
PPFC 190 - Air Mata Liu Xianlin
Fei Chen terbangun dan hanya tertidur dua jam. Beberapa jam sebelumnya merupakan kedua kalinya dia mencoba hal yang baru.
Dalam satu ranjang yang mampu menampung tujuh orang itu terlihat tiga wanita yang terbaring lemah dan tertidur pulas.
Fei Chen melirik Liu Xianlin yang ada di sampingnya. Wanita itu tidur menyamping dan memunggunginya. Melihat pinggang yang menggoda dan tubuh ramping yang mulus itu, namun bongkahan padat itu jelas memanjakan mata. Fei Chen tersenyum jahil dan mendekati istri keduanya itu.
“Emmm... Chen‘gege... Ssshhh...” lenguh Liu Xianlin yang langsung tersadar saat merasakan pusaka tumpul yang masuk ke dalam inti tubuhnya.
Liu Xianlin masih lemas dan tidak menyangka Fei Chen akan melakukan hal ini padanya. Wanita itu menutup mulutnya menggunakan telapak tangan agar tidak mendesah. Tubuhnya bergerak kedepan dan kebelakang seiring gerakan Fei Chen.
“Kamu bangun sayang?” Fei Chen berbisik mesra sambil meremas kuat gunung kembarnya.
“Mmmmppphhh...” Liu Xianlin menggelengkan kepalanya namun Fei Chen hanya tersenyum dan memberikan kecupan lembut di pipinya.
“Sssshhhh... Ughhh.” Liu Xianlin sudah berusaha sebisanya untuk tidak mendesah namun semua ini terlalu nikmat untuk dia tahan hingga akhirnya tubuhnya bergetar hebat.
Fei Chen tidak membiarkan Liu Xianlin beristirahat karena dirinya akan mencapai pelepasan. Inti Liu Xianlin semakin mencengkeram erat miliknya dan membuat Fei Chen menindih tubuh wanita itu.
“Sssshhhh... Chen‘gege sudah-” Fei Chen membungkam mulut Liu Xianlin membuat wanita mendelik tidak percaya.
Fei Chen melepaskan ciumannya dan menghentakkan tubuhnya lebih dalam membuat Liu Xianlin memekik.
“Aduh! Akh! Emmmm...” Kembali Liu Xianlin menutup mulutnya karena tekanan tubuh Fei Chen semakin dalam.
“Tunggu-”
Liu Xianlin terlihat ingin mengatakan sesuatu namun semua terlambat karena tekanan Fei Chen pada tubuhnya terlalu nikmat. Bukannya mengatakan sesuatu, Liu Xianlin malah akan berteriak.
“Lin‘er, sebentar lagi aku sampai sayang...” Fei Chen menutup mulut Liu Xianlin menggunakan tangan kanannya dan menggerakkan tubuhnya lebih cepat.
“Mmmmppphhh!” Liu Xianlin kembali mendelik saat merasakan milik Fei Chen semakin keras didalam inti tubuhnya. Matanya menatap Fei Chen tidak percaya karena pemuda itu membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan, sesekali dia melirik kesamping untuk menengok keadaan Su Xiulan dan Jia Li, semua ini membuatnya merasakan sensasi lain yang nikmat.
“Ugh!” Fei Chen menghujamkan tubuhnya sedalam mungkin dan melakukan pelepasan didalam mengingat sebelumnya dia melakukan pelepasan di perut Liu Xianlin dan Jia Li.
Mata Fei Chen terpejam menikmati kenikmatan yang baru saja dia dapatkan. Saat membuka mata dia melihat Liu Xianlin menangis.
“Lin‘er?” Fei Chen merasa bersalah dan langsung membaringkan tubuhnya kesamping memeluk Liu Xianlin.
Nafas Liu Xianlin terengah-engah dan wajahnya bersemu merah, sedangkan air matanya mengalir dengan sendirinya.
“Aku sedang dalam masa subur makanya tadi aku menyetujui usulan Xiuxiu... Tetapi sekarang terlambat...” Liu Xianlin terengah-engah mengatakan itu dan Fei Chen menyeka air matanya lalu tersenyum hangat.
“Aku kau tidak ingin aku mengeluarkannya didalam?” Fei Chen mengelus perut Liu Xianlin dan mengecup singkat bibir ranum itu.
“Maaf, sepertinya aku menyakitimu...” suara lirih Fei Chen membuat Liu Xianlin menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Aku hanya merasa begitu bahagia karena berharap bisa memiliki anak denganmu. Chen‘gege, bisa kita melakukannya lagi? Kau boleh mengeluarkannya di dalam sepuasmu...”
Liu Xianlin membuka lebar kedua pahanya dan membuat Fei Chen mengukung tubuhnya. Liu Xianlin memekik saat Fei Chen menghujam tubuhnya cepat dan dalam dengan tempo yang bergantian terkadang lembut dan terkadang kasar.
“Aaaahhh... Pelan-”
Liu Xianlin menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Mencoba berbicara justru memekik. Akhirnya Liu Xianlin pasrah dan mulai hanyut dalam kenikmatan itu.
“Uuugghhh... Sssshhhh...”
Liu Xianlin memejamkan matanya saat dirinya mencapai pelepasan. Tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk bernafas, Liu Xianlin hanya menurut saat Fei Chen memintanya untuk berbalik. Dari belakang Fei Chen memegang pinggul indah istrinyai itu.
“Lin‘er...” Fei Chen menahan nafas saat Liu Xianlin membenamkan setengah badannya karena terlalu lelah sedangkan wanita itu mengangkat pinggulnya ke atas seperti mengatakan pada Fei Chen bahwa tubuhnya ini adalah miliknya.
Menyaksikan lekukan indah tubuh istri keduanya dan punggung mulus yang dipenuhi keringat itu membuat gairah Fei Chen terbakar.
“Ah... Milikmu semakin sempit Lin‘er.” Fei Chen meringis menahan nikmat.
“Aaaahhhggg... Pelan-pelan Chen‘gege.” Tubuh Liu Xianlin tersentak dan gemetaran.
Fei Chen memeluk dada Liu Xianlin dan membuat wanita itu mendesahh hebat.
“Emmmm... Sssshhhh... Mmmmppphhh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Liu Xianlin saat berusaha menutup mulutnya agar tidak mendesah.
Suara badan mereka berdua yang saling membentur syahdu membuat Su Xiulan dan Jia Li terbangun. Keduanya membiarkan kedua insan itu menikmati pergumulan panas itu. Tak lama Fei Chen mengerang hebat dan menghentakkan tubuhnya semakin kuat membuat setengah badan Liu Xianlin terbenam diranjang hanya menyisakan pinggulnya saja yang diremas dan ditampar Fei Chen tepat pada bongkahan padat indah itu.
“Lin‘er!”
“Aaaahhh... Ahhh...” desah Liu Xianlin lepas saat Fei Chen menghujamkan tubuhnya dalam dan menindih badannya.
Liu Xianlin merasakan perutnya penuh dan dia bisa merasakan Fei Chen masih melakukan gerakan-gerakan ringan menikmati pelepasannya.
Keduanya mengatur nafas bersama sebelum Liu Xianlin berbaring memunggungi Fei Chen yang memeluk perutnya dari samping.
“Semoga saja benihku bisa membuatmu hamil Lin‘er...” Fei Chen mengelus perut Liu Xianlin dan membuat wanita itu tersenyum.
“Anak nakal, kau ingin menghamiliku hihi...” ucap Liu Xianlin sambil menggoyangkan badannya.
“Jangan menggodaku. Kau membuatnya mengeras kembali...” Fei Chen meremas gunung kembar Liu Xianlin dan menggesekkan miliknya.
“Sudah Chen‘gege... Aku lelah...” Liu Xianlin tertawa lirih sebelum akhirnya dia tertidur pulas. Fei Chen hanya tersenyum lalu keluar kamar dengan senyuman penuh isyarat pada seorang gadis.