantri menyapa Fei Chen.
Akhirnya Fei Chen memilih pergi dengan kecepatan tinggi dan pergi menuju tempat yang sepi.
‘Kau sangat populer dikalangan perempuan. Parasmu memang tampan, Chen.’ Kucing Manis memuji Fei Chen.
“Tetapi bagiku mereka semua menyebalkan.” Fei Chen justru merasa kesal dengan teriakan histeris para gadis kecil dan muda yang umurnya berkisar dari sepuluh sampai tujuh belas tahun.
Saat Fei Chen terus berjalan dia menemukan dirinya berada di dekat sungai. Fei Chen menikmati suara gemercik air dan menatap pohon kelapa.
“Laoji! Tindakanmu ini keterlaluan!”
Fei Chen yang sedang menikmati sejuknya angin dikejutkan dengan suara pertengkaran pemuda. Fei Chen menoleh kearah sumber suara dan melihat pemuda berumur lima belas tahun yang sebaya dengan Jia Li terkapar ditanah.
Diatas pemuda itu terlihat sosok Qie Laoji yang merupakan anak dari Qie Xumao. Fei Chen mengetahui Qie Laoji telah mencapai Pendekar Jiwa Tahap Menengah dan itu membuatnya menjadi pendekar paling jenius di Lembah Pedang bahkan Qie Laoji termasuk dalam kandidat juara Turnamen Harimau Yin mengingat usianya masih enam belas tahun.
Sementara itu pemuda malang yang sebaya dengan Jia Li bernama Tian Zhou dan merupakan anak dari salah satu Tetua Lembah Pedang bernama Tian Hu.
Kemampuan Tian Zhou dibawah Qie Laoji dan Jia Li yakni Pendekar Raja Tahap Akhir. Alasan mengapa Qie Laoji menyiksa Tian Zhou karena pemuda itu mewakili Lembah Pedang di Turnamen Harimau Yin. Sudah dipastikan Qie Laoji dan Jia Li mewakili sekte termasuk Tian Zhou.
Qie Laoji tidak terima karena menurutnya Tian Zhou akan mempermalukan sekte dan alasan terbesarnya karena dia ingin lebih dekat dengan Jia Li jika Tian Zhou tidak ikut mewakili Lembah Pedang di ajang Turnamen Harimau Yin.
“Tian Zhou, lebih kau memundurkan diri! Jika tidak, aku akan melumpuhkanmu secara paksa!” Kali ini Qie Laoji terlihat tidak main-main.
“Kau...” Mata Tian Zhou mendelik tajam, “Aku tidak akan mundur! Karena aku ingin membuat kedua orang tuaku bangga!”
“Sampah sepertimu banyak bicara juga!” Saat Qie Laoji hendak mengarahkan pukulannya yang mengandung tenaga dalam kearah titik meridian Tian Zhou, tangannya dicengkeram dan suara anak muda berumur tiga belas tahun terdengar.
“Bukankah ini berlebihan? Lagipula kalian masih satu sekte kenapa berkelahi?” Fei Chen menahan pukulan tangan Qie Laoji dengan sangat santai.
“Kau! Jangan menghalangiku! Kau juga hanyalah seorang sampah...” Saat Qie Laoji berteriak keras dan mencoba melepaskan tangannya, dia terkejut karena cengkeraman Fei Chen sangatlah kuat dan membuatnya tercekat.
“Ada apa?” Fei Chen menatap dingin Qie Laoji.
“Lepasakan tanganku!” Qie Laoji memberontak namun cengkeraman tangan Fei Chen sangatlah kuat dan membuatnya kesakitan.
Akhirnya Qie Laoji menarik pedangnya menggunakan tangannya yang lain lalu mengayunkannya secara cepat kearah leher Fei Chen.
“Sepertinya kau telah bersiap untuk mati karena mengayunkan pedangmu kearahku. Ingat, benda yang kau pegang dan ayunkan padaku bukanlah mainan.” Fei Chen terlihat tetap tenang saat pedang Qie Laoji hendak menyentuh lehernya.
“Marilah! Kau terlalu banyak bicara- Ugh!” Mata Qie Laoji melebar saat Fei Chen memukul perutnya dan menghindari tebasan pedangnya dengan sangat cepat.
Sedetik kemudian Fei Chen mencengkeram tangan kanan Qie Laoji dan hendak mematahkannya.
“Sepertinya aku harus memberimu pelajaran...”
“Cukup!”
Fei Chen tidak melanjutkan pergerakannya untuk mematahkan tangan kanan Qie Laoji saat Tian Zhou berteriak dan menghampirinya.
“Ini hanyalah perkelahian biasa, kau tidak perlu sampai mematahkan tangannya. Jika kau melakukan itu, kau akan sama sepertinya. Selain itu akan merepotkan jika pertengkaran ini diketahui para Tetua.” Tian Zhou menenangkan Fei Chen.
“Hmmm...” Fei Chen melepaskan cengkeramannya.
‘Sebenarnya aku tidak ingin terlibat, tetapi orang ini mengatakan hal yang membuatku ingin membantunya. Apa karena dia mengatakan ingin membuat kedua orang tuanya bangga?’ Fei Chen menghela nafas ringan sebelum kembali melanjutkan perjalanannya untuk mengelilingi Lembah Pedang.
‘Aku akan mengingat penghinaan ini!’ Qie Laoji menahan rasa malu dan dendam, dia bangkit dan segera pergi meninggalkan Fei Chen dan Tian Zhou.
“Aku akan membuat perhitunganmu denganmu, sampah!” Qie Laoji menatap Fei Chen penuh kebencian sebelum kembali ke Paviliun Pedang Bulan.
Sementara itu Tian Zhou hanya bisa menggelengkan kepalanya. Saat menoleh, dia menemukan Fei Chen sudah berada didepan cukup jauh.
“Tunggu! Siapa namamu? Kau telah menolonngku dan aku harus mengetahu orang yang menolongku?!” Tian Zhou berlari mengejar Fei Chen.
“Siapa namamu?”
Fei Chen menoleh kebelakang dan melihat Tian Zhou.
“Fei... Chen...”
Fei Chen dengan sikapnya yang tidak peduli kembali berjalan, sementara Tian Zhou mengikutinya dan bercerita seputar Qie Laoji dan Turnamen Harimau Yin.
“Saudara Fei, mau mampir kerumahku? Kebetulan Ibuku membuat rebusan daging sapi. Sangat disayangkan jika makanan itu tidak habis karena Ayahku melakukan misi.” Tian Zhou merasa telah akrab dengan Fei Chen, berbeda dengan Fei Chen yang hanya menjadi pendengar yang baik dan tidak peduli.
“Dirumahku ada Saudari Jia. Dia sangat menyukai masakan Ibuku.” Mendengar perkataan terakhir Tian Zhou membuat Fei Chen tertarik.
“Apa kau tertarik? Baiklah, kita pergi ke Paviliun Pedang Matahari.”
Tian Zhou mengajak Fei Chen menuju Paviliun Pedang Matahari.
‘Chen, kau sangat tidak pandai bergaul dan daritadi hanya diam dan terlihat sok keren.’ Kucing Manis mengeledek melalui telepati.
“Berisik!” Fei Chen tanpa sadar berbicara tanpa melalui telepati membuat dirinya sendiri terkejut bahkan Tian Zhou.
“Kenapa... tiba-tiba berteriak?” Tian Zhou cukup hati-hati dalam berbicara karena nada tinggi Fei Chen barusan.
“Tidak.” Fei Chen kebingungan, sekilas dia melihat di seberang sungai ada beberapa anak yang sedang berlatih bela diri dan beberapa gadis yang sedang membeli makanan yang berderet di pinggir sungai.
“Aku sedikit trauma dengan gerombolan perempuan. Saat aku melihat kesana tanpa sadar aku merasa risih dan berteriak.” Fei Chen beralasan.
Tian Zhou menghela nafas panjang, “Pasti berat. Bisa dibilang kau sangat populer Saudara Fei. Kau menyaingi Saudara Laoji.”
Fei Chen hanya diam dan tidak menunjukkan senyum saat Tian Zhou menceritakan tentang dirinya yang selalu menjadi bahan perbincangan dikalangan perempuan berusia sepuluh sampai tujuh belas tahun.