Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 284 - Lantai 2 Reruntuhan Dewi Iblis


PPFC 284 - Lantai 2 Reruntuhan Dewi Iblis


Fei Chen Xi Taohua memasuki lantai kedua bagian terdalam dari Reruntuhan Dewi Iblis. Didalam lantai tersebut Fei Chen menemukan banyak jebakan namun dengan mudah Fei Chen menghancurkan setiap serangan jebakan tersebut.


Mulai dari ledakan yang dia redam dan sabitan angin yang dia tahan hingga akhirnya Fei Chen dan Xi Taohua sampai di sebuah puing-puing bangunan yang luas.


“Chen‘er, maaf aku hanya menjadi beban.” Xi Taohua berkata ekspresi lemas dan nada bersalah.


“Ya, kau hanya menjadi beban. Tapi bukankah ada hal yang bisa kau lakukan?” Fei Chen menjawab dengan ekspresi datar dan membuat Xi Taohua kesal sendiri.


“Seharusnya kau mengatakan aku tidak menjadi beban untukmu bocah bodoh.” Xi Taohua mencubit perut Fei Chen dan membuat pemuda itu menahan tangannya.


“Diam Bibi Xi. Kau kebelakang dan jangan menjauh dariku.” Fei Chen merasakan samar-samar sebuah aura yang sama seperti di lantai sebelumnya.


Xi Taohua mengangguk dan segera kebelakang Fei Chen. Tak lama hembusan angin besar menerpa tubuh keduanya, Fei Chen membuat pelindung tak kasat mata karena menyadari hembusan angin itu adalah angin yang tajam bahkan bisa memotong bagian tubuh.


Xi Taohua terkejut melihat bebatuan terbelah karena terkena hembusan angin yang baru saja menerpa tubuhnya. Jika bukan karena Fei Chen mungkin tubuhnya sudah terbelah menjadi dua bagian mengingat kondisinya yang tidak dapat menggunakan tenaga dalam kembali.


“Terimakasih Chen‘er...” gumam Xi Taohua lirih.


“Aku akan melapisi tubuhmu dengan auraku.” Fei Chen berkata dengan nada tenang dan melepaskan aura tubuhnya sebelum berjalan menjauh dari Xi Taohua.


Fei Chen menajamkan indera penglihatannya dan menemukan sebuah gubuk yang didalamnya terdapat tubuh Hua Ruyun sedang berbaring dan tidak sadarkan diri.


“Aku menemukannya,” ucap Fei Chen sebelum hembusan angin menerpa tubuhnya dan bahkan lebih kencang dari sebelumnya.


Lalu hembusan angin itu berubah menjadi badai sebelum menghilangkan dan muncul bayangan dirinya kembali. Kali ini Fei Chen harus berhadapan dengan bayangan tubuhnya sendiri yang memiliki kemampuan angin dan bisa disebut sebagai Klon Angin.


“Angin ya? Sepertinya aku tidak bisa menggunakan kekuatan Raja Neraka disini. Walaupun bisa itu akan membuat kerusakan besar. Beruntung aku telah melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang sehingga semua unsur aku bisa gunakan walaupun api yang paling dominan.” Setelah berkata demikian Fei Chen menatap Klon Angin yang menciptakan sebuah pedang dengan aura tubuhnya.


Lalu Klon Angin mulai mengayunkan pedangnya dari kejauhan sambil berusaha mendekat. Tebasan yang membentuk sabit angin itu sangat tajam dan membelah bebatuan serta puing-puing bangunan dengan mudah.


Fei Chen melompat dan menghindar lalu melepaskan aura tubuhnya. Seketika aura berwarna hijau muda berkumpul disekitar tubuhnya sebelum memadat di dalam Pedang Raja Neraka.


‘Sial, lagi-lagi harus melawan diri sendiri!’ umpat Fei Chen dalam hati saat dirinya sudah saling berhadapan dengan Klon Api.


Trang!!!


Dua tebasan yang dipenuhi aura berwarna hijau muda bersentuhan. Saat kedua pedang mereka bersentuhan, keduanya langsung memainkan pedangnya dengan begitu lincah.


Melawan diri sendiri membuat Fei Chen tersenyum lebar saat mengetahui betapa indahnya Klon Angin bergerak. Gerakan keduanya sama persis seolah-olah Fei Chen harus melawan orang yang sama melakukan gerakan dengannya.


Klon Angin berhasil membuat Fei Chen kagum setelah dapat mengimbangi permainan pedangnya. Nampak Fei Chen dan Klon Angin melakukan pertukaran serangan dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya pergerakan Fei Chen meningkat pesat.


“Kau lengah!” Fei Chen menghindari tebasan Klon Angin dan melepaskan satu tebasan yang memotong tangan kanan Klon Angin.


Dengan cepat Fei Chen kembali mengayunkan pedangnya hendak memotong leher Klon Angin. Namun tebasannya itu berhenti karena rasanya sangat aneh saat harus memenggal kepala sendiri.


Saat Fei Chen berpikir, Klon Angin melepaskan tendangan yang masuk ke ulu hati Fei Chen. Beruntung aura tubuh dan pernafasan Fei Chen kuat dan membuatnya mundur beberapa langkah.


“Cih!” Fei Chen mendecakkan lidahnya penuh kekesalan dan memutarkan tubuhnya menciptakan sebuah tebasan besar yang menjadi badai.


Tubuh Klon Angin terseret dan terhempas keatas lalu terbelah menjadi bagian-bagian kecil sebelum menghilang seperti tertiup angin.


“Kau terlalu kejam membunuh dirimu sendiri Chen‘er.” Komentar Xi Taohua sambil mendekati Fei Chen yang mengibaskan pedangnya dan menyarungkannya secara perlahan.


“Sungguh menyebalkan ketika harus berhadapan dengan dirimu sendiri.” Fei Chen menanggapi kesal.


“Tetapi jika diriku yang menghadapi bayanganku sendiri mungkin aku akan kesusahan,” ujar Xi Taohua.


Wanita itu justru kagum pada Fei Chen yang dapat bersikap tenang dan bertarung dengan segala ketenangannya melawan bayangan dirinya sendiri.


“Itu... Bukankah itu.. Ini tidak mungkin...” Xi Taohua terkejut melihat pusaran angin kecil yang berwarna hijau muda sebelum membentuk bayangan dirinya.


Fei Chen tersenyum mengejek, “Sama persis.” Mata Fei Chen memandang lekuk tubuh Xi Taohua dan membandingkannya dengan Klon Angin Xi Taohua.


“Chen‘er! Matamu!” Xi Taohua memukul punggung Fei Chen dan membuat pemuda itu menggelengkan kepalanya.


“Bibi Xi mundurlah,” ucap Fei Chen dan Xi Taohua mundur beberapa langkah dari Fei Chen.


“Chen‘er, kau mau apa?” Xi Taohua bertanya saat melihat tangan Fei Chen mulai menarik pedangnya.


Fei Chen tidak menjawab melainkan mengayunkan pedangnya memotong tubuh Xi Taohua menjadi dua bagian.


“Kya! Chen‘er! Apa yang kau lakukan? Kau memotong tubuhku hah?!” Saat melihat Klon Angin bayangan dirinya terpotong dan lenyap, Xi Taohua berteriak histeris.


Fei Chen menoleh dan tersenyum tipis, “Aku memotong bayangan mu bukan dirimu.”


“Tetapi tetap saja kau tega memotong tubuhku! Aku adalah wanita dan kau tega memotongnya!” Xi Taohua memprotes tindakan Fei Chen.


“Aku tidak akan memotong tubuhmu yang asli. Aku ini masih waras. Pria bodoh yang hanya akan membunuhmu, Bibi Xi.” Fei Chen berdecak pelan dan menjawab.


Seketika Xi Taohua bengong dengan wajah bersemu merah.


“Apa maksudmu Chen‘er?” tanya Xi Taohua penasaran.


“Tidak ada. Sebaiknya kita bergegas.” Fei Chen menjawab singkat dan mengabaikan.


Melihat Fei Chen yang memalingkan wajahnya membuat jantung Xi Taohua berdegup kencang. Xi Taohua ingin menggoda Fei Chen lebih jauh lagi namun pemuda itu sudah berjalan menuju gubuk dan membangunkan Hua Ruyun.


Xi Taohua ikut membangunkan Hua Ruyun. Saat Hua Ruyue terbangun, wanita itu terkejut melihat Xi Taohua dan Fei Chen.


“Sepertinya aku terlalu lama tertidur...” Hua Ruyun bergumam pelan sebelum tersenyum kecut saat menyadari kondisi tubuhnya.


“Apa-apa ini? Aku tidak bisa lagi menjadi seorang pendekar...” Ekspresi penuh penyesalan itu membuat Fei Chen bertanya.


“Kalian berdua bisa kembali menjadi seorang pendekar. Apa kalian mau?”


Hua Ruyun langsung menoleh ke arah Fei Chen begitu juga dengan Xi Taohua.


“Menjadi seorang pendekar? Bagaimana caranya Chen‘er? Apa kau akan menyembuhkan kami sama seperti sebelumnya?” Hua Ruyun bertanya.


“Aku tidak keberatan Chen‘er jika kau menyembuhkan kami seperti sebelumnya. Jadi kapan kita melakukannya?” Xi Taohua juga bertanya dengan suara seperti wanita dewasa menjahili seorang bocah.


Fei Chen tersenyum untuk sesaat sebelum menghela nafas karena reaksi keduanya. Dengan tenang Fei Chen menjelaskan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang pada Xi Taohua dan Hua Ruyun.


Seketika wajah kedua wanita dewasa dan sudah matang itu memerah padam. Fei Chen segera berdiri dan menatap sebuah gua.


“Chen‘er, bagaimana bisa kau menjelaskan hal seintim itu dengan tenang?” Xi Taohua memalingkan wajahnya dan ingin menyembunyikan semu merah merona yang memenuhi pipinya.


“Itu... Aku tidak bisa menjawabnya sekarang... Itu sangat memalukan...” Hua Ruyun menggelengkan kepalanya saat tidak sengaja memikirkan bagaimana dirinya dan Fei Chen bertarung hebat diatas ranjang.


“Kalian berdua adalah tanggung jawabku. Bukan kalian berdua saja melainkan kalian semua bersembilan jadi aku akan menjaga kalian.” Fei Chen berjalan meninggalkan Xi Taohua dan Hua Ruyun setelah berkata demikian.


Nampak Xi Taohua dan Hua Ruyun semakin salah tingkah mendengar ucapan Fei Chen. Kedua wanita itu segera menyusul Fei Chen yang berdiri didepan gua.


“Baiklah, saatnya kita bertiga memasuki lantai yang lebih dalam...” Fei Chen menatap tajam gua di depannya sebelum melangkahkan untuk memasukinya.


Fei Chen berhasil melewati lantai kedua bagian terdalam dari Reruntuhan Dewi Iblis dan sekarang Fei Chen bersama Xi Taohua dan Hua Ruyun bergerak menuju lantai ketiga bagian terdalam dari Reruntuhan Dewi Iblis.